Resto Ruhani Magetan

Menyajikan menu dan asupan jiwa, agar tidak kelaparan dan kehausan

General Manager sekaligus Barista

Kiprah dakwahnya diabadikan dalam web ini, sebagai kepedulian atas penyajian asupan ruhani

Majelis Kajian Tafsir

Al-Qur'an sebagai sumber utama hukum Islam, mempelajarinya menjadi sangat urgen, sebaik-baik kamu adalah yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya.

Mudarosah Kajian Fiqih

Ilmu Fiqih sebagai referensi tatacara amaliyah ibadah badaniyah, menjadi urgen untuk dipahami agar dapat ber-Islam secara sempurna

Kajian Kitab Minhajul Abidin

Amaliyah jasidah tak akan sempurna tanpa ilmu amaliyah bathiniyah, kajian ini perlu agar ibadah membuahkan karakter terpuji

Tampilkan postingan dengan label Kinai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kinai. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juli 11, 2019

Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 16

Hasil gambar untuk taat kepada Allah

Pertemuan ke 16 ( 12 Juli  2019 / 08 Dzul Qo’dah 1440 H

نَصَــــــائح الثــــــــــانِي
NASEHAT-NASEHAT KEDUAـ

24. TIGA HASIL KETAATAN
Rasulullah S.A.W bersabda:
"Barang siapa meninggalkan kehinaan, lalu melaksanakan kemuliaan, maka:
1. Allah akan memberikan kecukupan kepadanya meskipun tanpa harta;
2. Allah akan memberikan kekuatan kepadanya tanpa disertai tentara; dan
3. Allah akan mengalahkan musuhnya bukan dengan pasukan."


25. TIGA CIRI DASAR ORANG MUKMIN
Disebutkan dalam satu riwayat bahwa pada suatu hari Nabi S.A.W menemui para sahabat, lalu bertanya:
"Bagaimana keadaan kalian ketika memasuki pagi hari?" Mereka menjawab: "Kami berada dalam keadaan beriman kepada Allah." Beliau bertanya: "Apakah tanda-tanda keimanan kalian?" Mereka menjawab:
1. "Kami bersabar terhadap musibah,
2. bersyukur atas nikmat kelapangan
3. dan menerima semua ketaatan Allah."

Beliau bersabda: "Kalau begitu, kalian benar-benar orang mukmin, demi Tuhan pemilik Ka'bah."

Pengertian yang senada diungkapkan oleh seorang ahli ma'rifat:
1. Sabar dengan tidak mengeluhkan apa pun yang dialami, seperti kesabaran manusia pada umumnya; ini adalah sabar tingkat tabi'in.
2. Sabar dengan menerima segala ketetapan Allah, seperti kesabaran orang yang tidak memperdulikan masalah duniawi; ini adalah sabar tingkatan orang-orang zuhud.
3. Sabar dalam pengertian menghadapi semua musibah dengan senang hati karena semuanya itu dari Allah belaka, seperti kesabaran orang-orang yang benar dalam imannya; ini adalah sabar tingkatan para shiddiqin.

Dalam satu Hadist Rasulullah S.A.W bersabda:
"Sembahlah Allah dengan senang hati. Jika kamu tidak mampu, maka hal yang terbaik bagimu adalah bersikap sabar menghadapi nasib yang tidak kamu sukai."


26. TIGA KEADAAN SAAT MENEMUI ALLAH DAN BALASANNYA
Allah telah memberikan wahyu kepada sebagian para nabi-Nya sebagai berikut:
1. "Barang siapa menghadap kepada-Ku dengan rasa rindu bersua dengan-Ku, niscaya Kumasukkan dia ke dalam surga-Ku.
2. Barang siapa menghadap kepada-Ku dengan rasa takut kepada-Ku, niscaya kujauhkan dia dari negara-Ku.
3. Barang siapa menghadap kepada-Ku dengan rasa malu, niscaya Kubuat lupa para malaikat-Ku untuk mencatat dosa-dosanya."



Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 15

Hasil gambar untuk perbuatan dosa

Pertemuan ke 15 ( 28 Juni  2019 / 24 Syawwal 1440 H

نَصَــــــائح الثــــــــــانِي
NASEHAT-NASEHAT KEDUAـ

22. TIGA PESAN ALLAH KEPADA NABI 'UZAIR

Diriwayatkan bahwa Allah telah berfirman kepada Nabi 'Uzair:
"Wahai 'Uzair,
1. jika engkau melakukan dosa kecil, maka janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada Dzat yang engkau durhakai.
2. jika engkau memperoleh kebaikan sedikit, janganlah engkau melihat kecilnya kebaikan, tetapi lihatlah kepada Dzat yang telah memberikan rizki itu kepadamu.
3. jika engkau tertimpa musibah, maka janganlah engkau mengadukan Aku kepada makhluk-Ku, sebab Aku juga tidak pernah mengadukanmu kepada para malaikat-Ku ketika engkau berbuat maksiat kepada-Ku."

Imam Ibnu 'Uyainah berkata: "Orang yang mengeluh kepada orang lain namun hatinya mampu bersabar dan ridha menerima semua ketetapan Allah, maka orang itu tidak dikatakan berkeluh-kesah, sebab pernah ketika Malaikat Jibril bertanya: 'Apa yang engkau rasakan?', Nabi S.A.W yang saat itu sedang sakit menjelang wafatnya menjawab: 'Wahai Jibril, aku sedang tertimpa kecemasan dan kesusahan.'"


23. TIGA JAWABAN SETAN

Hatim Al-Asham berkata: "Setiap pagi setan selalu bertanya kepadaku tentang tiga hal: 'Apa yang engkau makan? Apa yang engkau pakai? Di mana tempat tinggalmu?' Aku menjawab:
1. 'Aku sedang memakan (membayangkan pahitnya) mati;
2. yang aku pakai adalah kain kafan; dan 
3. tempat tinggalku adalah kuburan.'

Mendengar jawabanku itu setan langsung lari menjauhiku."

Nama lengkap Hatim Al-Asham adalah Abu 'Abdurrahman Hatim bin Ulwan. Ada juga yang menyebutnya Hatim bin Yusuf. Ia seorang ulama besar dalam bidang tashawwuf, berasal dari negeri Khusaran. Hatim Al-Asham artinya Hatim yang tuli. Dijuluki demikian karena kisah berikut: Suatu saat ada seorang wanita datang kepada Hatim untuk menanyakan sesuatu masalah. Tiba-tiba wanita tersebut kentut, sehingga merah wajahnya karena merasa malu. Untuk menutupi rasa malu wanita tersebut, Hatim berkata: "Keraskan suaramu, aku kurang bisa mendengar." Mendengar ucapan Hatim itu, wanita tersebut merasa senang dan rasa malunya pun hilang, karena ia yakin kentutnya pasti tidak terdengar oleh Hatim, padahal pendengaran Hatim masih normal, hanya saja ia berpura-pura tuli agar wanita itu tidak kecewa karena malu. Sejak saat itulah ia selalu dipanggil oleh masyarakatnya dengan sebutan Hatim Al-Asham (orang yang tuli).



Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 14 ( Spesial Ramadhan )

Hasil gambar untuk puasa ramadhan

Pertemuan ke 14 ( 26  Mei  2019 / 21 Ramadhan 1440 H

SPESIAL RAMADHAN 1440 H (3)

MENGHIDUPKAN 10 HARI AKHIR RAMADHAN
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaditerangkan bahwa;
كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله
“Apabila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan Nabi shallalahu alaihi wasallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keuarganya,. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan “beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya”.
MAKNA LAILATUL QODAR
Untuk memperoleh pemahaman yang jernih terkait malam lailatul qadar, Muhammad Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an, 1999) memberikan penjelasan terkait arti dan makna kata qadar. Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar, sebagai berikut:

èPertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan Firman Allah pada QS Ad-Dukhan ayat 3. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. 

Al-Qur’an yang turun pada malam lailatul qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

èKedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay’i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

èKetiga, qadar berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: "pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Al-Qur’an antara lain dalam ayat ke-26 Surat Ar-Ra’du: “Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya’ wa yaqdiru” (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya bagi yang dikehendakinya)

KEUTAMAAN LAILATUL QODAR
1. Al-Quran diturunkan (awal kali) di Lailatul Qadar
2. Beribadah pada malam itu lebih baik dibandingkan beribadah di 1000 bulan lain yang tidak ada Lailatul Qadar-nya
3. Pada malam itu para Malaikat turun ke bumi.
Para Malaikat yang merupakan penduduk langit turun ke bumi sehingga menimbulkan banyak kebaikan.
4. Keselamatan meliputi malam itu hingga terbit fajar.
Mujahid –seorang murid Ibnu Abbas- menjelaskan bahwa pada malam itu tidak ada penyakit dan syaithan sama sekali. Sedangkan Qotadah menjelaskan bahwa maksud keselamatan pada malam itu adalah kebaikan dan keberkahan (Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi (6/179-180)).
5. Pada malam itu ditulis takdir tahunan setiap makhluk. Ditulis takdir seluruh makhluk sejak malam itu hingga tahun berikutnya.
Di dalamnya ditetapkan setiap (takdir) perkara dengan penuh hikmah (bijaksana) (ad-Dukhan:4)
Pada Lailatu Qadar ditulis takdir seluruh makhluk hingga Lailatul Qadar tahun depan (sebagaimana dijelaskan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany dalam Fathul Baari).[]


Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 13 ( Spesial Ramadhan )



Pertemuan ke 13 ( 19  Mei  2019 / 14 Ramadhan 1440 H

SPESIAL RAMADHAN 1440 H (2)

MENGAPA MANUSIA BUTUH MAGHFIROH
Kurangnya pemahaman tentang maghfiroh atau ampunan, banyak orang muslim yang tak menghiraukan atau bahkan abai terhadap pentingnya mendapatkan maghfiroh atau ampunan. Apalagi setiap 10 hari kedua bulan Ramaadhan sesuai hadits nabi SAW adalah sesi Terbukanya maghfiroh.
Lalu muncul pertanyaan, sebegitu besarkan dosa dan kesalahan manusia, sehingga butuh maghfiroh atau ampunan daru Alloh ?
Maka kita masing-masing bisa menjawabnya, karena memang stigma kita dihadapan Alloh adalah “ mahallul khotho’ wan-nis-yaan “ yakni stigma tempat salah dan lupa, diperkuat lagi dengan hadits Rasululloh SAW. :

كل بني آدم خطاء, وخير الخطّائين التوابون". (الترمذي وابن ماجه والحاكم وصححه)
setiap anak cucu Adam pasti berbuat Dosa, dan sebaik-baiknya yg berbuat dosa adalah yang bertaubat’. (HR. At Tirmizi & Ibnu Majah) 
Untuk mendapatkan gambaran yang kongkrit, mari kita introspeksi melacak seberapa butuhnya kita akan maghfiroh, sehingga di 10 hari kedua ini, kita termotivasi untuk memaksimalkan kesempatan untuk meraih maghfirulloh.
Awal tujuan penciptaan manusia adalah sebagai kholifatulloh fil ardl, yakni wakil Alloh di bumi, sebagaimana firman Alloh :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” ( Q.S. al-Baqarah: 2/30 )
Yang mempunyai tugas “ memakmurkan bumi” atau menjaga kelestarian bumi sebagai base-camp kehidupan manusia.

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS.Huud:61)
Untuk menopang misi hidup dalam mengawal kelestarian alam di bumi itulah, manusia dianugerahi Alloh dengan akal, yang dengan akan itu dapat ditemukan teknik, strategi dan cara-cara yang efektif dan efisien untuk merealisasikan pemakmuran bumi.
Namun, selain memiliki fungsi kholifatulloh dan mempunyai misi imarotul ardl, manusia juga punya amanah kehidupan yang harus ia jalankan, yakni beribadah menyembah dan mengabdi kepada Alloh :


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

untuk menopang kesempurnaan ibadah inilah Alloh menganugerahi hidayatuddin atau petunjuk agama, agar manusia bisa berbakti dan mengabdi kepada Alloh, dengan harapan agar dapat kembali ke rumah asal manusia, yaitu surga, tempat Nabi Adam as. Dulu tinggal.
èDari penjelasan di atas:

Secara fisik manusia dianugerahi akal untuk membantu mengemban amanah kholifatulloh dalam menjaga kelestarian alam. Namun berapa sering kita khilaf dalam menggunakan akal kita, sehingga kita tidak menjaga kemakmuran alam, tapi justru merusaknya demi memenuhi nafsu kesenangan. Dan mal-fungsi akal yang mengakibatkan kerusakan alam ini telah ditegaskan Alloh  dalam Q.S. ar-Rum :41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Lalu  sejauh mana kita memanfaatkan akal kita, apakah untuk kemaslahatan atau menimbulkan kemadlorotan,  kalau kemadlorotan,kerusakan dan kemasiatan yang kita hasilkan dengan akan kita, maka berapa banyak dosa dan khilaf yang telah kita lakukan, dan masihkah kita tidak mengharap curahan maghfiroh Alloh, padahal untuk beristighfar, meohon ampun ataupun bertaubat, sungguh amat berat dan sulit mewujudkannya.

Secara psikis ruhaniyah manusia dianugerahi hidayah Islam, agar ia dapat beribadah dengan baik dan benar, sehingga hubungan dirinya dengan Alloh akan baik dan sempurna, yang menjadikan ia bisa kembali pulang ke kampung halaman yakni surga, tanpa harus tersesat dan mampir ke neraka.
Namun betapa sering kita menyalahgunakan hidayah agama, di mana hati nurani sebagai pusat kendali, sehingga mengakibatkan cacat dan buruknya pengabdian kepada Alloh, karena tidak ikhlas, riya’ atau takabbur dan lainnya, sehingga berakibat tertolaknya fungsi ibadah kita.
Bukankah kesalahan ruhani seperti ini juga tidak butuh maghfiroh ? dengan ketimpangan dan kecerobohan ruhani tersebut, masihkan kita tidak bahagia dengan masuknya kita ke 10 hari kedua di ramadhan ini.
Masing-masing kita dapat menjawabnya dalam diri kita masing-masing.


Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 12 ( Spesial Ramadhan )


Pertemuan ke 12 ( 12 Mei  2019 / 7 Ramadhan 1440 H

SPESIAL RAMADHAN 1440 H

Rahasia Ramadhan

Agar tumbuh rasa cinta akan datangnya ramadhan, dan lalu dikenang serta dirindukan kehadirannya setiap tahun, maka harus dibedah rahasia ramadhan yang membuatnya begitu istimewa dan layak dirindukan.

Rahasia pertama, Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, sebagaimana diterangkan dalam hadits, yang artinya : Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Dan setiap muslim rata-rata sudah tahu tentang hal itu, namun kenapa pelipatan pahala itu tidak memicu konsistensi perburuannya hingga akhir ramadhan, kemungkinan terdengar agak sulit dipercaya bahwa sebuah kebaikan dibalas dengan imbalan berlipat ganda, dan mereka menganggap biasa dan tidak istimewa karena imbalan itu tidak mereka terima cashfull saat itu juga, maka jawaban atas kebimbangan seperti ini adalah bahwa setiap amal muslim itu memang hamper 100% berorientasi akherat, atau dengan kata lain, bahwa pahala dan imbalannya akan berwujud investasi akherat yang akan menjadi bekal untuk merantau pulang ke kampung abadi tersebut.  Sedangkan yang diberikan di dunia hanyalah untuk sekedar memotivasi diri agar istiqomah, sebab seorang mukmin membatasi kenikmatan duniawi, sebagaimana dijelaskan dalam hadits : Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Dunia adalah penjara orang yang beriman, dan surganya orang kafir. (H.R. Muslim).
Dan lagi pula, keselamatan di kampung akherat itu butuh bekal yang amat sangat banyak, hal itu karena kehidupan akherat yang abadi dan selisih perhitungan yang jauh dengan kehidupan di dunia yang bertaut : sehari di akherat samadengan seribu tahun di dunia, sebagaimana firman Alloh : “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47)
Sehingga dibutuhkan bekal yang berlipat-lipat banyaknya dan itu dapat dipersiapkan oleh muslim dengan beribadah, khususnya yang pahalanya berlipat-lipat pula, dan tentu di bulan ramadhan-lah pahala berlipat itu dapat dengan mudah dicapai dan terpenuhi.

Rahasia kedua, i’tikaf yang paling utama, meski ada pendapat yang memandang boleh I’tikaf di bulan selain ramadhan, namun yang lebih kuat pendapatnya adalah bahwa I’tikaf hanya boleh dilakukan pada bula ramadhan, dan sangat dianjurkan pada 10 hari terakhir ramadhan.
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan mencari ridlo Alloh, sehingga dari segi kesulitan atau hal yang memberatkan, I’tikaf tidak termasuk dalam wilayah itu, namun efek yang bisa diraih dalam I’tikaf amatlah luar biasa, karena hanya dengan berdiam saja tanpa melakukan aktifitas ibadah apapun, seseorang yang I’tikaf mendapatkan pahala, apalagi jika ia mengamalkan amalaiyah ibadah, baik dzikir, membaca al-Qur’an atau tadabbur, maka pahalanya akan semakin berlipat pula.
Orang yang sering dan istiqomah dalam ber-I’tikaf tentu dapat merasakan ketenangan batin dan merasa sangat dekat dengan Alloh SWT, sehingga setiap bisikannya ia merasa akan selalu terdengar dengan jernih. Dan ketenangan batin itulah yang memotivasi dirinya untuk terus dan terus menantikan saat di mana dia dapat melakukan I’tikaf yang utama.

Rahasia ketiga, Lailatul Qadar, sebagaimana yang banyak dijelaskan, bahwa keutamaan lailatul qadar adalah setara atau senilai dengan 1000 bulan, dan itu sekitar 83/84 tahun, dan ini merupakan jumlah usia manusia yang matang.
Maka jika seorang muslim yang berpuasa ramadhan, lalu memenuhi malamnya dengan I’tikaf dan qiyam, tentu bisa menggapai lailatul qodar, dan efek lailatul qodar itu tentu akan menumbuhkan rasa cinta akan ramadhan, dan ramadhan menjadi saat yang selalu dinantikan dan dirindukan, sebagaimana nuansa syahdu yang dialami oleh para sahabat Rasulullah SAW, saat ramadhan akan berakhir, rata-rata mereka menangis sedih dan berharap bahwa sepanjang tahun dijadikan sebagai ramadhan.r

Itulah sekelumit yang terpendam dalam rahasia ramadhan, dan jika diamalkan dan dirasakan efek dan akibatnya, tentu kita akan senang dan cinta ramadhan dengan cinta murni, dan dari cinta itu-lah akan muncul rasa rindu untuk menantikan kehadiran ramadhan dari tahun ke tahun, serta memanfaatkan momen tramadhan secara optimal dan  maksimal.
Semoga Alloh selalu mempertemukan kita dengan ramadhan dalam nuansa hati yang cinta dan rindu, aamiin yaa robbal ‘aalamiin





Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 11

Hasil gambar untuk rahasia Allah


Pertemuan ke 11 ( 24  April  2019 / 19 Sya’ban 1440 H

نَصَــــــائح الثــــــــــانِي
NASEHAT-NASEHAT KEDUAـ

20. TIGA SUNAH YANG HARUS DIMILIKI SETIAP MUSLIM
'Ali R.A pernah mengatakan:
"Barang siapa memiliki
1. sunnatullah;
2. sunnah Rasul-Nya; dan 
3. sunnah para wali.
maka dia tidak punya kebaikan sedikit pun."

Ketika 'Ali R.A ditanya apa yang dimaksud dengan sunnatullah itu, 'Ali menjawab: "Menyembunyikan rahasia." 'Ali R.A ditanya lagi: "Apa yang dimaksud dengan sunnah Rasul itu?" 'Ali menjawab: "Bersikap ramah kepada sesama manusia." 'Ali R.A lalu ditanya: "Apa yang dimaksud dengan sunnah para wali itu?" 'Ali menjawab: " Sabar dalam menghadapi perlakuan yang menyakitkan hati."

'Ali R.A juga berkata:
"Orang-orang sebelum kami juga biasa saling mengingatkan dan berkirim surat dengan tiga hal berikut ini:
1. Barang siapa beramal untuk kepentingan akhiratnya, maka Allah akan memelihara urusan agama dan dunianya.
2. Barang siapa yang baik batinnya, maka Allah akan memperbaiki lahirnya.
3. Barang siapa yang ikhlas amal ibadahnya kepada Allah, maka Allah akan menjamin kebaikan hubungan antara dia dan sesama manusia."


21. TIGA FAKTOR PEMBENTUK KEPERIBADIAN
'Ali R.A pernah berkata:
1. "Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah
2. Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu
3. Jadilah manusia biasa di hadapan orang lain."

Syekh 'Abdul Qadir Jailani berkata: "Bila engkau bertemu dengan seseorang, hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu: "Boleh jadi dia lebih baik di sisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya."

Jika dia orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu, maka katakanlah dalam hatimu: 'Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa, maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada aku.'

Bila dia orang yang lebih tua, maka hendaknya engkau mengatakan dalam hati: 'Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku.'

Jika dia orang 'Alim, maka katakan dalam hatimu: 'Orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya.'




Bila dia orang bodoh, maka katakan dalam hatimu: 'Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada-Nya, padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khatimah atau su'ul khatimah).'

Bila dia orang kafir, maka katakan dalam hatimu: 'Aku tidak tahu bisa jadi dia akan masuk Islam, lalu menyudahi seluruh amalnya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu menyudahi seluruh amalku dengan amal yang buruk.'"

Dalam padangan Islam semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status sosial, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikannya. Manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketaqwaannya di antara mereka. Oleh karena itu, sebagian ulama berdo'a dengan do'a berikut:

"Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersabar dan bersyukur; jadikanlah aku seorang yang hina menurut pandangan diriku sendiri; dan jadikanlah aku orang yang besar menurut pandangan orang lain."



 

Kontak