Resto Ruhani Magetan

Menyajikan menu dan asupan jiwa, agar tidak kelaparan dan kehausan

General Manager sekaligus Barista

Kiprah dakwahnya diabadikan dalam web ini, sebagai kepedulian atas penyajian asupan ruhani

Majelis Kajian Tafsir

Al-Qur'an sebagai sumber utama hukum Islam, mempelajarinya menjadi sangat urgen, sebaik-baik kamu adalah yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya.

Mudarosah Kajian Fiqih

Ilmu Fiqih sebagai referensi tatacara amaliyah ibadah badaniyah, menjadi urgen untuk dipahami agar dapat ber-Islam secara sempurna

Kajian Kitab Minhajul Abidin

Amaliyah jasidah tak akan sempurna tanpa ilmu amaliyah bathiniyah, kajian ini perlu agar ibadah membuahkan karakter terpuji

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 18, 2021

Kisah Singkat : HATIM AL-ASHAM



Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Rahman Hatim bin Alwan, terkenal dengan gelar Al-Asham, dia termasuk tokoh guru besar (syaikh) khurasan, murid Syaikh Syaqiq, guru Ahmad bin Khadrawaih. Hatim dijuluki Al-Asham (orang yang tuli) bukan karena ia tuli akan tetapi pernah ia berpura-pura tuli karena untuk menjaga kehormatan seseorang hingga ia dijuluki dengan Al-Asham. Dia pernah mengunjungi Baghdad dan menetap di kota ini sampai meninggal. Tercatat, meninggal di Wasyjard, dekat kota Tarmidz, pada tahun 237 H (852 M).

Hatim al-asham adalah orang yang sangat sopan dan jg dermawan. Pada suatu hari datanglah seorang wanita kepadanya untuk meminta sesuatu. Tanpa disengaja, wanita itu telah mengeluarkan kentut dengan suara sedikit keras dihadapan Hatim Al Asham, maka wanita itupun menjadi salah tingkah, tetapi Hatim Al Asham adalah orang yang baik, ia mengerti bagaimana perasaan wanita, tentu wanita ini sangat malu dengan suara kentutnya yang lumayan keras, lalu Hatim pura-pura tidak mendengar suara kentut wanita itu.

Hatim Al Asham berkata : “hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan”, Hatim berpura-pura tuli agar wanita itu menyangka bahwa Hatim tidak mendengar kentutnya yg membuat dirinya malu itu, kemudian wanita itu pun mengulangi ucapannya dgn agak keras dan Hatim pun menjawabnya dg suara agak keras pula.
Setelah urusan mereka beres, wanita itu pulang dgn gembira dan ia tidak malu lagi dgn suara kentutnya karena ia sudah pastikan bahwa Hatim Al Asham tidak mendengarnya.
Semenjak peristiwa itu, dan sampai 15 tahun <selama wanita itu masih hidup>, Hatim Al Asham selalu b’pura-pura tuli, dan slama itu pula tidak ada seorangpun yg menceritakan kpd wanita itu bahwa sebenarnya pendengaran Hatim Al Asham masih normal selayaknya orang lain.

Sungguh begitu baik budi pekerti Hatim, sehingga ia rela untuk berpura-pura selama 15 tahun demi menjaga nama baik dan perasaan wanita itu.

Setelah wanita itu meninggal dunia, Hatim Al Asham sudah tdk berpura-pura tuli lg, jika ditanya org lain, dia dpt menjawabnya dgn mudah, tp ia selalu mengatakan : “berbicaralah yg keras!”, kata-kata itu sudah menjadi kebiasaannya, karena sudah 15 tahun lamanya ia selalu mengucapkan hal itu kepada siapa saja yg menjadi lawan bicaranya.

Semenjak peristiwa itu, maka Hatim diberi gelar AL ASHAM yg artinya si tuli, jd Hatim Al Alsham berarti Hatim yg tuli.

 Ada satu kisah tentang cara shalat HatimAl-Asham:

Hatim Al-Asham adalah seorang ahli ibadah dan  sa­ngat bertakwa. Pada suatu hari, ia kedatangan tamu bernama Isham bin Yusuf. “Bagaimana anda melakukan shalat?” tanya tamunya., Hatim menjawab :

“Apabila waktu shalat tiba, saya segera melakukan wudu lahir dan batin,” jawab Hatim.

“Apakah  perbedaan antara kedua wudu itu?”  tanya Isham bingung.

Sambil memperhatikan wajah tamunya, Hatim berkata,

 “Wudu  lahir adalah mencuci badan dengan air.  Sedangkan wudu batin adalah mencuci jiwa dengan tujuh sifat. Yaitu taubat, menyesali dosa-dosa masa lalu, melepaskan diri dari ketergantungan pada dunia, menanggalkan pujian  dan penghormatan  pada  selain Allah,melepaskan  diri dari kendali  benda, 

 membuang rasa dendam kesumat,  dan  me­nyingkirkan  kedengkian.

Setelah itu aku menuju  mesjid dan bersiap melaksanakan salat sambil memusatkan panda­ngan  ke kiblat. Aku tampil sebagai pengemis  yang papa seakan-akan Allah di hadapanku, surga di sebelah  kanan­ku, neraka disebelah kiriku, Izrail, si pencabut nyawa, di belakangku, dan titian Shirat dibawah telapak  kakiku. Itulah salatku yang terakhir. Setelah itu aku berni­at dan bertakbir lalu membaca surah  Al-Fatihah  dengan seksama seraya merenungkan arti setiap kata  dan  ayat. Kemudian aku lakukan rukuk dan sujud dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati sambil menumpahkan air  mata. Tasyahhud  kulakukan dengan penuh pengharapan, lalu ku­ucapkan  salam dengan ikhlas sepenuhnya. Sejak tiga  ta­hun, salat yang demikianlah yang kulakukan.”

 Isham tercengang mendengar jawaban Hatim.

“Hanya Andalah yang melakukan salat seperti itu,” komentarnya.

Tiba-tiba Isham menangis dan meraung sekuat-kuat­nya sambil berdoa agar dibantu dan diberi kemampuan  me­lakukan ibadah seperti Hatim

 Diantara mutiara hikmahnya yang lain:

1. tiada waktu pagi datang melainkan setan mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoda, “Apa yang akan kamu makan ?” Apa yang akankamu pakai ? di manakah kamu akan tinggal.” Saya tidak ingin hanyut dalam jebakan pertanyaan itu, maka saya cukup menjawabnya, “Saya akan makan kematian,mengenakan kain kafan, dan tinggal di liang lahat.”

2. pernah suatu hari saya ditanya, “Tidakkah kamu menginginkan sesuatu ?” Maka saya jawab, “Saya ingin selalu sehat dari pagi hingga malam hari”. Ditanyakan lagi, “Bukankah kamu sehat selama seharian ?”. saya jawab, “sehat menurutku adalah tidak menjalankan dosa dari pagi hingga malam”.

3. saya pernah dalam suatu pertempuran. Saya pernah ditangkap oleh seorang tentara turki, kemudian badan saya dilentangkan untuk disembelih. Hati saya tidak merasa takut sedikitpun, bahkan saya menunggu keputusan Allah untukku. Ketika prajurit itu menghunus pedangnya untuk menyembelih diriku, tiba-tiba meluncur sebuah anak panah menembusnya sampai mati sehingga ia terlempar dariku. Sayapun segera berdiri.

4. barangsiapa memasuki mazhab kami, hendaklah bersedia menerima empat hal kematian: .Mati putih karena lapar, mati hitam karena menanggung penderitaan dari manusia,mati merah karena berbuat ketulusan untuk melawan hawa nafsu, dan mati hijaukarena fitnah.

 Ada 8 nasihat yang diberikan oleh Hatim Al-Asham kepada sahabatnya pada waktu itu. Renungkan lah riwayat berikut ini:

Suatuhari, Hatim al-Asham ditanya oleh sahabatnya, Syaqiq al-Balkhi, semoga ALLAH merahmati keduanya.

“Kau telah bersahabat denganku selama 30 tahun, apa yang kau dapatkan selama ini?” tanya Syaqiq.
“Aku telah mendapatkan 8 pelajaran yang kuharapkan dapat menyelamatkanku,” jawab Hatim
“Apa saja pelajaran itu?”

“Pertama: Kuamati kehidupan manusia, kudapati setiap manusia memiliki kecintaan dan kesayangan.Daribeberapa kecintaannya itu, ada yang menemaninya sampai pada sakit yang menyebabkan kematiannya, dan ada yang mengantarnya sampai ke pekuburan, setelah itu mereka semua pergi meninggalkannya seorang diri, tidak ada satu pun orangyang bersedia masuk ke dalam kubur menemaninya. Kurenungkan hal ini lalu kukatakan : Sebaik-baik kecintaan adalah yang mau menemani seseorang di dalam kubur dan menghiburnya. Aku tidak mendapatkan yang demikian itu kecuali amal saleh.Oleh karena itu, kujadikan amal saleh sebagai kecintaanku agar dapat menjadi pelita kuburku, menghiburku di dalamnya, dan tidak akan meninggalkanku seorang diri.

 “Kedua: Kuperhatikan bahwa manusia selalu memperuntuhkan hawa nafsunya, dan bersegera dalam memenuhi keinginan nafsunya.Lalu kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :

“ Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, makasesungguhnya Surgalah tempat tinggal(nya). [an-Nazi’at/79:40-41]”

Aku yakin bahwa Qur’an adalah haq dan benar, maka aku bersegera menentang hawa nafsuku dan menyiapkan diri untuk memeranginya. Tidak sekali pun aku ikuti kehendaknya sampai akhirnya ia tunduk dan taat kepada ALLAH.

 Ketiga: Aku liat setiap orang berusaha mencari harta dan kesenangan duniawi, kemudian menggenggamnya erat-erat. Lalu kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :

“ Apa yang ada di sisimu akan lenyap,dan apa yang ada di sisi ALLAH kekal… [an-Nahl/16:96]”

Karena itu, kubagi-bagikan dengan ikhlas penghasilanku kepada kaum fakir miskin agar menjadi simpananku kelak disisi-Nya.

 Keempat: Kuperhatikan sebagaian manusia beranggapan bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak pada banyaknya pengikut dan famili, lalu mereka berbangga-bangga dengannya. Yang lain mengatakan terletak pada harta yang melimpah dan anak yang banyak, lalu mereka bermegah-megah dengannya. Sebagian yang lain mengira terletak dalam merampok harta orang lain,menzalimi dan menumpahkan darah mereka. Dan sebagian lagi menyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak dalam menghambur-hamburkan dan memboroskan harta. Aku lalu merenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :

….sesungguhnya orang yang palingmulia di antara kalian di sisi ALLAH adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian….[al-Hujurat/49:13]

lalu kupilih takwa karena aku yakin bahwa Qur’an itu haq dan benar, sedang pemikiran dan pendapat mereka keliru dan tidak langgeng.

 Kelima: Kuperhatikan manusia sering saling menghina dan bergunjing (ghibah). Perbuatan buruk itu ditimbulkan oleh perasaan dengki (hasad) sehubungan dengan harta, kedudukan, dan ilmu.Kemudian kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :

….Kami telah menentukan pembagian nafkah hidup di antara mereka dalam kehidupan dunia….[az-Zukhruf/43:32]

Maka tahulah aku, bahwa pembagian itu telah ditentukan oleh ALLAH sejak di alam azali. Oleh karena itu,aku tidak boleh mendengki siapa pun dan harus rela dengan pembagian yang telah diatur oleh ALLAH Ta’ala.

 Keenam: Kuperhatikan manusia saling bermusuhan satu dengan lainnya karena berbagai sebab dan tujuan. Lalu kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian)….[Fathir/35:6]

Maka sadarlah aku, bahwa aku tidak boleh memusuhi siapa pun kecuali setan.

 

Ketujuh : Kuperhatikan setiap orang berusaha keras dan berlebihan dalam mencari makan dan nafkah hidup dengan cara yang menyebabkan mereka terjerumus dalam perkara yang syubhat dan haram, juga dengan cara yang dapat menghinakan diri dan mengurangi kehormatannya. Lalu kerunungkan wahyuALLAH Ta’ala :

Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi ini melainkan ALLAH-lah yang menanggung rezekinya.[Hud/11:6]

Maka sadarlah aku, bahwa sesungguhnya rezeki ada di tangan ALLAH Ta’ala, dan Ia telah memberikan jaminan. Oleh karena itu, aku lalu menyibukkan diri dengan ibadah dan tidak meletakkan harapan pada selain-Nya.

 Kedelapan: Kuperhatikan sebagian orang yang menyandarkan diri pada benda-benda buatan manusia, sebagian orang bergantung pada dinar dan dirham, sebagian pada harta dan kekuasaan, sebagian pada kerajinan dan industri, dan sebagian lagi pada sesama makhluk. Lalu kurenungkan wahyu ALLAH Ta’ala :

….dan barang siapa bertawakal kepadaALLAH niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)-nya. Sesungguhnya ALLAHmelaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya ALLAH telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.[at-Thalaq/65:3]

Maka aku pun lalu bertawakal kepadaALLAH Ta’ala dan mencukupkan diri dengan-Nya, karena Ia adalah sebaik-baik Dzat yang bisa kupercaya untuk mengurus dan melindungi semua kepentinganku.”

 (Setelahmendengar uraian Hatim) Syaqiq berkata, “Semoga ALLAH memberimu taufik. Aku telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan Furqan (Qur’an) ternyatasemua kitab itu membahas kedelapan persoalan ini. Oleh karena itu, barang siapa mengamalkannya, maka ia telah mengamalkan keempat kitab tersebut.”

Subhanallah…smoga kita bisa lebih mencintai ALLAH…melebihi apapun…bisa mengambil pelajaran dari kisahi HATIM AL-ASHAM

Sabtu, Desember 15, 2018

Tentang Qona'ah




 Apa pengertian Qona’ah ?
Apa Dasar Hukum Qona’ah ?
Bagaimana sikap qona’ah ?
Apa hikmah qona’ah ?
Bagaimana caranya agar bisa Qona’ah ?

Pengertian Qona’ah
Qana’ah menurut bahasa adalah merasa cukup atau rela, sedangkan menurut istilah ialah  sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.
Rasulullah mengajarkan kita untuk ridha dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, baik itu berupa nikmat kesehatan, keamanan, maupun kebutuhan harian. Qona’ah adalah gudang yang tidak akan habis. Sebab, Qona’ah adalah kekayaan jiwa. Dan kekayaan jiwa lebih tinggi dan lebih mulia dari kekayaan harta. Kekayaan jiwa melahirkan sikap menjaga kehormatan diri dan menjaga kemuliaan diri ( iffah) , sedangkan kekayaan harta dan tamak pada harta melahirkan kehinaan diri.
Di antara sebab yang membuat hidup tidak tentram adalah terperdayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang diperdaya harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya,dalam apa yang dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah, Sang Maha Pemberi Rezeki itu sendiri. Ia justru merasa kenikmatan yang dia peroleh adalah murni semata hasil keringatnya, tak ada kesertaan Allah. Orang-orang yang terlalu mencintai kenikmatan dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan segala cara seperti kelicikan, bohong, mengurangi timbangan dan sebaginya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian sebagaimana firman Allah ;
Artinya ;"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni'mat dari Kami ia berkata:"Sesungguhnya aku diberi ni'mat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui" (Q.S Azumar; 49)

Dasar Hukum Qona’ah
è  Al Qur’an
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqarah : 155 )


èHadits

عن ابى هرىرة رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس.(متفق عليه)      

Dari Abu Hurairah R.A berkata, Nabi SAW bersabda: bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan hati. (Muttafaqun Alaih)

عن عبد الله ابن عمرو رضى الله عنهما : ان رسول الله صلى الله عليه و سلم. قال: قد افلح من اسلم  ورزق  كفافا  وقنعه  الله  بما اتاه. (رواه مسلم)    

Dari Abdillah bin Amr sesungguhnya Rasulullah saw bersabda; sungguh beruntung orang yang masuk islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang pemberian Allah. (HR Muslim)

Sikap Qona’ah

Sudah dijelaskan bahwa qona’ah merupakan sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Meski demikian, orang-orang yang memiliki sikap Qana'ah tidak berarti fatalis dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang hidup Qana'ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan dan dunia yang dimilikinya, dibatasi dengan rambu-rambu Allah SWT. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qana'ahnya dan mempertebal rasa syukurnya.
Adapun contoh bersikap qana’ah dalam kehidupan,diantaranya :
ð  Giat bekerja dan berusaha untuk mencapai hasil terbaik.
ð  Jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak mudah  kecewa dan berputus asa.
ð  Selalu bersyukur atas apa yang menjadi hasil usahanya, dan tidak pernah merasa iri atas keberhasilan yang diperoleh orang lain.
ð  Hidupnya sederhana dan menyesuaikan diri dengan keadaan, tidak rakus dan tidak tamak.
ð  Selalu yakin bahwa apa yang didapatnya dan yang ada pada dirinya merupakan anugerah dari Allah SWT.

Perbuatan Qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas terhadap apa yang kita miliki saat ini, Maka hendaklah dalam masalah keduniaan kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita melihat orang yang di atas kita. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah dalam sebuah hadis:

عن ابى هريرة رضى الله عنه : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم. انظروا الى من اسفل منكم, ولا تنظروا الى من هو فوقكم فهو اجدر ان لا تزدروا نعمة الله عليكم. (متفق عليه)                      

Artinya; “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Muttafaqun Alaih)

Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang Qana'ah menyikapinya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah yang Maha kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong dan mengurangi timbangan. Ia yakin tanpa menghalalkan segala cara apapun, ia tetap mendapatkan rizki yang dijanjikan Allah. Ia menyadari akhir rizki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal; menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala di hadapan Allah.

Bila kita mampu merenungi dan mengamalkan makna dan pentingnya qona’ah maka kita akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman hidup. Dan hendaknya diketahui bahwa harta itu akan ditinggalkan untuk ahli waris.

Hikmah Qona’ah
Tidak diragukan lagi bahwa  qona’ah dapat menenteramkan jiwa manusia dan merupakan faktor kebahagiaan dalam kehidupan karena seorang hamba yang qona’ah dan menerima apa yang dipilihkan Alah untuknya, dia tahu bahwa apa yang dipilihkan Allah untuknya adalah yang terbaik baginya di segala macam keadaan. 

Sikap qona’ah membebaskan pelakunya dari kecemasan dan memberinya kenyamanan psikologis ketika bergaul dengan manusia. Dzunnun al-Mashri mengatakan: “Barangsiapa bersikap qona’ah maka ia bisa merasa nyaman di tengah manusia-manusia sesamanya.”
Sebaliknya, ketiadaan qona’ah dalam hidup akan menyeret pelakunya pada penuhanan materi sehingga kebebasannya terampas karena kerakusan dalam mencari harta duniawi yang memaksanya berbuat apapun untuk mendapatkan harta.

Cara agar bisa Qona’ah

Qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’ala apa adanya) adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.

Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah. Berikut ini beberapa kiat menuju qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya. Di antaranya yaitu :

1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.

Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.

Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung.

Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)

“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. ath-Thalaq:7)

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki

Di antara hikmah Allah subhanahu wata’ala menentu kan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS.Al an’am 165)

5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,

“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi).

Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi).

6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian

Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia

Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim).
Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?

8. Membaca Kehidupan Salaf

Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.

9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta

Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.

10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda

Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).
Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”



Jumat, Desember 14, 2018

Analisa Gambaran Solutif dari Minhajul Abidin


è Misi hidup manusia sesuai dengan perintah adalah          IBADAH/menyembah Alloh
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

èTujuan ibadah pada intinya adalah untuk Mentauhidkan Alloh :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
 
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An-Nisa`: 36).
Selain karena : cinta kepada Alloh, untuk mendekatkan diri kepadaNya, merasa hina di hadapan Alloh dan untuk mencapai keridloan Alloh di dunia dan akherat

èNamun pada aplikasi nyata, ibadah sulit mencapai focus karena beberapa hal, diantaranya kurangnya ilmu hingga sang penghamba tidak atau belum mengenal yang disembah, juga banyaknya factor penghalang dan godaan…

Untuk membantu kita mencapai kesempurnaan ibadah, Imam al-Ghozali menulis kitab Minhajul Abidin ilaa jannati Robbil ‘aalamiin yang menjelaskan tentang cara beribadah agar berbuah kebahagiaan dunia akherat.

èbila dianalisa, kajian itu menjelaskan serupa dengan  system managemen SWOT, yakni metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats).

1.    Strength / Kekuatan ,
Faktor-faktor yang menjadi kekuatan dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin, pertama ; ilmu dan makrifat dan kedua pendorong.
a. Pertama , ilmu dan makrifat.
Sabda Rasulullah saw, “Ilmu adalah imamnya amal dan amal adalah makmunnya, Allah memberikan ilmu kepada orang-orang yang berbahagia, tidak kepada orang-orang celaka (H.R. Abu Nuaim, Abu Thalib Al-Makki, Al-KHatib, dan Ibnu Qayyim). Mengapa harus berilmu? Pertama agar berhasil dan benar dalam beribadah, kedua orang yang berilmu tidak akan mudah tertipu. Dengan ilmu kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Sedangkan makrifat adalah ilmu untuk mengenal 4 perkara , yaitu pertama mengenal dirinya, kedua mengenal Tuhannya, ketiga mengenal dunia dan keempat mengenal akhirat.
b. Kedua, pendorong 
meliputi 2 hal yaitu takut (khauf) dan raja’ (harap).
Allah Ta’ala berfirman :” tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” ( QS, Ali Imran:175 ). Berarti khauf merupakan syarat iman. Seseorang tidak dikatakan beriman jika tidak takut kepada Allah Swt. Takut kepada Allah berarti takut kepada nerakanya Allah dan takut kepada azabnya Allah. Dengan takut kepada Allah akan memberikan kekuatan bagi kita untuk beribadah.
Sedangkan raja’ (mengharap) ialah bersenang hati karena mengenal Allah, lapang pikirannya karena yakin akan lapangnya rakhmat Allah. Lawan raja’ adalah putus asa dari rakhmat Allah dan berhenti mengingat Allah. Dengan raja’ hati menjadi hidup. Harapan akan memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat juga akan memberikan kekuatan dalam beribadah.


2.    Weakness / Kelemahan,
Faktor-faktor yang menjadi kelemahan kita dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin sebagai godaan dan celaan.
Dalam beribadah seseorang harus dapat menahan diri dari segala macam godaan yang membuatnya bimbang dan wajib membedakan mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik, serta membuang segala sesuatu yang sekiranya dapat merusak dan merugikan ibadah sehingga menjadi tercela.
Ada 4 macam godaan, yaitu pertama rezeki dan tuntutan hawa nafsu, kedua berbagai macam bahaya, ketiga takdir dan keempat kesulitan dan musibah. Sedangkan celaan ada 2 macam, yaitu riya’ dan ujub.

a. Pertama, rezeki dan tuntutan hawa nafsu ;
Setiap muslim seharusnya menggantungkan diri kepada Allah dalam urusan rezeki dan tuntutan. Orang yang tidak menggantungkan diri kepada Allah tidak akan beribadah dengan baik, karena pikirannya selalu terpusat pada rezeki, kebutuhan, dan urusan-urusan lain. Ia selalu sibuk memburu rezeki, ia selalu memikirkan rezeki dengan perasaan waswas. Pada akhirnya ia tidak peduli lagi apakah rezekinya itu diperoleh dengan cara yang halal atau tidak. Cara mengatasinya tidak lain hanyalah dengan bertawakal.
Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki “ (QS Adz Dzariyat : 58}“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya “ (QS Hud :6 )
b. Kedua, berbagai macam bahaya ;
Ada 2 bahaya yang mengharuskan kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.
Pertama , bahaya yang timbul dari sikap ragu-ragu ketika menginginkan sesuatu. Sehingga dalam pelaksanaannya perlu mengucapkan Insya Allah. Meskipun yang demikian tidak termasuk tafwid, melainkan menyangkut niat dan amalan.
Kedua, bahaya merusak, yaitu suatu perbuatan yang tidak diyakini adanya maslahat. Jadi perbuatan tersebut harus ditinggalkan, karena kemungkinan perbuatan yang dilakukan mengandung dosa. Untuk mengatasi kedua bahaya tersebut caranya hanyalah tidak lain berserah diri kepada Allah.
c. Ketiga, takdir;
sebagai hamba Allah kita harus ikhlas menerima takdir-Nya, bagaimanapun keadaannya. Seseorang yang tidak ikhlas (rela) menerima takdir Allah, hatinya selalu diliputi kesedihan. Sehingga ia selalu berkeluh kesah dan mengeluh. Akibatnya ia tidak berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah Swt. Ia tidak lagi sempat berzikir kepada Allah dan tidak ada waktu lagi memikirkan akhirat. Orang yang ragu-ragu dan tidak ikhlas menerima takdir Allah, mengadu kesana kemari, berarti mengadukan Tuhan Yang Maha Mulia.
d. Keempat, kesulitan dan musibah;
dunia ini tempat ujian bagi manusia. Setiap manusia pasti mengalami berbagai cobaan dan musibah. Dalam menghadapi semua cobaan itu kita harus bersabar dan tahan uji. Orang yang tidak bersabar, tidak tahan uji, tidak akan sampai ke tujuan. Sebab seseorang yang sudah berniat hendak beribadah pasti akan menghadapi berbagai ujian dan kesukaran.
e. Kelima riya’ ;
riya artinya setiap amalan yang kita kerjakan ingin dilihat orang lain dengan harapan mendapatkan pujian. Riya’ termasuk syirik kecil dan dapat merusak ibadah. Setiap amalan hendaknya dilandasi keikhlasan dan semata-mata karena Lillahi Ta’ala.

f. Keenam ujub ;
ujub artinya sombong. Sifat sombong dapat mengarah kepada takabur. Ujub juga berarti mengagungkan diri, atau menganggap agung amal yang telah dilakukan. Ujub menghalangi taufik dan takyid dari Allah. Sesorang yang tidak mendapat taufik dan takyid dari Allah akan mudah celaka. Ujub juga dapat merusak amal saleh dan menyebabkan hilangnya manfaat ibadah.


3.    Opportunity / peluang,
Faktor-faktor yang menjadi peluang kita dalam beribadah adalah pertama mendapat maghfirah (ampunan) dari Allah Swt dan kedua limpahan rakhmat dan karunia Allah.

a. Pertama, ampunan Allah Swt :
Untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt caranya adalah dengan bertobat. Mengapa harus bertobat ? Pertama, agar kita taat. Kedua, agar ibadah kita diterima Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda : “ Yang baik diantara kamu adalah yang sering tergoda tetapi selalu bertobat, selalu kembali kepada Allah dengan perasaan menyesal atas dosanya dan dengan disertai istighfar”.
b.Kedua, limpahan rakhmat dan karunia Allah :
Untuk mendapatkan limpahan rakhmat dan karunia Allah Swt caranya dengan selalu bersyukurkepada Allah Swt. Mengapa harus bersyukur ? Pertama, agar kenikmatan yang sangat besar yang diberikan Allah Swt tetap dikekalkan, sebab bila tidak disyukuri akan hilang. Kedua agar nikmat yang telah kita dapatkan akan bertambah.
Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi kalau kalian kufur, ingatlah sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih “ . (QSIbrahim :7 ). Sesungguhnya syukur itu adalah mengagungkan Allah Yang Memberi Nikmat, yakni mengukur nikmat-Nya agar kita tidak menjauhi diri dan tidak bersifat kufur.

4. Threat / Ancaman/ Rintangan,
Faktor-faktor yang dapat menjadi rintangan dalam beribadah ada empat, yaitu pertama dunia, kedua mahkluk, ketiga syaitan dan keempat nafsu.

a. Pertama, dunia dan isinya ;
Yang dimaksud dunia di sini adalah semua yang tidak punya manfaat di akhirat. Allah Swt berfirman : “ Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui “ ( QS Ankabut : 64 ). Kehidupan kita di dunia hanya sekerdipan mata dibanding kehidupan akhirat. Tetapi banyak manusia lupa. Siang malam, seorang sibuk mencari bekal dunia, dan hatinya tergoda oleh bermacam keinginan dan hawa nafsu. Keduanya akan merintanginya untuk beribadah. Sebab perhatiannya hanya satu, yakni dunia. Sekarang ini dunia memang nyata dan akhirat masih ghaib. Nanti adalah sebaliknya, akhirat yang nyata dan dunia ghaib. Allah Swt juga berfirman : “ Dunia ini ladangnya akhirat “. Apa saja yang kita usahakan di dunia, hasilnya akan kita petik di akhirat. Sabda Rasulullah Saw : “ Barangsiapa mencintai dunia, urusan akhiratnya akan tercecer. Dan barang siapa mencintai akhirat, akan berkurang dunianya. Dan pilihlah yang kekal daripada yang cepat binasa”. ( H.R. Bukhari dan Muslim ). Salman Al- Farisi r.a berkata, ‘Sesungguhnya jika hamba Allah berzuhud terhadap dunia, bersinarlah hatinya dengan hikmah, dan anggota badannya saling menolong untuk beribadah’.
b. Kedua makhluk ;
Kebanyakan makhluk akan menghalangi kita dari beribadah dengan memasukkan kebingungan-kebingungan dalam hati kita. Bahkan terkadang menghalangi dan membawa kita kepada kejahatan dan kebinasaan. Sebab kebanyakan dari mereka tidak mengetahui hak-hak kehambaan dan hanya mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah. Untuk akhirat mereka lalai dan tidak memikirkannya. Selain itu kebanyakan manusia dapat merusak ibadah yang telah kita laksanakan. Dengan ajakannya yang menjurus kepada perbuatan riya’ dan bermegah-megahan jika tidak ada perlindungan dari Allah.
c. Ketiga, setan :
Setan adalah nyata-nyata musuh yang menyesatkan. Dirinya tidak dapat diharapkan adanya kebaikan dan perdamaian, sebab mereka akan puas jika mampu membinasakan kita. Allah Swt berfirman :” Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu… “ ( QS Al Fatir : 6 ). Sudah menjadi tabiat setan untuk selalu memusuhi anak cucu adam. Sedangkan kita sering lalai akan hal itu.
Guna memerangi dan mengalahkan setan menurut pendapat ulama ada tiga cara ;
Pertama , harus mengetahui tipu daya setan, sehingga dia tidak akan berani mengganggu kita. Kedua, anggap remeh ajakan setan, jangan memberi perhatian dan menghiraukan ajakannya. Setan ibarat anjing menggonggong, jika dilayani ia akan terus menggonggong. Ketiga, berzikir dengan lisan maupun hati. Sabda nabi Saw : ‘ Sesungguhnya zikrullah itu menyakitkan setan. Seperti menderitanya anak Adam dengan penyakit yang bersarang di lambungnya “
d. Keempat,hawa nafsu :
Kita harus berhati-hati terhadap dorongan hawa nafsu yang akan menyeret kita berbuat kejahatan. Oleh karena itu kita harus waspada karena hawa nafsu merupakan musuh dari dalam selain hawa nafsu juga adalah musuh yang disukai. Nabi Yusuf As mengatakan : “ Dan aku tidak akan membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan berbuat kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rakhmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ ( QS Yusuf : 53 ). Kita harus mampu mengendalikan nafsu dengan niat yang kuat dan menahan diri (wara’) dari perbuatan maksiat dan tidak berlebih-lebihan. Caranya adalah dngan menjaga lima anggota tubuh ; yakni mata, telinga, lidah, hati dan perut. Mata harus benar-benar dipelihara dan dikendalikan, karena seringkali menjadi pangkal timbulnya fitnah dan penyakit sejenisnya. Allah Swt berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS An Nur : 30 ). Telinga jangan sampai mendengar perkataan-perkataan kotor, hina dan yang tidak bermanfaat. Mendengarkan sesuatu dapat menimbulkan dorongan hati dan perasaan waswas. Mulut adalah anggota tubuh dan indera yang paling usil dan paling banyak menimbulkan kerusakan. Untuk mempertahankan amal saleh adalah dengan memelihara lisan. Sebab jika lisan tidak terkendali, ia akan cenderung berbuat yang tidak karuan, mengumpat orang misalnya. Sebagian ulama berpendapat :’ Barangsiapa banyak bicara, akan banyak pula lidahnya tergelincir. Dan mengumpat ibarat halilintar yang menghapus taat’. Hati adalah bagian tubuh manusia yang paling besar bahayanya, pengaruhnya paling kuat, masalahnya paling pelik dan sukar. Paling halus dan sulit memperbaikinya. Hati ibarat raja yang ditaati dan pemimpin yang disegani. Seluruh anggota badan ibarat rakyatnya. Jika hatinya baik, baiklah seluruh anggota badan, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw : “ Sesungguhnya dalam jasad manusia terdapat segumpal darah yang apabila keadaannya baik, baik pula seluruh anggotanya. Dan jika keadaanya rusak, akan rusak pula seluruh anggota badannya “. Perut, wajib dijaga bagi orang yang hendak melaksanakan ibadah. Wajib bagi kita untuk memelihara perut dari makanan yang diharamkan, selain menjaganya agar tidak berlebih-lebihan.Orang yang makan makanan haram dan subhat tidak akan diberi taufik dalam beribadah dan terhalang berbuat kebaikan. Sedangkan memakan makanan halal berlebih-lebihan menyebabkan hati menjadi keras, akal dan pikiran menjadi sempit dan malas beribadah.
Demikianlah SWOT untuk menyempurnakan ibadah yang merupakan kemasan ulang Minhajul Abidin karya Imam Al Ghazali dan mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita dan kita niat untuk mengamalkannya.


 

Kontak