Tampilkan postingan dengan label Mudzakaroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mudzakaroh. Tampilkan semua postingan
Selasa, Februari 12, 2019
Minggu, Februari 10, 2019
Memahami Jiwa ini
MA'RIFATUNNAFSI ( TAHU DIRI )
Anda tentu mengenal, paling tidak, pernah mendengar nama Imam Al-Ghazali. Nama lengkapnya adalah Hujjatu al-Islam Muhammad bin Muhammad, Zainuddin, Abu Hamid al-Tusi al-Ghazali (450 – 505 H). Hasil karya beliau yang terkenal ialah kitab Ihya Ulumiddin yang isinya mencakup ilmu akidah, fiqih, falsafah, akhlak dan tasawuf. Kebanyakkan hasil-hasil karya Imam Al-Ghazali menyangkut bidang falsafah. Di samping yang sangat popular terutama di Indonesia, hasil karya beliau antara lain Al-Munqizh min adh-Dhalal, Mizanu al-Amal, Tahafut al-Falasifah, Hidayatu as-Salikin, Jawahiru al-Quran, Minhaju al-Abidin, dan Kimiyyatu as-Sa’adah.
Dalam kesempatan kali ini penulis tertarik untuk mengaji kitab beliau yang disebutkan terakhir, yakniKimiyyatu as-Sa’adah dengan harapan dapat menjadi wasilah (sarana) pembelajaran diri penulis sendiri di tengah-tengah kehidupan dengan berbagai dinamikanya saat ini. Dari judul aslinya Kimiyyatu as-Sa’adah lalu penulis gubah menjadi Mengenal Anasir Kebahagiaan Imam Al-Ghazali.
Untuk pengajian kali ini penulis fokuskan pada satu hal, yakni tentang “Tahu Diri”. Apa yang dimaksud dengan “Tahu diri”? Bagaimana cara agar kita tahu diri ? Jawabannya dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab beliau yang sedang penulis jadikan bahan pengajian ini.
Tahu Diri
Imam Al-Ghazali mengatakan :
اعلم أن مفتاح معرفة الله تعالى هو معرفة النفس، كما قال سبحانه وتعالى: (سَنُريهِم آياتِنا في الآفاقِ وَفي أَنفُسِهِم حَتّى يَتَبَيَّنَ لَهُم أَنَّهُ الحَقُّ).
“Ketahuilah bahwasanya kunci pengetahuan (ma’rifah) kepada Allah Ta’ala adalah pengetahuan (ma’rifah) tentang diri sebagaimana yang firman Allah swt : ‘Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar’ “ (QS. Fushshilat, 41 : 53)
Kemudian beliau mengutip suatu ungkapan yang cukup popular di kalangan ulama terutama di kalangan shufi :
من عرف نفسه فقد عرف ربه.
“Siapa yang tahu akan dirinya sendiri sungguh ia tahu akan Tuhannya”.
Terlepas perdebatan ulama tentang ungkapan tersebut hadits atau bukan yang penting dalam konteks pengajian ini adalah memahami maksudnya bukan secara harfiah. Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam kitabnya Hulyatu al-Auliya’ jauh-jauh hari telah menjelaskan :
وسئل سهل عن قوله: من عرف نفسه فقد عرف ربه. قال: من عرف نفسه لربه عرف ربه لنفسه. (حلية الأولياء – ج 4 / ص 350)
“Sahal pernah ditanya tentang ungkapannya :’Siapa yang tahu akan dirinya sendiri sungguh ia tahu akan Tuhannya.’ Jawabnya, ’Siapa yang tahu akan dirinya sendiri untuk Tuhannya, maka Tuhannya tahu untuk diri orang itu sendiri’ “.
Selanjutnya Imam Al-Ghazali mengatakan :
وليس شيء أقرب إليك من نفسك، فإذا لم تعرف نفسك، فكيف تعرف ربك؟ فإن قلت: إني أعرف نفسي! فإنما تعرف الجسم الظاهر، الذي هو اليد والرجل والرأس والجثة، ولا تعرف ما في باطنك من الأمر الذي به إذا غضبت طلبت الخصومة، وإذا اشتهيت طلبت النكاح، وإذا جعت طلبت الأكل، وإذا عطشت طلبت الشرب. والدواب تشاركك في هذه الأمور.
“Tidak ada sesuatu yang lebih dekat kepada anda daripada diri anda sendiri. Jika anda tidak tahu akan diri anda sendiri, bagaimana anda bisa tahu tentang Tuhan anda. Jika anda berkata, ‘Saya tahu diri saya’, berarti yang anda ketahui fisik luar tubuh anda, yakni tangan, kaki, kepala dan anggauta-anggauta badan lainnya. Namun anda tidak tahu anggauta-anggauta tubuh yang ada di dalam perut anda. Anda hanyalah sekedar jika marah marah-marah kepada seseorang, untuk memenuhi syahwat anda kawin, jika lapar anda makan, jika haus anda minum. Jika demikian samalah anda dengan binatang?”
فالواجب عليك أن تعرف نفسك بالحقيقة؛ حتى تدرك أي شيء أنت، ومن أين جئت إلى هذا المكان، ولأي شيء خلقت، وبأي شيء سعادتك، وبأي شيء شقاؤك.
“Anda perlu tahu akan diri anda sendiri yang sejatinya (tidak sekedar hanya tahu fisik luar anda), sehingga anda mengenal siapa anda, dari mana anda datang sampai di tempat (dunia) ini, untuk apa anda diciptakan, serta di manakah letak kebahagiaan anda dan kesedihan anda yang sejatinya ?”
وقد جمعت في باطنك صفات: منها صفات البهائم، ومنها صفات السباع، ومنها صفات الشياطين، ومنها صفات الملائكة، فالروح حقيقة جوهرك وغيرها غريب منك، وعارية عندك.
“Sungguh dalam diri anda terdapat sifat-sifat : sebagian sifat-sifat binatang, sebagian yang lain sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Sedangkan ruh merupakan esensi yang hakiki diri anda sebagai sesuatu yang asing serta sebagai pinjaman bagi anda.”
فالواجب عليك أن تعرف هذا، وتعرف أن لكل واحد من هؤلاء غذاء وسعادة. فإن سعادة البهائم في الأكل، والشرب، والنوم، والنكاح، فإن كنت منهم فاجتهد في أعمال الجوف والفرج.
“Untuk itu anda perlu tahu akan hal ini. Anda ketahui bahwa masing-masing dari semua itu terdapat makanan dan kebahagiaan. Kebahagiaan binatang terletak pada makan, minum, tidur, dan kawin. Jika anda seperti itu kerja keraslah untuk memenuhi nafsu kerongkongan dan alat kelamin.”
وسعادة السباع في الضرب، والفتك. وسعادة الشياطين في المكر، والشر، والحيل. فإن كنت منهم فاشتغل باشتغالهم. وسعادة الملائكة في مشاهدة جمال الحضرة الربوبية، وليس للغضب والشهوة إليهم طريق. فإن كنت من جوهر الملائكة، فاجتهد في معرفة أصلك؛ حتى تعرف الطريق إلى الحضرة الإلهية، وتبلغ إلى مشاهدة الجلال والجمال، وتخلص نفسك من قيد الشهوة والغضب،
“Kebahagiaan binatang buas terletak pada penerkaman dan pemangsaan. Kebahagiaan setan terletak pada trik, kelicikan, dan kejahatan. Jika anda seperti itu sibukkanlah diri anda seperti kesibukannya. Kebahagiaan malaikat untuk menyaksikan keindahan Ketuhanan yang kekal, dan bagi mereka terbebas dari suatu amarah dan nafsu. Jika yang dominan pada diri anda adalah esensi malaikat, cobalah bersungguh-sungguh untuk mengetahui asal usul diri anda, sehingga anda mengetahui cara untuk menuju ke hadirat Ilahi, terbimbing menuju kesaksian kemuliaan dan keindahan-Nya, membersihkan diri anda dari perangkap nafsu syahwat dan amarah.”
وتعلم أن هذه الصفات لأي شيء ركبت فيك؛ فما خلقها الله تعالى لتكون أسيرها، ولكن خلقها حتى تكون أسرك، وتسخرها للسفر الذي قدامك، وتجعل إحداها مركبك، والأخرى سلاحك؛ حتى تصيد بها سعادتك. فإذا بلغت غرضك فقاوم بها تحت قدميك، وارجع إلى مكان سعادتك.
“Anda pun perlu tahu dari sifat-sifat yang mana yang ada pada diri anda, mestikah apa yang diciptakan oleh Allah Ta’ala menjadi perangkap dan anda pun terperangkap olehnya, ataukah anda yang mesti menundukkannya untuk suatu perjalanan sehingga yang satu menjadi kendaraan dan yang lainnya sebagai senjata, sehingga anda menemukan kebahagiaan anda. Jika anda telah sampai pada tujuan anda maka anda berdiri tegar dan kembalilah pada tempat kebahagiaan anda.”
Demikian penjelasan Imam Al-Ghazali, bahwa kunci pengetahuan kepada Allah adalah pengetahuan akan diri sendiri (tahu diri). Tahu diri bukanlah tahu anggauta tubuh, seperti wajah, tangan, kaki, dan sebagainya, karena semua ini hanyalah bagian diri yang berbentuk fisik (jasad).
Manusia perlu tahu akan diri sendiri yang sejatinya, sehingga mengenal siapa diri ini, dari mana datang sampai di dunia ini, untuk apa diciptakan, serta di manakah letak kebahagiaan yang sejatinya. Kemudian, dalam diri manusia terdapat tiga anasir sifat : sifat binatang, sifat setan, dan sifat malaikat. Di samping itu ada ruh sebagai pinjaman yang manusia tidak tahu apa sejatinya ruh itu.
Jika kebahagian hanyalah makan, minum, tidur, dan memenuhi kebutuhan nafsu syahwat berarti samalah dengan binatang. Jika kebahagiaan hanyalah kelihaian melakukan trik-trik, kelicikan, dan kejahatan berarti samalah dengan setan. Sedang mencapai kesaksian (musyahadah) keindahan Ilahiah merupakan kebahagiaan malaikat.
Manusia bukanlah malaikat yang terbebas dari suatu amarah dan nafsu. Namun manusia dapat bersungguh-sungguh untuk tidak terperangkap oleh amarah dan nafsu itu dengan mengetahui asal usul diri manusia sendiri, sehingga mengetahui cara untuk menuju ke hadirat Ilahi, terbimbing menuju kesaksian kemuliaan dan keindahan-Nya, membersihkan diri dari perangkap nafsu syahwat dan amarah.
Bagaimana cara agar tahu diri ?
Jawaban pertanyaan ini terdapat dalam penjelasan Imam Al-Ghazali selanjutnya :
إذا شئت أن تعرف نفسك، فاعلم أنك من شيئين: الأول: هذا القلب، والثاني: يسمى النفس والروح. والنفس هو القلب الذي تعرفه بعين الباطن، وحقيقتك الباطن؛ لأن الجسد أول وهو الآخر، والنفس آخر وهو الأول. ويسمى قلباً. وليس القلب هذه القطعة اللحمية التي في الصدر من الجانب الأيسر؛ لأنه يكون في الدواب والموتى. وكل شيء تبصره بعين الظاهر فهو من هذا العالم الذي يسمى عالم الشهادة.
“Apabila anda menghendaki agar tahu diri anda, sadarilah bahwa diri anda –di samping terdiri dari bentuk fisik (jasad) juga- terdiri dari dua anasir. Pertama, qalbu (hati). Kedua, apa yang disebut dengan jiwa atau ruh. Jiwa atau ruh adalah hati yang dapat diindera dengan mata batin dan diri anda yang hakiki adalah batin, karena fisik (jasad) adalah yang awal dan ia sebagai yang akhir. Sedangkan jiwa atau ruh adalah yang akhir namun ia sebagai yang awal, dan disebutlah dengan qalbu. Namun qalbu ini bukanlah sepotong daging yang ada di dalam sisi kiri dada, karena qalbu yang seperti ini ada pada binatang dan mati. Setiap sesuatu yang dapat diindera dengan kasat mata adalah termasuk alam yang disebut dengan alam nyata (alam syahadah)”
وأما حقيقة القلب، فليس من هذا العالم، لكنه من عالم الغيب؛ فهو في هذا العالم غريب، وتلك القطعة اللحمية مركبة، وكل أعضاء الجسد عساكره وهو الملك، ومعرفة الله ومشاهدة جمال الحضرة صفاته، والتكليف عليه، والخطاب معه، وله الثواب، وعليه العقاب، والسعادة والشقاء تلحقانه، والروح الحيواني في كل شيء تبعه ومعه.
Sejatinya qalbu itu bukanlah termasuk alam nyata ini, namun ia termasuk alam ghaib di luar alam nyata ini, dan yang berbentuk susunan daging. Setiap anggauta jasad adalah polisinya, sedang qalbu yang sejati sebagai raja. Lalu ma’rifatullah dan musyahadah keindahan dan keagungan sifat-Nya, tugas kewajiban yang dititahkan-Nya, pahala dan siksa, kebahagiaan dan kesedihan sebagai akibat akhirnya. Sedangkan ruh hewani dalam segala hal adalah pengikut dan pelengkap belaka.
ومعرفة حقيقته، ومعرفة صفاته، مفتاح معرفة الله سبحانه وتعال؛ فعليك بالمجاهدة حتى تعرفه؛ لأنه جوهر عزيز من جنس جوهر الملائكة، وأصل معدنه من الحضرة الإلهية، من ذلك المكان جاء، وإلى ذلك المكان يعود.
Ma’rifat terhadap hakikat qalbu dan sifatnya merupakan kunci ma’rifat kepada Allah swt. Maka engkau dituntut untuk bermujahadah (jihad) hingga mengenal-Nya, karena qalbu merupakan jenis anasir malaikah yang berasal dari keagungan dan kemuliaan Ilahiah, dari sanalah datangnya da ke sana pula kembalinya.
Kesimpulan
- Kunci kebahagiaan hidup adalah ma’rifatullah dan kunci ma’rifatullah adalah ma’rifatunnafsi.
- Manusia terdiri dari anasir jasad dan jiwa/ruh (qalbiah) yang harus bermujahadah menuju musyahadah ke hadirat Allah swt.
- Mujahadah dan musyahadah inilah yang membedakan manusia dengan binatang.
Ma'rifatulloh ( siaran tunda )
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya,
hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh Azza wa Jalla )”
[Fâthir/35:28].
تفكروا في الخلق ولا تفكروا
في الخالق
Sayap – sayap
Ma’rifatullah
Maksud sayap – sayap
ma’rifatullah adalah aktifitas – aktifitas jiwa keimanan yang akan menerbangkan
seseorang menuju Allah SWT
1. Al Khauf -
Takut pada Allah
Menurut
Imam Al Ghazaly Rahimahullah “khauf” (rasa takut) dan “Raja”
(rasa optimis) merupakan dua sayap yang keduanya merupakan
kendaraan untuk melewati seberat apapun rintangan yang ia (hamba) temui
dalam proses menuju akhirat.
Khauf inilah yang
senantiasa mendorong dirinya lari menuju Allah tanpa istirahat.
2. Al Raja – Penuh
Harap kepada Allah
“Barang siapa yang
berharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan
oleh Allah itu pasti datang” QS. al – Ankabut (29) : 5
Dalam hal ini ‘raja’
bisa di bagi tiga harapan, yaitu :
Pertama:
Harapanya
orang yang beramal shaleh, berbuat jasa dan kebaikan bahwa setiap amalnya akan memperoleh
balasan kebaikan dari Allah SWT, baik di dunia demikianpun diakhirat
Kedua:
Harapannya
orang yang berbuar dosa, kemudian bertobat dan tobatnya di terima oleh Allah SWT, dosa –
dosanya diampuni di bebaskan dari tuntutan hukuman masuk ke neraka.
(Astaghfirullah . . . haladziiim !)
Ketiga :
Raja’
(harapan) dari orang yang tertipu oleh dirinya sendiri istiqomah berbuat
dosa dengan perkataan : “aku berharap dan bermohon ampunan (maghfirah) dari
Allah SWT“
3. Mahabbatullah –
Cinta kepada Allah
Mencintai Allah ; Dicintai Allah dan Mencintai orang – orang yang
cinta kepada Allah.
Mencintai Allah SWT dengan qalbu, ucapan dan tindakan akan
melahirkan kecintaan Allah pada hamba – Nya yang cinta tanpa batasan.
4. As Syauuq – Rindu
kepada Allah
Kerinduan kepada Allah akan mendorong jiwanya
bermesraan dengan Allah dan berasyik masyuk , temannya yang terdekat
bermesra – mesraan hanyalah Allah SWT
OBYEK
MA’RIFATULLOH
Seseorang dianggap
ma’rifatullah (mengenal Allah) jika ia telah mengenali
1. asma’ (nama) Allah
2. sifat Allah dan
3. af’al (perbuatan) Allah, yang
terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam kehidupan alam ini.
kemudian dengan bekal pengetahuan itu, ia menunjukkan :
1. sikap shidq (benar) dalam ber
-mu’amalah (bekerja) dengan Allah,
2. ikhlas dalam niatan dan tujuan
hidup yakni hanya karena Allah,
3. Wara’ / pembersihan diri dari
akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang membuatnya bertentangan dengan
kehendak Allah SWT
4. sabar/menerima pemberlakuan
hukum/aturan Allah atas dirinya
5. berda’wah/ mengajak orang lain
mengikuti kebenaran agamanya
6. membersihkan da’wahnya itu dari
pengaruh perasaan, logika dan subyektifitas siapapun. Ia hanya menyerukan
ajaran agama seperti yang pernah diajarkan Rasulullah SAW.
Sabtu, Februari 09, 2019
yuk belajar umroh
RUKUN UMROH
1. ihram.
memakai pakaian ihram, bagi laki laki adalah terdiri dari 2 lembar kain yang tidak berjahit. 1 helai melilit mulai pinggang sampai bawah lutut. sehelai lagi diselempangkan mulai dari bahu kiri kebawah ketiak kanan. Jamaah umroh laki-laki tidak boleh mengenakan celana, kemeja, tutup kepala dan juga tidak boleh menutup mata kaki. Penjelasan hal dilarang selama umroh ada di bagian bawah artikel.
Bagi wanita pakaian ihram lebih bebas tetapi disunatkan yang berwarna putih, yang penting menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan mereka, yang penting tidak ada jahitan. Lengan baju mesti sepanjang pergelangan tangan Kerudung yang digunakan harus panjang, tidak jarang serta menutupi bagian Dada Baju, gaun atau rok harus sepanjang Tumit Memakai Kaos kaki Sepatu sebaiknya tidak bertumit dan terbuat dari karet.
2.Tawaf
adalah mengelilingi Baitulloh/kabah 7 kali
3.Sai.
Sai dilakukan dari sudut shafa menuju Marwah (dihitung satu kali) dan dari Marwah kembali ke Shafa dihitung satu kali.
Semuanya dilakukan tujuh kali putaran. Sai berawal dari shafa dan akan terakhir di marwah.
4.. Tahalul.
Tahalul artinya bercukur sebagian dari rambut di kepala. biasanya dikerjakan setelah selesai sai, tanda bahawa kita telah sempurna melakukan umroh.
5.Tertib
Larangan saat berihrom :
Bagi laki-laki:
1. Berpakaian yang berjahit
2. Memakai sepatu yang menutupi mata kaki
3. Menutup kepala yang sifatnya melekat di kepala seperti topi (payung diperbolehkan)
Bagi wanita:
1. Berkaus tangan (menutuptelapak tangan)
2. Menutup muka (bercadar)
Bagi laki-laki dan wanita:
1. Memakai wangi-wangian (kecuali yang dipakai sebelum ihrom dan sudah kering sebelum berpakaian ihrom)
2. Memotong kuku dan bercukur atau mencabut bulu badan
3. Memburu atau menganggu atau membunuh hewan dengan cara apapun
4. Memotong atau merusak pepohonan tanah haram
5. Meminang, menikah atau menikahkan serta bersaksi
6. Bercumbu atau berjimak suami isytri
7. Mencaci, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor
#Rahasia rizki, " apa yang kau cari "
Memahami Konsep Rezeki
Berikut beberapa kesimpulan mengenai konsep rizki :
Pertama, semua makhluk – yang berakal maupun yang tidak berakal – rizkinya telah dijamin oleh Allah.
Ada banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya, firman Allah,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya. (QS. Hud: 6).
Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia.
ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ
“Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893).
Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya.
Ibnu Katsir menceritakan,A da seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in – karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini,
اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل
“Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510)
Catatan:
Prinsip ini tidak mengajarkan agar kita berpangku tangan dan diam tidak bekerja. Dengan anggapan semua telah ditaqdirkan. Ada beberapa alasan untuk membantah pendapat ini,
[1] Benar rizki manusia telah ditaqdirkan, tapi taqdir itu rahasia Allah, yang tidak kita ketahui. Sementara sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak boleh dijadikan alasan.
[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tawakkal tidak menghilangkan ikhtiyar (usaha mencari rizki). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Imam Ahmad menjelaskan: “Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki.”
Kedua, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. Sehingga siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah sampai dia mati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)
Syaikh Shalih al-Maghamisi dalam sebuah ceramahnya menceritakan ada seorang lelaki jatuh ke dalam sumur. Ia pun berteriak minta tolong. lalu berhasil mengeluarkan orang itu dari sumur dalam keadaan selamat. Sesorang menyodorkan kepadanya segelas susu untuk diminimumnya dan menenangkann keadaanya.
Setelah tenang orang-orang bertanya,”Bagaimana bisa Anda jatuh ke dalam sumur.?”
Mulailah orang itu bercerita, lalu ia berdiri di bibir sumur untuk mempraktikan kronologi saat ia terjatuh kedalam sumur.Qodarullah, tanpa di sengaja orang itu terjatuj lagi ke dalam sumur dan akhirnya mati.
Orang itu diselamatkan oleh Allah karena masih tersisa jatah rezekinya di dunia, yakni satu gelas susu untuknya. Maka setelah jatah rezeki disempurnakan untuknya, ia terjatuh di tempat yang sama kemudian mati.
Ketiga, hakekat dari rizki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rizki kita.
Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya).
Karena itu, sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya.
Orang yang punya 1 ton beras, dia hanya akan makan sepiring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja. Orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati 1 ruangan saja…
Padahal semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah..
Demikian, Allahu a’lam.
Jumat, Februari 01, 2019
Kamis, Januari 31, 2019
Kamis, Desember 20, 2018
Tentang Tawakkal

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“ Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran:159)
Matan Hadits yang artinya :
“ Dari Ibnu Abbas ra, “Hasbunallah wani’mal Wakil’ kalimat yang dibaca oleh Nabi Ibrahim as ketika dilempar ke dalam api, dan juga telah dibaca oleh Nabi Muhammad SAW ketika diprovokasi oleh orang kafir, supaya takut kepada mereka ; ‘sesungguhnya manusia telah mengumpulkan segala kekuatannya untuk menghancurkan kalian, maka takutlah kamu dan janganlah melawan, tapi orang-orang beriman bertambah imannya dan membaca, Hasbunallah wa ni’mal Wakil (cukuplah Allah yang mencukupi kami dan cukuplah Allah sebagai tempat kami bertawakal.” (HR. Bukhari)
Iftitah
Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan
antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa
tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh
orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Rasulullah saw. pernah bertanya kepada
Malaikat Jibril, penyampai wahyu Allah, “Apakah tawakal itu?” Ia menjawab,
“Tawakal adalah yakin pada realita bahwa makhluk bukanlah pembawa keuntungan,
bukan pula pembawa kerugian, tidak memberi, tidak pula menghalangi, dan tidak
menggantungkan harapan kepada makhluk apapun. Ketika seorang hamba telah yakin
demikian, ia tidak melakukan pekerjaan kecuali untuk Allah, dan tidak mempunyai
harapan kecuali dari-Nya. Inilah hakikat dari tawakal.”
Diantara firman-Nya tentang tawakal ketika
disandingkan dengan orang-orang beriman, “… dan bertaqwalah kepada Allah,
dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al
Ma’idah: 11).
Dari Umar bin Khattab
ra berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sekiranya kalian
benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya,
sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung
diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di
sore hari dalam keadaan kenyang (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Makna Dan Hakekat Tawakal
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata
‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan.
(Munawir, 1984 : 1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan,
mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal didefinisikan
oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama. Diantara
definisi mereka adalah:
1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.Tawakal
merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan
oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang
dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan
sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt :
337)
2. Ibnu Qoyim al-Jauzi“Tawakal
merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan
segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya
kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan
bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap
melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada
sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.”
(Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was
Sunnah, 1975 : 254)
Sebagian ulama salafuna shaleh lainnya memberikan
komentar beragam mengenai pernak pernik takawal, diantaranya adalah ungkapan :
Jika dikatakan bahwa Dinul Islam secara umum meliputi dua aspek; yaitu
al-isti’anah (meminta pertolongan Allah) dan al-inabah (taubat kepada Allah),
maka tawakal merupakan setengah dari komponen Dinul Islam. Karena tawakal
merupakan repleksi dari al-isti’anah (meminta pertolongan hanya kepada Allah
SWT) : Seseorang yang hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah,
menyandarkan dirinya hanya kepada-Nya, maka pada hakekatnya ia bertawakal
kepada Allah.
3.Salafus saleh lainnya, Sahl
bin Abdillah al-Tasattiri juga mengemukakan bahwa ‘ilmu merupakan jalan menuju
penghambaan kepada Allah. Penghambaan merupakan jalan menuju kewara’an (sifat
menjauhkan diri dari segala kemaksiatan). Kewaraan merupakan jalan mmenuju pada
kezuhudan. Dan kezuhudan merupakan jalan menuju pada ketawakalan. (Al-Jauzi, tt
: 336).
4.Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
“Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam
rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal
yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”
5.Imam al-Ghazali merumuskan
definisi tawakkal sebagai berikut, “Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah
swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu
kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan
hati yang tenteram.
Syarat-Syarat Tawakal
Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas
diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan
semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat
terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:
1. Bertawakal
hanya kepada Allah saja. Allah
berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan
kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan
bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang
kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).
2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan
semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba
hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Allah berfirman,“Mengapa kami
tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami,
dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu
lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal
itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12).
3. Yakin bahwa Allah akan
merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan
niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman, “Dan
barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS.
Ath-Thalaq: 3).
4. Tidak putus asa dan
patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya
dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Allah berfirman, “Jika
mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku,
tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb
yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”(QS. At-taubah: 129).
Dampak positif tawakal
1. Perwujudan dari keimanan dan kepasrahan kepada
Allah SWT.
2. Mendukung usaha perdamaian antar sesama manusia.
3. Menguatkan jiwa dalam menghadapi permasalahan hidup.
4. Mendatangkan ketenangan jiwa.
5. Menumbuhkan kesadaran bahwa sesuatu kembali kepada Allah.
6. Mendatangkan kepuasan batin.
7. Membiasakan diri berlaku tawakal
8. Berusaha sabar ketika sudah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi masih
2. Mendukung usaha perdamaian antar sesama manusia.
3. Menguatkan jiwa dalam menghadapi permasalahan hidup.
4. Mendatangkan ketenangan jiwa.
5. Menumbuhkan kesadaran bahwa sesuatu kembali kepada Allah.
6. Mendatangkan kepuasan batin.
7. Membiasakan diri berlaku tawakal
8. Berusaha sabar ketika sudah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi masih
Ikhtitam
Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan
iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan
hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan
tempat berlindung selain-Nya. Jika kita yakin bahwa Allah ta’ala yang
menguasai hidup dan mati kita, mengapa kita menyandarkan hati kita kepada
makhluk yang lemah yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kepada kita?
قُل لَّن
يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah! Kami sekali-kali tidak akan ditimpa
musibat, kecuali apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kami; dan orang-orang
yang beriman hendaklah bertawakal sepenuhnya kepada Allah itu. At-Taubah:51
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan
kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS.
al-Ma’idah: 23).
Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban
menyandarkan hati semata-mata kepada Allah, karena tawakal adalah termasuk
ibadah.
Senin, Desember 17, 2018
TENTANG SYUKUR

Syukur adalah suatu perbuatan yang bertujuan untuk berterima kasih atas segala limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Maka selalu bersyukur jika kita diberi suatu nikmat Allah SWT, tidak memandang nikmat itu banyak atau sedikit. Karena orang yang selalu bersyukur niscaya Allah SWT akan menambah kenikmatan tersebut.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ibrahim : 7 yang artinya: “Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku kata Allah, niscaya aku akan menambah nikmat itu. Akan tetapi barang siapa yang kufur atas nikmat Ku kata Allah, maka azab ku sangatlah pedih.”
Rasa syukur yang hakiki di bangun di atas lima pondasi utama dan barang siapa yang dapat merealisasikannya, maka dia adalah seseorang yang bersyukur dengan benar. Lima pondasi tersebut adalah:
- Merendahnya orang yang bersyukur di hadapan yang dia syukuri (Allah SWT)
- Kecintaan terhadap Sang Pemberi nikmat (Allah SWT)
- Mengakui seluruh kenikmatan yang Dia berikan
- Senantiasa memuji-Nya atas segala nikmat tersebut
- Tidak menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT
Dengan demikian syukur merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati senantiasa mencintai Nya, anggota badan taat kepada-Nya serta lisan tak henti-henti menyebut nama-Nya.
Kenali Nikmat Allah
Dalam bersyukur ada sesuatu yang penting yaitu mengenali nikmat Allah. Sesungguhnya mengetahui dan mengenal nikmat, merupakan di antara rukun terbesar dalam bersyukur.
Karena tidak mungkin seseorang dapat bersyukur, jika dia merasa tidak mendapatkan nikmat. Maka mengenal nikmat merupakan jalan untuk mengenal Sang Pemberi Nikmat, dan kalau seseorang tahu siapa yang memberikan nikmat, maka dia akan mencintainya, sehingga cinta itu akan melahirkan kesyukuran dan terima kasih.
Nikmat Allah tidaklah terbatas pada makanan dan minuman belaka, namun seluruh gerak dan desah nafas kita adalah nikmat yang tak terhingga yang tidak kita ketahui nilainya.
Abu Darda’ mengatakan, “Barang siapa yang tidak mengetahui nikmat Allah selain makan dan minumnya, maka berarti pengetahuannya picik dan azabnya telah menimpa.”
Maka dikatakan, bahwa syukur yang bersifat umum adalah syukur terhadap nikmat makanan, minuman, pakaian, perumahan, kesehatan dan kekuatan. Dan syukur yang bersifat khusus adalah syukur atas tauhid, keimanan dan kekuatan hati.
Pokok-pokok Nikmat
Nikmat Allah amatlah banyak, tidak terhingga dan tak berbilang, namun ada di antaranya yang sangat besar dan pokok yang perlu untuk kita ketahui, yaitu:
Nikmat Islam dan Iman
Demi Allah, inilah nikmat yang terbesar, di mana Allah menjadikan kita sebagai muslim yang bertauhid, bukan Yahudi yang dimurkai dan Nashara yang tersesat, yang mengatakan Allah mempunyai anak, yakni Uzair Ibnullah dan Isa Ibnullah, Maha Suci Allah dari sifat yang tak layak ini.
Ibnu Uyainah (Sufyan) berkata, “Tidak ada satu nikmat pun dari Allah untuk hamba-Nya yang lebih utama, daripada diajarkannya kalimat la ilaha illAllah.”
Penangguhan dan Tutup Dosa
Ini juga merupakan nikmat yang sangat besar, karena jika setiap kita melakukan dosa lalu Allah langsung membalasnya, maka tentu seluruh alam ini telah binasa.
Akan tetapi Allah memberikan kesempatan dan penangguhan kepada kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah SWT berfirman,
“Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (QS Luqman : 20)
Berkata Muqatil, “Adapun (nikmat) yang lahir (nampak) adalah Islam, sedangkan yang batin adalah tutup dari Allah atas kemaksiatan kalian.”
Nikmat Peringatan
Peringatan adalah termasuk nikmat yang besar, dan ini merupakan salah satu ketelitian Allah agar hamba-Nya tidak terlena.
Tanpa kita duga terkadang ada seseorang yang datang meminta makan atau sesuatu kepada kita, yang dengan perantaraan orang yang sedang kesusahan tersebut akan membuat kita ingat terhadap nikmat yang diberikan Allah.
Terbukanya Pintu Taubat
Merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah adalah terbukanya pintu taubat, sebanyak apa pun dosa dan kemaksiatan seorang hamba.
Selagi nafas belum sampai tenggorokan dan selagi matahari belum terbit dari barat, maka pintu taubat selalu terbentang untuk dimasuki oleh siapa saja.
Menjadi Orang Terpilih
Nikmat ini hanya dapat dirasakan oleh orang yang beristiqamah, wara’, dan selalu menghadapkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala serta tidak menoleh kepada yang lain.
Maka Allah menguatkan hatinya ketika fitnah tersebar di sana-sini, meneguhkannya di atas ketaatan ketika orang berpaling darinya.
Allah hiasi hatinya dengan iman dan dijadikan cinta kepadanya, lalu dia benci terhadap kefasikan dan kemaksiatan. Ini termasuk nikmat paling besar yang harus disyukuri dengan sepenuhnya dan dengan sanjungan sebanyak banyaknya.
Kesehatan, Kesejahteraan dan Keselamatan Anggota Badan
Kesehatan, sebagaimana dikata-kan Abu Darda’ Radhiallaahu anhu adalah ibarat raja. Sementara itu Salman al Farisi mengisahkan tentang seorang yang diberi harta melimpah lalu kenikmatan tersebut dicabut, sehingga dia jatuh miskin, namun orang tersebut justru memuji Allah dan menyanjung-Nya.
Maka ada orang kaya lain yang bertanya, “Aku tak tahu, atas apa engkau memuji Allah? Dia menjawab, “Aku memuji-Nya atas sesuatu yang andaikan aku diberi seluruh yang diberikan kepada manusia, maka aku tidak mau menukarnya. Si kaya bertanya, “Apa itu? Dia menjawab, “Apakah engkau tidak memperhatikan penglihatanmu, lisanmu, kedua tangan dan kakimu (kesehatannya)?
Nikmat Harta (Makan, Minum dan Pakaian)
Bakar al Muzani berkata, “Demi Allah aku tidak tahu, mana di antara dua nikmat yang lebih utama atasku dan kalian, apakah nikmat ketika masuk (menelan) ataukah ketika keluar dari kita (membuang)? Berkata Al-Hasan, “Itu adalah kenikmatan makan.”
Aisyah Radhiallaahu anha berkata, “Tidaklah seorang hamba yang meminum air bening, lalu masuk perut dengan lancar tanpa ada gangguan dan keluar lagi dengan lancar, kecuali wajib baginya bersyukur.”
Cara bersyukur
Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Syukur dengan Hati
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
“Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah.” (QS. An-Nahl : 53)
Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan da kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya.
2. Syukur dengan Lisan
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah) Wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah SWT. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah SWT kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.
Al pada kalimat Alhamdulillah berfungsi sebagi istighraq, yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.
Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Allah SWT. Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada Allah SWT. Sebab, Allah adalah pemilik segala kebaikan.
3. Syukur dengan Perbuatan
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya.
Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.
Rasulullah saw menjelaskan bahwa Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya.” [HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr]
Maksud dari hadits di atas adalah bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya.
Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu menampakkan ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat dan sebagainya.
Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-Nya. Allah SWT berfirman:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”(QS. Adh-Dhuha : 11)
4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan
Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan.
Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit.
Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman.
Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan sholat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa.
Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran. Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.















