Resto Ruhani Magetan

Menyajikan menu dan asupan jiwa, agar tidak kelaparan dan kehausan

General Manager sekaligus Barista

Kiprah dakwahnya diabadikan dalam web ini, sebagai kepedulian atas penyajian asupan ruhani

Majelis Kajian Tafsir

Al-Qur'an sebagai sumber utama hukum Islam, mempelajarinya menjadi sangat urgen, sebaik-baik kamu adalah yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya.

Mudarosah Kajian Fiqih

Ilmu Fiqih sebagai referensi tatacara amaliyah ibadah badaniyah, menjadi urgen untuk dipahami agar dapat ber-Islam secara sempurna

Kajian Kitab Minhajul Abidin

Amaliyah jasidah tak akan sempurna tanpa ilmu amaliyah bathiniyah, kajian ini perlu agar ibadah membuahkan karakter terpuji

Tampilkan postingan dengan label Al Fatihah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Fatihah. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 18, 2019

Makata 4- Surah Al-Fatihah (ayat 6-7)

Hasil gambar untuk al fatihah ayat 6-7


Edisi N0: 4 -Desember 2009 M/Dzul Hijjah 1430 H
Surah : al-Fatihah ayat : 6-7
Terjemahannya : (6) ( Ya Allah ) berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus,(7) yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat ( mukmin ), bukan jalannya orang yang Engkau Murkai dan bukan pula jalannya orang yang sesat.

Mukaddimah :
Mayoritas ahli tafsir menyepakati pemaknaan ayat : jalannya orang yang Engkau beri nikmat adalah jalan hidup orang mukmin, dan jalannya orang yang Engkau murkai adalah jalan hidup orang Yahudi, dan jalannya orang yang tersesat adalah jalan hidup orang-orang Nasrani
Penafsiran ini tentu berdasarkan pada dominasi makna kalimah itu sendiri, sehingga " keimanan " merupakan kenikmatan puncak bagi manusia karena merupakan jalan yang dapat membuat bahagia dunia dan akherat, dan nikmat ini tidak semua manusia dianugerahi .
Sedangkan alasan Allah murka adalah karena mereka dengan sengaja menentang ajaran Islam karena merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain.
Adapun ketersesatan yang terjadi adalah sebagai akibat dari kebodohan yang dipuja sehingga menimbulkan fanatisme buta, padahal jalan tersebut berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan Islam.

Bahasan :
Pada ayat 5 surah al-Fatihah telah dijelaskan tentang hak dan kewajiban serta bentuk korelasi ( hubungan ) imbal balik antara Allah Sang Pencipta dan manusia sebagai makhluk ciptaan, yang intisarinya adalah " ketergantungan manusia pada pertolongan Allah secara mutlak ", dan pertolongan yang seharusnya diminta dan diharapkan manusia dari Allah Tuhannya adalah : " Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus "
Dan di dalam mukaddimah telah dijelaskan bahwa " jalan yang lurus " itu adalah jalannya orang-orang yang beriman, yakni cara hidup yang dapat mengakibatkan terciptanya kebahagiaan lahir batin, dunia dan akherat. Hal yang demikian tentunya sulit dinalar dan sulit pula dimasukkan akal, bagi mereka yang hidup tidak menempuh jalan iman. Sebab rata-rata manusia dalam mengorientasikan hidup dan dalam memahami nikmat Allah tentulah selalu memaknainya dengan materi atau kondisi jiwa yang sesuai dengan kehendaknya, dan parahnya lagi banyak yang memaknai keimanan hanyalah sebatas " nasib " yakni jika nasibnya baik ya iman, kalau tidak ya tidak iman. Sungguh naif pemahaman semacam ini.
Padahal kalau nikmat itu hanya dimakanai sebagai jenis dan jumlah materi tertentu, maka betapa banyak manusia yang susah dan sulit mendapatkan kebahagiaan hidup hanya lantaran melimpahnya materi duniawi.
Demikian juga ( yang dianggap ) nikmat-nikmat lain yang bersifat semu dan terbatas hanya dalam lingkup kebendaan, pastilah akan berujung pada : kejemuan, kejenuhan, mencari yang lain, ragu dan bimbang serta terobsesi untuk mendapatkannya secara instan ( tidak mau bersusah payah )....dan apabila telah mendapatkannya, kebanyakan akan berakhir pada : sifat kikir, ujub, riya', hubbud-dun-ya ( cinta dunia ), karohiyatul maut ( takut mati ), dan lupa akhirat.
Sehingga dalam ayat 6 ini dengan jelas disebutkan bahwa seyogyanya manusia itu mohon pertolongan Allah dalam bentuk agar dimudahkan menuju jalan keimanan dan ketakwaan serta diistiqomahkan agar selalu berada dijalan itu, karena sesungguhnya dengan keimanan dan ketakwaan yang kokoh, banyaknya harta benda materi tidak mengakibatkan hilangnya rasa bahagia, tingginya derajat dan jabatan tidak membuat gelisah hidup, namun justru akan mendatangkan ketenangan hati sebagai awal dari tumbuhnya rasa bahagia.
Sebab nilai-nilai yang diajarkan dalam nuansa " iman " ini adalah nilai-nilai luhur yang disampaikan oleh Allah Sang Pencipta manusia, sehingga amat mustahil apabila nilai luhur tersebut tidak diperuntukkan demi kebahagiaan manusia ciptaan-Nya. Ibarat ketertarikan manusia akan kemewahan dunia itu racun penyakit, maka obat penawar racun itu disebut " keimanan dan ketakwaan "
Dan dalam doa " sapu jagad " yang menjadi andalan setiap mukmin, selalu saja doa itu dipanjatkan mengakhiri doa-doa yang lain : " Rabbanaa aatina fid-dun-yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa 'adzaaban-naar " [ Ya Allah, berikanlah kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akherat, dan hindarkan kami dari siksa neraka ] tentu menjadi pemahaman yang amat sempurna bagi kebahagiaan haqiqi sebagai nikmat Allah yang tertinggi adalah " keimanan" dan ketakwaan kepada-Nya saja.
Permintaan pertolongan kepada Allah hendaknya menghindari permintaan jarak dekat yang hanya dapat dinikmati di dunia yang bersifat fana dan akan hancur ini. Bahkan kalau tidak hati-hati, nikmat jangka pendek itu dapat menjerumuskan manusia pada " terget kemurkaan " Allah sebagai akibat kufur nikmat dan menentang nikmat yang hakiki yakni " iman ", sebagaimana yang terjadi pada orang Yahudi, dimana dengan nikmat keunggulan mereka di dunia justru menghantarkan mereka menjadi komunitas yang dimurkai oleh Allah karena " pembangkangan" mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah saw.
Sehingga golongan orang yang dimurkai Allah adalah orang Yahudi yang melawan dan membangkang terhadap kebenaran Islam, yang tentunya "sikap kontra" itu sebagai akibat dari nikmat jangka pendek yang dikaruniakan Allah kepada mereka, bahkan "tindkan melawan" mereka sungguh amat keterlaluan, sebagaimana yang disampaikan di dalam al-Qur'an, bahwa Uzair adalah anak Tuhan, dan hanya merekalah yang berhak menempati syurga dan pengakuan " kesombongan" yang lain yang masih banyak yang mengakibatkan mereka masuk ke dalam kriteria manusia yang dimurkai Allah awt.
Dan sisi inilah yang seyogyanya diminta manusia kepada Allah agar dihindarkan dari " kemurkaan" Allah, sebagai akibat hati nurani yang membangkang bahkan cenderung syirik, dan syare'at yang diubah-ubah semau gue, serta efek tasawwuf yang tidak pernah ada, karena kesombongan.
Dan hal kedua yang seharusnya selalu dimintakan pertolongan dari Allah adalah terhindar dari golongan manusia yang tersesat. Yakni manusia yang karena kebodohan akan ketauhidan, fanatisme yang tanpa dasar dan alasan yang benar, kemudian diyakini dipedomani dan diperjuangkan, lalu mereka tersesat tanpa tahu jalan yang sebenarnya harus ditempuh, untuk menggapai kebahagiaan duniawi dan ukhrowi, lahir dan batin.
Dalam ayat ini, yang dimaksudkan adalah orang-orang Nasrani yang salah memahami tauhid, yang seharusnya ' MENG-ESAKAN " Allah, tapi justru meyakini kelebihan Isa as. Melebihi Tuhan itu sendiri, dengan fanatisme dan pengkultusan yang tanpa dasar kebenaran, dan parahnya lagi hal yang demikian diyakini sebagai " kebenaran mutlak " yang harus dipedomani dan diperjuangkan, sehingga sampai-sampai menafikan golongan lain, bahkan tidak mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Maka pada akhir surah Fatihah ini, Allah menjelaskan tata-cara menggapai kebahagiaan dunia dan akherat, yahni "memohon pertolongan kepadaNya agar dibimbing berjalan diatas jalan kebenaran " keimanan ", dan dihindarkan dari jalannya golongan orang yang dimurkai karena menentang kebenaran Islam, dan juga dihindarkan dari jalannya golongan orang tersesat, akibat kebodohan dan fanatismenya mengambil jalan hidup selain jalan keimanan yang telah dikaruniakan oleh Allah ".

Selasa, Februari 12, 2019

Kajian Tafsir - Surah Al-Fatihah (ayat 5)




Edisi N0: 3-Desember 2009 M/Dzul Hijjah 1430 H

Surah : al-Fatihah ayat : 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Terjemahannya : Hanya kepada-Mu ( ya Allah ) kami menyembah dan hanya kepada-Mu ( pula ) kami mohon pertolongan.

Mukaddimah :
Ayat merupakan bagian pertengahan antara Allah dan manusia, yakni : dalam hal kewajiban dan hak yang terbagi secara seimbang, dengan kata lain adalah : " Kewajiban manusia adalah menyembahAllah, dan haknya adalah mendapatkan/ menerima pertolongan dari-Nya. Dan Kewajiban Allah adalah memberi pertolongan manusia dan hak-Nya adalah disembah ".
Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, penyebutan Surah al-Fatihah sebagai Sab-'ul Matsaani adalah 7 ayat yang mengandung dua bagian secara seimbang antara Allah sebagai Dzat Yang di-Maha-kan dan manusia sebagai hamba. Dan dalam ayat 1 s.d 4 adalah bagian atau hak Allah yang terangkum dalam (1) penyebutan Asma-Nya sebagai pancaran tawakkal, (2) Pemusatan segala pujian sebagai apresiasi syukur, ( 3 ) Pengagungan sifat Rahman dan Rahim serta Pemilik hari qiyamat sebagai pondasi sabar.
Dalam hal kewajiban sebenarnya merupakan hak bagi pihak lain, demikian juga halnya dengan hak, maka tentulah menjadi kewajiban peihak lain, secara seimbang dan saling terkait.

Bahasan :
Dalam memahami ayat ini, perlu penegasan kembali tentang hakekat posisi manusia sebagai hamba/abdi atau pihak yang memiliki ketergantungan luar biasa terhadap " Tuan/ Bendara"nya. Bahkan dalam pengertian sang lebih luas lagi, sesungguhnya manusia " hanyalah merupakan wayang, yang apabila tidak dimainkan oleh sang dalang, maka tak berfungsi apa-apa" karena sebagaimana firman Allah dalam Q.S. ash-Shoffaat: 96, yang artinya : Dan Allah-lah Yang telah menciptakan kamu dan ( menciptakan ) apa-apa yang kamu kerjakan.
Dalam hal ini, ruh sebagai anugerah Allah yang tiada terbanding nilainya dan tak dapat tergantikan dengan yang lain, menjadi karunia satu-satunya penentu, apakah manusia itu " hidup" atau dia telah " mati ", sebab dengan dicabutnya " nikmat ruh " itu dari manusia, maka ia hanyalah sebujur bangkai yang tidak bermakna dan bernilai sama-sekali, oleh sebab itu ketergantungan mutlak manusia kepada Allah sebagai Tuan dan Tuhannya, memberikan karunia lain lagi, selain " ruh" yaitu kesempatan untuk mendapatkan pertolongan darinya secara bebas dan tanpa terikat sama sekali dengan hal-hal selain Allah. Namun pertolongan itu merupakan imbal balik dan keniscayaan dari sebuah perilaku awal, yakni " menyembah-Nya " setulus dan sepenuh hati ( ikhlash ).
Yang dimaksud dengan bebas dab tanpa terikat adalah bahwa kewajiban manusia untuk menyembah Allah tidak terbatasi oleh persayaratan dan tidak menimbulkan efek tertentu bagi Allah, sehingga meskipun manusia secara bersama-sama tidak melakukan "penyembahan" sebagai aktifitas wajibnya saat hidup di dunia, tidak lantas ber-efek pada perubahan status "ke-Ilahi-an" Allah, dan pula tidak disyaratkan dalam penyembahan dengan syarat-syarat tertentu, seperti suku atau bangsa tertentu, tapi seluruh manusia mempunyai kewajiban " menyembah" Allah tersebut secara mutlak. Sebagaimana firman Allah dalam : Q.S. Adz-Dzariyaat : 56, yang artinya : Dan tiadalah Aku ( Allah ) ciptakan jin manusia kecuali untuk menyembah-Ku ( mengabdi pada-Ku).
Meskipun mareka ( manusia ) ada yang tidak menyebah Allah karena mempunyai keyakinan kepada selain-Nya, dan mereka tetap mendapatkan pertolongan, hal itu bukan berarti merusak dan mengotori makna dari ayat ini, namun semata hanya " bentuk tanggungjawab " dan "belas kasihan" Allah kepada mereka selaku Dzat Yang Maha Mencipta, dan ini mempunyai makna yang sangat berbeda denga pertolongan bagi mereka manusia yang menghamba dan mengabdi kepada Allah.
Karena bentuk dan sifat pertolongan-Nya yang juga berbeda. Yakni bahwa kalau terhadap manusia yang tidak mengabdi dan menyembahnya, pertolongan itu hanya bersifat fana selama di dunia sebagai aplikasi sifat " Rahman"nya Allah sebagaimana yang telah dibahas pada edisi sebelumnya, namun pertolongan terhadap manusia yang mengabdi kepada Allah adalah bersifat abadi dan tersambung, yakni dunia dan akherat, padahal telah banyak diterangkan , bahwa hidup yang sesungguhnya bagi manusia adalah " kehidupan di alam akherat, karena keabadiannya. Sedangkan hidup di dunia hanyalah jembatan perantara bagi kehidupan akherat.
Karena " menyembah " merupakan kewajiban utama manusia, maka dalam mewujudkannyapun mencakup segala aspek kehidupan, dan di sinilah sebenarnya makna inti dari " Tauhid " atau mengesakan Allah dalam segala hal, lahir dan batin.
Secara syar'i, bentuk ibadah digolongkan menjadi 2 yang paling utama, yakni :
1. Mahdloh : yakni ibadah yang telah ditetapkan bentuk,jenis dan tata pelaksanaannya dalam paket yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, seperti : shalat, zakat, puasa ramadhan dan haji dll.
2. Ghoiru Mahdloh : yakni jenis ibadah yang tidak terikat, namun orientasinya dikhususkan untuk " mencari ridlo Allah " dan diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan, sejak bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan dalam " tidur" sekalipun, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasul saw, dalam istilah " ihsan " yang jenis terbesarnya ada 99, dan paling besar dan utama urutannya adalah " kalimah thoyyibah : Laa ilaaha illalloh, dan yang terbawah, teringan dan terkecil adalah " ifadatul adzaa 'anith-thuruqaat ( menyingkirkan penghalang jalan ).
Dengan demikian, sebenarnya manusia tidak dapat lepas dalam kehidupannya dari kerangka ibadah atau pengabdian ini. Namun dalam banyak realita justru perkara yang terlihat sepele ini menjadi permasalahan tersendiri, sebab sebuah aktifitas kehidupan itu disebut "ibadah" manakala orientasinya adalah " lillah " hanya untuk Allah, padahal kenyataannya sungguh sulit untuk Mewujudkannya.
Sehingga sebuah aktifitas kehidupan itu dapat dikategorikan sebagai ibadah atau bernilai pengabdian adalah apabila diniatkan dan diorientasikan pelaksanaannya dalam menggapai " ridlo Allah ", yang tentunya harus didasari dengan rasa ikhlas dengan menyebut asma-Nya ( dengan ucapan basmalah ) serta penuh rasa syukur dan sabar )

Intisari :
Ayat 5 surah al-Fatihah ini juga mengandung makna kausalitas ( sebab akibat ) dalam hal kewajiban dan hak, artinya bahwa apabila manusia sebagai makhluk ciptaan Allah secara ikhlas menjalani kehidupannya di dunia ini dalam koridor " kewajiban beribadah " kepada Allah, tentulah segala permintaan pertolongannya akan dikabulkan ( dalam arti : kabul lahir batin dan berdimensi dunia akherat ), namun bila tidak dalam koridor itu, Allah akan tetap memberi pertolongan, namun hanya sebatas bentuk " rahman"nya Allah di dunia saja dan tidak berdimensi lahir batin maupun dunia akherat, mungkin justru akan memperdalam jurang ancaman siksa neraka dengan " sepintas " pertolongan yang diberikan kepadanya tersebut.
Intisari dari ayat 5 ini menegaskan kembali bahwa meski " ibadah " menjadi kewajiban manusia yang harus ditunaikan dan diemban, namun ia juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah yang dapat menyebabkan keselamatannya di dunia dan akherat dan dapat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akherat, lahir dan batin.
Lalu jenis " pertolongan " macam apakah yang dapat menghantar kesuksesan hakiki hidup manusia tersebut, tentu akan dipaparkan pada kajian tafsir berikutnya.
Semoga Allah senantiasa menjadi tujuan kita dalam beraktifitas dalam kehidupan yang fana di dunia ini, dan semoga kita diselamatkan dari godaan " ketersesatan " dari beramal untuk selain-Nya yang mengakibatkan rusaknya pola hidup yang harus kita jalani.
Top of Form

Senin, Februari 11, 2019

Makata 2 - Surah Al-Fatihah (ayat 2-4)



Edisi N0: 2-Desember 2009 M/Dzul Hijjah 1430 H

Surah : al-Fatihah ayat : 2 - 4

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Terjemahannya : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Mukaddimah :

(1) Pada ayat sebelumnya, yakni ” basmalah ” telah dijelaskan bahwa ia merupakan awal terbukanya gerbang menuju ” al_qur’anul Karim” sehingga prasarat agar perjalanan selanjutnya memedomani al_qur’an ini sebagai petunjuk, penjelasan petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, adalah memagari hati dengan keimanan yang kokoh, dan badan jasad dengan syari’at Islam yang istiqomah, agar berbuah perilaku sholeh dalam konteks ihsan / tasawwuf, yakni dengan bertawakkal hanya kepada Allah dalam urusan hati, jasad dan perilaku.
Hal ini sangat penting dan fundamental, sebab jika prasarat ini tidak dipenuhi, maka pengembaraan ke dalam al-Qur’an akan hanya menemukan ” ketersesatan’ karena telah tercampur dengan nafsu manusiawi yang jahat dan kotor.
Kalau al_fatihah merupakan pusat/metropole/dan induk al-Qur’anul Karim, maka hikmah yang dapat dipetik adalah : kita harus melandasi langkah hidup kita dengan ” tawakkal ” kepada Allah semata, sebagaimana intisari doa ketika hendak berpergian..........

Bahasan :

(2) Al-Hamdu artinya puji syukur dari segala puja dan puji..... dan puji sukur ini menurut ulama lebih umum dari terima kasih ( asy-syukru ), karena orang berterima kasih hanya saat menerima pemberiaan yang jumlah dan nilainya tidak begitu besar, namun memuji ( al_hamdu ) merupakan penyifatan sebagai akibat dari watak dan sifat yang ” suka memberi” tanpa pamrih dan tanpa pilih kasih, sehingga peujian tersebut hanya layak dihaturkan kepada Allah, karena tidak satu makhlukpun yang memiliki sifat demikian. Betapa kita saat memberi masih memiliki keinginan atau tendensi-tendensi tertentu, meski tidak terucap, namun dalam relung hati senantiasa ada harapan tersebut,
Dan dalam mewujudakan ” pujian ” hanya untuk Allah itu dapat dilakukan dalam setiap nafas kita, karena memang nikmat Allah tidak pernah terputus dari nafas kita, bahkan ” nafas ” yang kita keluarkan dan masukkan setiap saat adalah pemberian Allah secara Cuma-Cuma, maka sudah selayaknya apabila ” puji syukur ” itu kita haturkan kepada Allah.
Kalau dalam ” basmalah ” hikmah yang diambil adalah ” tawakkal ”, maka di dalam muatan ” hamdalah ” ini adalah ” rasa sukur”, sehingga kalau hidup ini selalu dilandasi tawakkal, lalu syukur, maka akan terasa nikmat dan memebrikan dampak positif bagi kehidupan kita, khususnya terkait pengabdian dan penghambaan kepada Allah.
Dan alasan yang sangat mendasar tentang kenapa manusia harus hanya memuji Allah, karena Allah adalah Robbul ’alamiin Tuhan yang memiliki dan memelihara seluruh alam yang akan dan sudah dilalui oleh manusia.
Kata ” Rabb ” adalah menganduk makna ganda : memiliki ( menguasai ) dan memelihara ( kelangsungan dan kemanfaatannya ), seperti ungkapan ” robbul-bait ” para mufassir memaknainya sebagai ” pemilik rumah yang mutlak kepemilikannya, dan pemelihara rumah itu agar tetap utuh, indah dan bermanfaat, selain juga agar tidak rusak, roboh dan tidak bermanfaat.
Sehingga Rabbul ’aalamiin adalah Dzat yang memiliki secara mutlak seluruh alam, mulai alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam kubur ( barzah ) alam akhirat yang terdiri dari : hisab, mizan dan shiroth ( Perhitungan, timbangan dan menyeberang jembatan shirath ).

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
( 3 ) ayat ini berbunyi : ” Ar-rahmaan Ar-rahiim ” yang artinya sebagaimana telah dibahas pada edisi yang lalu ( perdana ).
Namun dari semua penjelasan itu dapat disimpulkan, bahwa dengan kedua sifat tersebut, yang diambil hikmahnya adalah bahwa segala karunia dan perhatian ( kasih sayang ) Allah hendaknya menjadi fokus perhatian utama dalam menjalani misi kehidupan, agar tidak mudah tergoda dan berpaling dari-Nya, sebab bila hidup ini yang dihadirkan hanyalah sisi ke-tidak nyaman-an atau bukan karunia, serta merasa menghadapi sendiri segala permasalahan atau merasa tidak disayang Allah, maka akan timbul godaan untuk berpaling kepada yang lain, padahal perbuatan semacam ini adalah ” syirik ” ( na’udzubillah ).

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
( 4 ) Berbunyi ” Maaliki Yaumid-diin ” artinya ” Pemilik/penguasa hari akhir/ kiamat ”
Ayat ini ditafsirkan dengan ” kepemilikan secara mutlak” akan ” akhir dari segala kehidupan dunia fana ini, dan menjadi gerbang untuk menuju alam berikutnya. Sehingga dengan kalimat ” pemilik/penguasa” bermakna: Allah-lah yang memiliki gerbang menuju ke alam akhirat, dan Dia pula yang menguasai segala akses menuju kesana. Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa tidak seorang manusia atau makhlukpun yang dibiarkan hidup abadi selamanya di dunia yang bersifat fana ( sementara ) ini. Dan itu artinya bahwa ketika alam dunia ini telah digulung dan dinyatakan berakhir, dengan seruan sangkakala yang ditiup oleh Malaikat Isrofil, para makhluk termasuk manusia ” mau atau tidak mau, suka atau tidak suka ” dan secara dipaksa untuk meneruskan perjalanannya menuju alam akhirat. Dan tidak satupun yang bisa melawan kodrat ini, meskipun seluruh makhluk bersatu untuk merubahnya, namun hal itu tidak akan berhasil, sebab keputusan akhir dari kehidupan dunia ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak dapat diinterfensi dai campuri dan direkayasa.

Dalam hal tanda-tanda akan berakhirnya kehidupan bumi, atau kiamat hanyalah disebutkan sebagiannya saja, oleh Rasulullah saw.

Maka hikmah yang dapat dipetik dari ayat ini adalah :
1. Kehidupan dunia ini pasti akan berakhir, maka orang yang cerdas yakni orang yang beriman tidak akan kepincut dengan gemerlapannya dunia, dia hanya memanfaatkan dunia hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan selama hidup yang tidak terlalu lama ( 60 – 100 tahun atau lebih sedikit ). Dan justru orang mukmin hanya terfokus untuk menyiapkan perbekalan kehidupan di akherat yang maha abadi dan selamanya. Yakni dengan memurnikan serta mengokohkan aqidah dan keimanan yang ada di hati sanubari, serta secara istiqomah dan tumakninah menjalankan syariat Islam secara murni dan konsekwen, serta senantiasa menggali dan melakoni hikmah dari perjalan spiritual hati dan raganya itu dalam bentuk ” perilaku sholeh ” yakni sikap dan sifat yang senantiasa dirindukan oleh para makhluk Allah dan memiliki akses amal baik yang dicatat oleh Roqib.

2. Dengan memahami bahwa tidak ada gerbang lain untuk menuju akherat, dan tidak ada penguasa dan pemilik gerbang itu kecuali Allah swt, maka hikmahnya adalah, sejak di dunia telah mulai membangun akses yang kokoh dengan Allah, yakni menjalankan segala perintah dan menjauhi segala apa yang dilarang, sehingga ia dapat dengan mulus melewati gerbang itu karena sudah memiliki kedekatan dengan Maha Pengusa-nya. Dan tentu kunci-kunci untuk membuka gerbang akherat itu tidak terdapat di dalam hal-hal yang dimurkai Allah, tapi tentunya berada di dalam hal-hal yang disukai-Nya, atau dalam istilah lain adalah mencari kunci gerbang akherat di sumber-sumber hidayah, dan sumber hidayah itu terdapat di dalam : Bait Allah ( masjid ), Al-Qur’anul Karim, Halaqoh, Majelis Taklim, orang-orang mukmin dan segala apa saja dan di mana saja yang dipakai untuk ” dzikir ” kepada Allah.

3. Dengan meyakini bahwa Allah adalah ” Maaliki Yaumiddin ” dan menyadari betapa terbatasnya waktu dan umur, maka hikmahnya adalah hendaknya setiap orang mukmin memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk dapat mencari kunci gerbang akherat sebaik-baiknya, dan dapat mengumpulkan bekal hidup di akherat sebanyak-banyaknya.... dan inilah orientasi ketiga, yakni setelah (1) Tawakkal, (2) Syukur, maka ke (3) nya adalah sabar, yakni sabar dalam menjalankan perintah, dalam menjauhi larangan dan sabar dalam ketaan kepada Allah.





Senin, Februari 04, 2019

Makata 1 - Surah Al-Fatihah (ayat 1)




Tafsir : Surah Al-Fatihah Ayat : 1
a. Pengantar

Disebut dengan " Al-Fatihah " karena posisinya sebagai " pembuka " dari 144 surah yang ada dalam Al-Qur'an, dan ulama ada yang berpendapat : karena Al-Fatihah membuka bacaan dalam sholat ( Al-Musnad ).
Nama lain dari surah ini adalah : (a) Ummul Kitab, menurut Jumhur Ulama, (b) Ummul Qur'an, hadits shohih Tirmidzi (c) Sab-'ul Matsaani, yakni 7 ayat yang maknanya terdiri dari dua, antara Allah dan hambaNya ( manusia ), sebagaimana diterangkan dalam hadits dan di dalam Al-Qur'an Surah Al-Hijr: 87. Dan ada yang menyebut (d) Al-Hamdu, ( e ) Al-Qur'anu, atau bahkan (f) Ash-Sholatu [ dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir ].
Di dalamnya terdiri dari 25 kalimat dan 113 huruf, menurut Bukhori di awal kitab tafsirnya : disebut dengan " fatihah : karena (a) ditulis mengawali mush-haf al-Qur'an (b) dipakai mengawali bacaan di dalam sholat. Dan dijelaskan juga bahwa "al-Fatihah" mengandung makna kandunga al-Qur'an yang tersimpat di dalam surah tersebut. [ Wallohu a'lam ].

b. Basmalah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Basmalah adalah bacaan " Bismillaahir-rahmaanirrahiim ", dimana para ulama berbeda pendapat tentang : apakah basmalah termasuk dalam surah Al-Fatihah apa tidak?... menilik salah satu namanya, yakni "Sab-'ul Matsaani " yang berarti 7 ayat yang terbagi dua bagian, maka basmalah jelas termasuk dalam surah Fatihah, karena bila tidak termasuk maka " Fatihah " hanya terdiri dari 6 ayat, dan nama " sab'ul-Matsani" yang telah dijelaskan di dalam Hadits maupun Al-Qur'an ( al_Hijr:87 ) tidak dapat berlaku lagi. Dan menurut Imam Syafi'i, "basmalah" dibaca bil-jahri atau dengan bersuara pada surah al-Fatihah dan surah-surah lainnya. Dan para sahabat Nabi yang membaca basmalah dengan jahar adalah : Abu Huroiroh, Ibn Umar, Ibnu Abbas, Mu'awiyah, dan menurut Baihaqi : khulafa-urrosyidun ( Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali r.a ) juga membaca dengan jahar.
Basmalah ini beberapa ulama sepakat bahwasanya ia adalah bagian dari surah An-Naml, yang dibakai mengawali membaca surah-surah dalam al_Qur'an kecuali surah " Baro-ah/ at-Taubah ".
Bismillah= para ahli tafsir sepakat memaknainya dengan " aku memulai berbuat baik / beramal sholih dengan nama Allah " . hendaknya sebelum memulai setiap perbuatan baik selalu diawali dengan " basmalah ", karena fadhilahnya yang banyak dan agar dalam melaksanakan perbuatan tersebut selalu berada dalam pengawalan, naungan dan menuju Allah swt.
Maka dalam menjalankan syari'at hendaknya diawali dengan membaca basmalah agar mendapatkan berkah dari Allah, pengawalan, pertolongan untuk menyempurnakan amalan tersebut serta harapan untuk diterima Allah swt.
Dengan bacan basmalah ini, seorang hamba telah mengikrarkan dengan lisan dan dalan hati, bahwa apa yang akan ia kerjakan dari amalan syari'at dan amal sholih mutlak atas kehendak Allah, di mana bacaan ini mengandung dua sikap, yakni "ikhtiar"/usaha dan " tawakkal". Yaitu bahwa ia memulai pekerjaan/amal fisiknya yang merupakan bentuk usaha dan ihtiar, namun ucapan basmalah memberinya pondasi dalam hati untuk tawakkal kepada Allah, bahwa keberhasil dan kegagalan pekerjaan tersebut adalah hak prerogative Allah, sehingga dengan ucapan tersebut, seseorang telah memulai sesuatu pekerjaan dengan mengatas-namakan Allah dengan harapan agar menjadi pendorong saat melewati aral dan rintangan, dan menjadi "kendali" saat menemui kelancaran dan kesuksesan. Dan dengan basmalah tersebut, seseorang akan bersikap " sabar " saat ikhtiar/usaha yang dilakukan menghadapi kegagalan karena Allah, dan akan " bersyukur" saat menemui keberhasilan karena Allah. Ia tidak akan berani bermain-main dalam berbuat dengan mengatasnamakan Allah, sehingga dapat terbebas dari sifat " Hamm dan Huzn/ gundah gulana " saat gagal, dan terhindar dari sifat " takabbur/sombong" kala berhasil.

Ar-Rahman- Ar-Rahiim = adalah dua kata benda yang berasal dari rahmah ( kasih sayang ) dalam bentuk yang sangat.

a. Ar-Rahman = termasuk salah satu dari Asma Allah yang terdiri dari 99 Asma-ul husna, yang menurut Ibnu Jarir, mempunyai arti yang lebih luas dari Ar-Rahim, karena mencakup " rahmah"nya Allah di dunia dan akherat dan meliputi seluruh makhluk tanpa pandang bulu dan membedakan, dengan arti lain bahwa Ar-Rahman adalah apabila diminta maka pasti akan memberi, yakni seluruh makhluk di dunia ini telah menerima karunia Allah tanpa membedakan posisinya sebagai mukmin ataupun sebagai non-mukmin, semuanya mendapatkan bagian karunia Allah dalam takaran yang telah ditentukan dengan standard yang hamper sama. Dari postur tubuh, maka seorang manusia mukmin atau bukan, telah dikarunia mata, hidung, mulut dan anggota tubuh lain secara standar tanpa membeda-bedakan.

Hikmah Ar-Rahman bagi seorang mukmin adalah :

a. Karunia Allah bagi orang mukmin tidak mutlak berdasarkan jumlah, tapi lebih banyak didasarkan pada sisi barokah

b. Karunia yang diberikan kepada orang mukmin, selain sesuai dengan " nasib/bagian"nya juga hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia, dan jangan sampai mengganggu konsentrasinya dalam beribadah kepada Allah, karena " kenikmatan dunia" itu sering menghijab dan menutupi seorang hamba dalam beribadah menyembah Allah dan dalam beramal sholih, karena dijadikan sarana penggoda yang jitu bagi syetan, agar jauh dari Allah. Maka karunia baginya hanyalah " TOMBO PINGIN ".

c. Dalam mempergunakan nikmat karunia tersebut, hendaknya orang mukmin selalu bertanya dalam dirinya : " apakah dengan karunia itu, semakin mendekatkan dirinya kepada Allah, atau sebaliknya". Maka karunia yang barokah adalah " yang membuatnya semakin dekat kepada Allah" bukan sebaliknya

d. Karunia merupakan bahan ujian bagi seorang mukmin : " Innamaa am-waalukum wa aulaadukum fitnah "( sesungguhnya harta benda dan anakmu adalah sumber fitnah/ujian bagimu ). Maka dalam menyikapi karunia tersebut Nabi Sulaiman as. Mengajarkan kepada kita " a asykur am ak-fur " ( apakah aku akan menjadi hamba yang bersyukur ( nikmat ) atau menjadi hamba yang kufur- nikmat ? )
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebuah pengertian sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, bahwa sifat “ Ar-Rahman “ meruakan salah satu sifat Allah yang bersifat umum dan lebih luas dari “ Ar_rahim “.


b. Ar-Rahim = dalam bahasa Indonesia adalah “ Maha Penyayang “, dan sesuai dengan penafsiran para ulama salaf adalah sifat dan isim diantara asmaul husnanya Allah yang hanya ditujukan kepada “ khusus orang mukmin dan muslim “ dan akan dicurahkan bentuk sayang tersebut hanya di “alam akhirat “ dengan segala puncak kenikmatan yang disebut dengan “ nikmat surgawi “.
Hakekat dari asma Allah ini adalah pengokohan keyakinan dan iman dalam hati bahwa segala bentuk ibadah kita hendaknya tidak diorientasikan kepada yang lain ( makhluk ) lain, agar dapat merasakan kedahsyatan “ rahim”nya Allah di alam berikut. Dan dapat menjadi motivasi bagi orang yang beriaman untuk senantiasa focus dalam ibadah dan pengabdian, dengan senantiasa mengabaikan panggilan nafsu yang selalu “hendak” menjegal manusia agar tidak dapat merasakan “ rahim”nya Allah.
Secara syar’i…. amat baik berdoa kepada Allah dengan lafadz “ Yaa Rahiim “ selain dapat dijadikan dzikir jahri dan sirri ( bersuara atau dengan hati )

 

Kontak