Apa pengertian Qona’ah ?
Apa Dasar Hukum Qona’ah ?
Bagaimana sikap qona’ah ?
Apa hikmah qona’ah ?
Bagaimana caranya agar bisa Qona’ah ?
Pengertian Qona’ah
Qana’ah menurut
bahasa adalah merasa cukup atau rela, sedangkan menurut istilah
ialah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang
diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan
kurang.
Rasulullah mengajarkan kita untuk ridha dengan apa yang
telah ditetapkan oleh Allah SWT, baik itu berupa nikmat kesehatan, keamanan,
maupun kebutuhan harian. Qona’ah adalah gudang yang tidak akan habis. Sebab,
Qona’ah adalah kekayaan jiwa. Dan kekayaan jiwa lebih tinggi dan lebih mulia dari
kekayaan harta. Kekayaan jiwa melahirkan sikap menjaga kehormatan diri dan
menjaga kemuliaan diri ( iffah) , sedangkan kekayaan harta dan
tamak pada harta melahirkan kehinaan diri.
Di antara sebab yang membuat hidup tidak tentram adalah
terperdayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang diperdaya
harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya.
Akibatnya,dalam apa yang dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia
sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah, Sang Maha Pemberi Rezeki itu
sendiri. Ia justru merasa kenikmatan yang dia peroleh adalah murni semata
hasil keringatnya, tak ada kesertaan Allah. Orang-orang yang terlalu mencintai
kenikmatan dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus
menggunakan segala cara seperti kelicikan, bohong, mengurangi timbangan dan
sebaginya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian
sebagaimana firman Allah ;
Artinya ;"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia
menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni'mat dari Kami ia
berkata:"Sesungguhnya aku diberi ni'mat itu hanyalah karena
kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu
tidak mengetahui" (Q.S
Azumar; 49)
Dasar Hukum Qona’ah
è Al Qur’an
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ
الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqarah : 155 )
èHadits
عن ابى هرىرة رضى الله عنه عن النبي صلى الله
عليه و سلم قال : ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس.(متفق
عليه)
Dari Abu Hurairah R.A berkata, Nabi SAW bersabda:
bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan yang
sebenarnya ialah kekayaan hati. (Muttafaqun Alaih)
عن عبد الله ابن عمرو رضى الله عنهما : ان رسول
الله صلى الله عليه و سلم. قال: قد افلح من
اسلم ورزق كفافا وقنعه الله بما
اتاه. (رواه مسلم)
Dari Abdillah bin Amr sesungguhnya Rasulullah saw
bersabda; sungguh beruntung orang yang masuk islam dan rizkinya cukup dan
merasa cukup dengan apa-apa yang pemberian Allah. (HR Muslim)
Sikap Qona’ah
Sudah dijelaskan bahwa qona’ah merupakan sikap rela
menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri
dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Meski demikian, orang-orang yang
memiliki sikap Qana'ah tidak berarti fatalis dan menerima nasib begitu saja
tanpa ikhtiar. Orang-orang hidup Qana'ah bisa saja memiliki harta yang sangat
banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan dan dunia yang
dimilikinya, dibatasi dengan rambu-rambu Allah SWT. Dengan demikian, apa pun yang
dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki.
Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qana'ahnya dan
mempertebal rasa syukurnya.
Adapun contoh bersikap qana’ah dalam kehidupan,diantaranya :
ð Giat bekerja dan berusaha untuk
mencapai hasil terbaik.
ð Jika hasil yang diperoleh tidak
sesuai dengan yang diharapkan, tidak mudah kecewa dan berputus asa.
ð Selalu bersyukur atas apa yang
menjadi hasil usahanya, dan tidak pernah merasa iri atas keberhasilan yang
diperoleh orang lain.
ð Hidupnya sederhana dan
menyesuaikan diri dengan keadaan, tidak rakus dan tidak tamak.
ð Selalu yakin bahwa apa yang
didapatnya dan yang ada pada dirinya merupakan anugerah dari Allah SWT.
Perbuatan Qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas
terhadap apa yang kita miliki saat ini, Maka hendaklah dalam masalah keduniaan
kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita
melihat orang yang di atas kita. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan
Rasulullah dalam sebuah hadis:
عن ابى هريرة رضى الله عنه : قال رسول
الله صلى الله عليه و سلم. انظروا الى من اسفل منكم, ولا تنظروا الى من هو
فوقكم فهو اجدر ان لا تزدروا نعمة الله عليكم. (متفق
عليه)
Artinya; “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan
janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak
bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan
kepada kalian.” (Muttafaqun Alaih)
Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang Qana'ah
menyikapinya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah yang Maha kuasa,
sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong dan mengurangi timbangan. Ia
yakin tanpa menghalalkan segala cara apapun, ia tetap mendapatkan rizki yang
dijanjikan Allah. Ia menyadari akhir rizki yang dicarinya tidak akan melebihi
tiga hal; menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala di hadapan Allah.
Bila kita mampu merenungi dan mengamalkan makna dan
pentingnya qona’ah maka kita akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman hidup.
Dan hendaknya diketahui bahwa harta itu akan ditinggalkan untuk ahli waris.
Hikmah Qona’ah
Tidak diragukan lagi bahwa qona’ah dapat
menenteramkan jiwa manusia dan merupakan faktor kebahagiaan dalam kehidupan
karena seorang hamba yang qona’ah dan menerima apa yang dipilihkan Alah
untuknya, dia tahu bahwa apa yang dipilihkan Allah untuknya adalah yang terbaik
baginya di segala macam keadaan.
Sikap qona’ah membebaskan pelakunya dari kecemasan dan
memberinya kenyamanan psikologis ketika bergaul dengan manusia. Dzunnun
al-Mashri mengatakan: “Barangsiapa bersikap qona’ah maka ia bisa merasa
nyaman di tengah manusia-manusia sesamanya.”
Sebaliknya, ketiadaan qona’ah dalam hidup akan menyeret
pelakunya pada penuhanan materi sehingga kebebasannya terampas karena kerakusan
dalam mencari harta duniawi yang memaksanya berbuat apapun untuk mendapatkan
harta.
Cara agar bisa Qona’ah
Qana’ah (rela
dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’ala apa adanya)
adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang
diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa,
kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki
rasa cinta terhadap kepemilikan harta.
Namun meskipun demikian kita
dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan
membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah. Berikut ini beberapa kiat menuju
qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat
merealisasikan nya. Di antaranya yaitu :
1. Memperkuat Keimanan kepada
Allah subhanahu wata’ala.
Juga membiasakan hati untuk
menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu
wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya
hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak
mendapatkan makan di hari itu.
Sebaliknya siapa yang hatinya
fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja,
maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus
merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.
2. Yaqin bahwa Rizki Telah
Tertulis.
Seorang muslim yakin bahwa
rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya.
Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di
antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat
lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya,
ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan
Ahmad)
Seorang hamba hanya diperintah
kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu
wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.
3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an
yang Agung.
Terutama sekali ayat-ayat yang
berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah
berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari
maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku
membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi,
(yaitu):
“Apa saja yang Allah
anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat
menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang
sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)
“Dan jika Allah menghendaki
kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan
kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)
“Dan tidak ada suatu binatang
melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
“Allah kelak akan memberikan
kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. ath-Thalaq:7)
4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki
Di antara hikmah Allah subhanahu
wata’ala menentu kan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba
dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka
bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu
dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Apakah mereka yang
membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan
sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)
“Dan Dialah yang menjadikan
kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas
sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang
diberikan-Nya kepadamu.” (QS.Al an’am 165)
5. Banyak Memohon Qana’ah kepada
Allah
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa
yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman
dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu
wata’ala agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi).
Dan karena saking qana’ahnya,
beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali
sekedar cukup untuk kehidu pan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia
(harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga
Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan
at-Tirmidzi).
6. Menyadari bahwa Rizki Tidak
Diukur dengan Kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki
seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas,
keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun
bukan ukuran secara pasti.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.
7. Melihat ke Bawah dalam Hal
Dunia
Dalam urusan dunia hendaklah kita
melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih
tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Lihatlah
kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang
yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak
meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim).
Jika saat ini anda sedang sakit
maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda
merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan
seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan
kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih
berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah
mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?
8. Membaca Kehidupan Salaf
Yakni melihat bagaimana keadaan
mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka
terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang
memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang
lain dan yang lebih membutuhkan.
9. Menyadari Beratnya Tanggung
Jawab Harta
Bahwa harta akan mengakibatkan
keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan
cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya
tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan
yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana
memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab
orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih
lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.
10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya
Tidak Jauh Berbeda
Karena seorang yang kaya tidak
mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita
perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali
sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan
orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia
mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju
maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan
harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).
Sungguh indah apa yang diucapkan
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami
juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga
berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki
kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu
mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”












0 comments:
Posting Komentar