Resto Ruhani Magetan

Menyajikan menu dan asupan jiwa, agar tidak kelaparan dan kehausan

General Manager sekaligus Barista

Kiprah dakwahnya diabadikan dalam web ini, sebagai kepedulian atas penyajian asupan ruhani

Majelis Kajian Tafsir

Al-Qur'an sebagai sumber utama hukum Islam, mempelajarinya menjadi sangat urgen, sebaik-baik kamu adalah yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya.

Mudarosah Kajian Fiqih

Ilmu Fiqih sebagai referensi tatacara amaliyah ibadah badaniyah, menjadi urgen untuk dipahami agar dapat ber-Islam secara sempurna

Kajian Kitab Minhajul Abidin

Amaliyah jasidah tak akan sempurna tanpa ilmu amaliyah bathiniyah, kajian ini perlu agar ibadah membuahkan karakter terpuji

Tampilkan postingan dengan label al Baqarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al Baqarah. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 18, 2019

Makata : Al-Baqarah : 10

 

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ



Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Sabtu, Februari 16, 2019

MaKaTa : Al-Baqarah : 8

 


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

 


Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.


Tafsir Quraish Shihab :
Di antara golongan yang ingkar itu terdapat sekelompok manusia yang mengatakan sesuatu yang sesungguhnya tidak lahir dari dalam hati nurani mereka. Dengan maksud memperlihatkan keimanan, mereka berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari kiamat." Padahal sesungguhnya perkataan itu tidak benar. Maka dari itu, mereka tidak termasuk golongan orang yang beriman.
Tafsir Jalalin :
(Di antara manusia ada orang yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.") yaitu hari kiamat, karena hari itu adalah hari terakhir. (Padahal mereka bukan orang-orang yang beriman). Di sini ditekankan arti kata 'orang', jika kata ganti yang disebutkan lafalnya, yakni 'mereka'.

Jumat, Februari 15, 2019

Makata - AL-Baqarah : 7



 خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Terjemah Arti: Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.




Tafsir Muyassar:
7. Karena Allah telah menyegel dan menutup hati mereka beserta kebatilan yang ada di dalamnya. Allah juga menutup telinga mereka sehingga tidak bisa mendengarkan kebenaran untuk diterima dan diikuti. Allah juga menutup mata mereka sehingga tidak bisa melihat kebenaran yang sangat jelas di hadapan mereka. Kelak di akhirat mereka akan mendapatkan azab yang sangat berat.
Zubdatut Tafsir:
Allah telah mengunci hati mereka dengan kekafiran mereka keimanan tidak berlaku bagi hati mereka. Mereka tidak mau mendengarkan kebenaran, melihat petunjuk, dan berpikir. Dan bagi mereka azab yang amat sangat pedih. Asbabun Nuzul (Penyebab turun) dua ayat ini sebagaimana Ath-Thabari mengatakan dari Ibnu Abbas dan Al-Kalbi bahwa kedua ayat tersebut turun di Romawi Yahudi, di antara mereka yang menyaksikan turunnya dua ayat ini adalah Hayy bin Akhthab dan Ka’b bin Asyraf

Kamis, Februari 14, 2019

MaKaTa : Al-Baqarah : 6

 


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

 


Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.



Tafsir Quraish Shihab :
Begitulah ihwal golongan yang diberi petunjuk. Adapun golongan manusia yang bodoh, yang tidak memiliki kesiapan beriman oleh sebab keacuhan dan sikap membangkang mereka, baik kamu beri peringatan kepada mereka atau tidak, sekali-kali mereka tidak akan memenuhi panggilan Tuhan.
Tafsir Jalalin :
(Sesungguhnya orang-orang kafir) seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya (sama saja bagi mereka, apakah kamu beri peringatan) dibaca, a-andzartahum, yakni dengan dua buah hamzah secara tegas. Dapat pula hamzah yang kedua dilebur menjadi alif hingga hanya tinggal satu hamzah saja yang dibaca panjang (atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.) Hal itu telah diketahui oleh Allah, maka janganlah kamu berharap mereka akan beriman. 'Indzar' atau peringatan, artinya pemberitahuan disertai ancaman.

Rabu, Februari 13, 2019

MaKaTa 8 : Surah : Al-Baqarah : 5


Hasil gambar untuk al baqarah ayat 5
Edisi N0: (8) Januari 2010 M/Shafar 1431 H

Surah : al-Baqarah ayat : 5

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Terjemahannya : Mereka itulah orang yang berada dalam hidayah ( bimbingan) Tuhan ( Allah ), dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ( bahagia )

Mukaddimah :

Akhir sifat orang mukmin pada awal Surah al-Baqarah adalah ayat 5 ini, yakni bahwa diantara tanda-tanda orang mukmin adalah : percaya kepada yang ghaib, mendirikan shalat, berinfaq, beriman kepada al-Qur'an dan kitab serta shuhuf yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi saw, serta beriman kepada datangnya hari akhir ( qiyamah ), dan mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah orang yang benar berjalan dalam petunjuk dan hidayah Allah, di mana pada ayat ke 2 dari surah al-Baqarah telah dijelaskan bahwa al-Qur'an adalah petunjuk ( hidayah ) bagi orang yang mukmin.
Sehingga arti petunjuk dalam kontek ini adalah beriman kepada Allah dan beriman kepada rukun iman yang lainnya secara sempurna dan tertib, yang demikian ini dapat dipahami secara terbalik, bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang menyimpang dari hidayah Allah, yang tentunya akan mendapatkan akibat sesuai dengan kondisi dirinya, sebab di dalam surah al-Fatihah telah dijelaskan bahwa pertolongan yang selalu diharapkan oleh manusia adalah menjadi hamba Allah yang mendapatkan curahan kenikmatan, dan maksud kenikmatan di sini adalah hidayah Allah ( keimanan )

Bahasan : (A ) Hidayah Allah :

Hidayah atau petunjuk Allah adalah merupakan hak prerogatif Allah yang tidak satu makhluk-pun dapat memberikannya kepada yang lain, sehingga hidayah Allah harus dicari dan diupayakan, dan tidak sekedar ditunggu-tunggu. Disamping itu Allah menjadikan beberapa hal sebagai sumber hidayah, dimana ketika manusia mau mendekati atau mendatangi sumber itu, ada harapan besar untuk mendapatkan hidayah Allah, meski tidak mutlak, artinya tidak semua manusia yang mendatangi sumber hidayah itu secara otomatis mendapatkan hidayah, karena memang hidayah Allah adalah hak otoritasNya yang bisa diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki, dan dicabut dari siapa saja yang dikehendaki pula, namun dengan mendatangi sumber hidayah Allah paling tidak telah menjalani ihtiar dan usaha untuk mendapatkan hidayah Allah.
Diantara sumber hidayah itu anatara lain : Al-qur'an, masjid dan tempat ibadah, majelis-majelis ilmu, majelis dzikir, orang mukmin dan tempat-tempat sebagai pusat kebaikan di manapun juga merupakan sumber hidayah, sehingga mereka yang mau mendatangi, kemungkinan besar akan mendapatkan, sebagaimana orang yang ingin mendapatkan air lalu ia mendatangi sumur atau sumber air, maka kemungkinan menemukan air adalah besar, meski terkadang airnya habis atau tidak ada, namun ia telah melakukan ihtiar dan usaha untuk mendapatkannya.
Sebaliknya, orang yang ingin mendapatkan air dan dia enggan mendatangi sumber air, maka jelaslah orang tersebut sama saja dengan mimpi dan berangan-angan, pun demikian orang yang hendak mendapatkan hidayah, maka sebagai bentuk usahanya dia harus mendatangi sumber-sumber hidayah.
Mengapa hidayah Allah begitu penting bagi manusia ?
Maka jawabannya tentulah karena hidayah Allah adalah satu-satunya kunci kebahagian hidup, bukan hanya di dunia fana ini saja, tapi juga kebahagiaan di alam akherat alam baqa ( keabadian ). Sehingga manusia yang menginginkan merasa bahagia dalam menjalani hidup di dunia dan di akherat kelak, tentu mutlak diperlukan " hidayah Allah " karena dengan hidayah itulah dia bisa berjalan di atas jalan yang diridloi Allah. Ibaratkan hidup di dunia ini menuju pada sebuah titik sasaran, maka hidayah Allah merupakan peta yang dapat membimbingnya menuju tepat sasaran dan agar tidak tersesat, sehingga sumber kebahagiaan hakiki bagi manusia adalah Hidayah Allah swt.

Bahasan : (B ) Kebahagiaan Manusia

Tidak bisa dipungkiri oleh siapapun manusia di dunia ini, bahwa setiap gerak hidupnya selalu bertujuan untuk menggapai kebahaiaan.
Ia bekerja membanting tulang, dia belajar dengan susuah payah dan sebagainya, tentulah dalam rangka menggapai kebahagiaan hidup.
Telah dijelaskan di depan, bahwa hakekat sumber kebahagiaan itu adalah hidayah Allah, dan diantara tanda-tanda orang yang mendapat hidayah Allah adalah orang yang beriman ( mukmin muttaqin ), maka dengan pengertian awam bahwa untuk menggapai kebahagiaan itu mutlak diperlukan pemahaman dan pemanfaatan peta hidup, agar dapat menggapai bahagia secara efektif dan efisien yakni dalam waktu yang tidak lama dan dengan pembiayaan yang tidak mahal, sebagimana hadits Nabi saw yang disampaikan sebelum beliau wafat, dan merupakan warisan beliau bagi umatnya :
Inni taroktu fiikum amroini, lan tadhillu ba'da maa tamaasaktum bihimaa, Kitaaballoh ( al-Qur'an ) wa sunnata rasuulihi ( al-Hadits)
Artinya : Aku mewariskan kepada kamu sekalian wahai umatku, dua perkara yang jikalau kalian berpegang teguh padanya dengan kuat, maka tidak akan sesat, yakni al-Qur'an dan al-Hadits.
Dan kebahagiaan yang dimaksudkan adalah kebahagiaan ganda dua alam : (1) alam dunia dan (2) alam akherat. Dan itu telah jelas saat manusia bermunajat dengan " do'a sapu jagad " " ROBBANAA AATINA FID-DUN-YAA HASANAH....... "
Dan diakhir ayat 5 surah al-Baqarah ini Allah menegaskan " wa ulaa ika humul muflihuun " / dan mereka itulah yang mendapatkan kebahagiaan. Yakni kabahagiaan dunia dan akherat, karena telah berpegang tegung pada hidayah Allah dengan beriman secara benar dan merealisasikan keimanan itu dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang dijelaskan pada hikmah-hikmah keimanan pada edisi sebelumnya.
Bagaimana seorang yang berada dalam hidayah Allah tidak bahagia? Padahal dalam menjalani peliknya kehidupan ia selalu bertujuan hanya kepadaNya. Kepentingan materi duniawi hanyalah sebagai sarana untuk Menuju kepadaNya.
Dengan keyakinan dan keimana yang benar itulah, seorang mukmin memiliki sugesti dan semangat yang luar biasa saat dia dirunduk duka dan nestapa, dan ia juga mempunyai kekuatan untuk tidak lepas dari keuasaan Allah, karena ia menyadari bahwa segala apa yang dirasakan dan diraih juga karena ijin Allah.
Kewaspadaan akan godaan hidup senantiasa memicu semangatnya untuk menjadi yang terbaik, memahami rangkaian kehidupan di dunia ini sebagai wahana lomba yang amat sulit dan melelahkan, sehingga kekuatan hidayah Allah mampu menjadi penyemangat saat ia akan jatuh ke jurang putus asa, dan di sisi lain hidayah Allah membekali kesadarannya bahwa kesuksesan hidup tidak bisa lepas dari qudrat dan irodat Allah.
Kunci dalam menggapai hidayah Allah adalah istiqomah, padahal istiqomah sulit tercipta tanpa kesungguhan dalam melakukan upaya dan ihtiar.....
Dari bahasan diatas dapatlah disipulkan secara sederhana, bahwa inti kebahagiaan yang didamba oleh semua manusia ada dalam " nuansa hidayah dan petunjuk Allah".... dan hidayah Allah harus dicari dan diupayakan, dan tidak serta merta datang dengan sendirinya. Dan upaya untuk menjadikan hidayah Allah sebagai peta kehidupan harus dibuktukan dengan amaliyah nyata, yakni meyakini dan mengimani dengan hati secara tulus, lalu mengamalkan secara istiqomah dengan amaliyah ibadah syariah jasmaniyyah.
Demikian bahasan tentang sifat orang-orang mukmin, yakni orang yang hidup dengan naungan hidayah Allah swt. semoga menjadi pemahaman yang penuh dengan barokah. Amin
Walloohu a’lamu bish-showaab
-------------------------------------------------
Manakala hati bergerak sesuai dengan al-Qur'an dan as-sunnah, maka ia menjadi dekat dengan Allah, dan manakala ia telah dekat dengan Allah, ia akan memperoleh pengetahuan, dan dengan pengetahuan itulah ia dapat memilih jalan menuju kebahagiaa dan tidak tersesat ke jalan yang menghinakan...... ( Syekh Abdul Qadir Jailani : " Menangkis Bisikan Jahat, hal.24 )

Selasa, Februari 12, 2019

MaKaTa 7 : Surah : Al-Baqarah : 4

Hasil gambar untuk tafsir

Edisi N0: 7 – Januari  2010 M/Dzul Hijjah 1431 H
Surah : al-Baqarah ayat : 4

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Terjemahannya : Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu ( al_qur'an ) dan kepada apa yang diturunkan kepada nabi sebelum kamu, dan mereka beriman kepada hari akhir.

Mukaddimah :

Sebagaimana yang disepakati para Jumhur Ulama, bahwa rukun iman itu ada enam (6) perkara.. dan pada ayat 4 Surah al_Baqarah ini disampaikan iman kepada Kitab Allah, dan iman kepada Hari Akhir.
Setelah dikemukakan di dalam ayat sebelumnya, diantara tanda orang yang beriman adalah : iman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka pada ayat ini Allah menjelaskan sifat orang mukmin yang lain, yakni : mempercayai dan meyakini bahwa Allah telah memberikan ( menurunkan ) kitab atau mush-haf kepada setiap nabi dan rasul sesuai dengan zaman dan umatnya......, seperti : Kitab Zabur kepada nabi Daud as., Taurat kepada nabi Musa as., Injil kepada nabi Isa as. Serta shohiifah ( lembaran-lembaran ) kepada nabi-nabi yang lain.

Bahasan : (A ) Iman kepada Kitab Allah 

Percaya kepada kitab Allah yang diturunkan kepada nabi dan rasul sebelum kanjeng nabi Muhammad adalah meyakini bahwa kebenaran ajaran tauhid sejak nabi Adam as. Selalu dipandu dengan kitab maupun shuhuf, sehingga manusia tidak akan mungkin menciptakan kebenaran itu sendiri, atau mengaku sebuah kebenaran mutlak atas inisiatifnya sendiri. Nabi dan rasul saja sebagai manusia pilihan yang diutus menyampaikan risalah kepada umat, masih dipandu dengan kitab maupun shuhuf.
Disamping itu mengimani maksudnya bahwa nilai-nilai tauhid yang disampikan Allah dalam kitab-kitab dan shuhuf terdahulu saling berkesinambungan hingga puncaknya adalah ajaran yang termaktub di dalam al-Qur'anul Karim....
Namun nilai kebenaran yang terkandung dalam syari'at ( laku lampah ) pada umat terdahulu tentu bervariasi dan ber-beda beda sesuai dengan kondisi unat tersebut..... dengan kata lain, bahwa syariat umat nabi Adam berbeda dengan umat nabi Idris, Nuh, Hud, Sholeh dan seterusnya;. Dan karena al-Qur'an merupakan mukjizat terakhir yang diturunkan kepada nabi dan rasul terakhir, maka nilai dan syari'atnyapun bersifat merangkum nilai-nilai sebelumnya dan bersifat komplek serta universal ( sangat umum ). Dan semua gerak hidup manusia telah di atur ( secara benar ) dalam al-Qur'an tersebut, sehingga saat ditanya oleh sahabat tentang akhlaq Rasulullah sehingga beliau mendapat gelar " La 'alaa khuluqin 'adhiim " sebagai sosok berakhlak mulia secara paripurna, menjawab bahwa pola laku Rasul adalah " Inna khuluqohul Qur-'aan " ( sesungguhnya akhlaq beliau adalah ala al-Qur'an ), sehingga meyakini dan mengimani kitab Allah hikmahnya adalah :
1. Merasa bahwa seluruh rangkaian hidup, sejak zaman nabi Adam as, hingga kapanpun, manusia tidak bisa lepas dari aturan yang ditentukan oleh Allah, sehingga mencari dan berusaha keluar dari aturan dalam bentuk apapun hanya akan sia-sia saja.
2. Berpandangan positif, bahwa aturan Allah melalui kitab-kitab dan shuhuf pada dasarnya demi kebahagiaan manusia dan demi kemaslahatannya, bukan untuk mengekang, membatasi atau sejenisnya. Justru dengan aturan yang tertuang dalam kitab-kitab, khususnya al-Qur'an kehidupan manusia menjadi lebih harmonis antara dirinya dan makhluk di sekelilingnya, termasuk manusia, flora dan fauna serta makhluk lain. Hasan al-Banna menyatakan " Ni'mal 'aiysy tahta dhilaalil qur'an " ( hidup yang paling enak adalah dibawah naungan al-quran )

Bahasan (B ) Beriman kepada hari akhir / Kiyamat

Di dalam ayat 4 Surah al-Baqarah ini juga dibahas tentang rukun iman ke 5, yakni : beriman kepada hari akhir/kiyamat, yakni hari berakhirnya kehidupan dunia yang bersifat fana’, dan keadaan saat datangnya kiyamat itu telah sering dijelaskan di dalam al-qur’an sedemikian dahsyatnya.
Adapun mengenai saat datangnya hari kiyamat tersebut, hanya Allah-lah yang mengetahu, dan tak satu makhluk-pun yang bisa tau tentang waktu dan saat terjadinya, sehingga tidak perlu dipaksakan untuk tahu, meski dalam beberapa hadits Nabi saw, banyak dibahas juga tentang tanda-tanda datangnya hari kiyamat tersebut, namun kepastiannya tetap menjadi rahasia dan hak prerogatif Allah saja.
Yang lebih penting untuk dibahas dalam hal akan datangnya hari kiyamat adalah hikmah dalam meyakininya, sehingga orang yang yakin akan datangnya hari akhir/ kiyamat harus mampu mengambil hikmah dari keyakinannya itu, yakni antara lain :
1. Mejadi pendorong semangat untuk memperbanyak bekal kelak hidup di alam akhirat, karena telah menjadi keyakinan orang mukmin pada bagian bahasan terdahulu, bahwa akan ada kehidupan kekal nanti di akherat, dan untuk keperluan hidup di alam tersebut diperlukan bekal yang tidak sedikit, karena perbandingan perhitungan waktunya yang begitu mencolok, yakni 1 hari di akherat=1000 tahun di dunia. Dan bekal di alam akherat hanya dapat dicapai dengan (a) kualitas iman dan takwa yang prima dengan mengamalkan secara istiqomah kewajiban ibadah yang telah ditentukan di dalam syari’at baik yang mahdloh ( ibadah yang telah dicontohkan paketnya oleh Nabi saw, seperti sholat, zakat, puasa, haji dll.) (b) dengan amal sholeh/ kebaikan yang bersifat dan berorientasi untuk kemaslahat makhluk ( manusia, tumbuhan dan hewan ) dengan berperilaku terpuji dan tulus ikhlas.
2. Mempersempit hal-hal yang berakibat buruk di kehidupan akherat, yakni dengan menahan diri utnuk tidak berbuat sesuatu yang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala, dengan menjauhi larangan-larangan Allah, baik yang termasuk kategori kecil maupun yang besar, hal ini perlu karena manusia seringkali terpedaya, bahwa dosa kecil itu tidak mempengaruhi amal, padahal dosa-dosa kecil yang sering dilakukan dan diulang, akhirnya akan menjadi besar, dan mungkin juga berakibat tidak mendapat ampunan dari Allah swt.
3.Meningkatkan kehati-hatian dalam hidup, agar dapat secara istiqomah taat kepada perintah Allah, dan agar dapat menjauhi sekuat tenaga larangan- laranganNya, sehingga tercipta sifat suka muhasabah ( introspeksi) dan sering berfikir panjang tentang akibat sebuah perbuatan yang dilakukan.
Demikian hikmah beriman kepada Kitab Allah ( Al-Qur’an ) dan beriman kepada hari akhir, sebagai bahasan dari ayat 4 Surah al-Baqarah, semoga menjadi pemahaman yang penuh dengan barokah. Amin
Walloohu a’lamu bish-showaab

MaKaTa 6 : Surah : Al-Baqarah : 3





Edisi N0: 6 -Januari 2010 M/ Muharram 1431 H

Surah : Al-Baqarah : ayat 3

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

Terjemahannya : (3) ( Yaitu ) orang-orang yang beriman( percaya ) kepada yang ghaib, dan mendirikan shalat, dan menginfakkan ( sebagian) rizki dari Allah

Mukaddimah :

Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa awal surah Baqarah sebanyak 4 ayat menjelaskan tanda dan ciri-ciri orang yang takwa ( Muttaqin ). Dan dari ayat 3 inilah ciri-ciri muttaqin itu akan dimulai, dimana di dalamnya menjelaskan 3 ( tiga ) sifat sekaligus :
1. Iman ( percaya ) kepada yang ghaib
2. Mendirikan Shalat
3. Menafkahkan sebagian harta
Telah banyak dikupas dan dijelaskan tentang poin-poin tersebut di atas, namun dalam menjelaskan penafsiran masing-masing ciri, tentulah sangat banyak dan luas bahasannya. Dalam risalah kajian ini hanya akan dikemukakan poin-poin pentingnya saja, Insya Allah.

Bahasan 1 : Percaya kepada yang ghaib

Maksudnya adalah meyakini bahwa atas kekuasaanNya, Allah menciptakan makhluk di luar dimensi manusia, seperti : Qiyamah, Akherat, Surga, Neraka, bahkan Jin yang tidak kasatmata.
Dalam membahas tentang alam ghaib erat kaitannya dengan hal-hal yang tidak mampu dilihat oleh mata telanjang manusia, namun dapat dikenal melalui dalil-dalil dan nash-nash ( hadits dan al-Qur'an ) yang dalam ilmu Tauhid biasa disebut dengan " as-Sam-'iyyaat " yakni: sesuatu yang hanya dapat didengar namun harus diyakini sebagai prasarat " keimanan "

Diantara hikmah " percaya kepada yang ghaib " adalah :
1. Menekan sifat sombong, congkak dan riya'. Karena dengan meyakini adanya semua yang ghaib itu berarti dunia yang ditempati saat ini hanyalah merupakan stasiun yang harus disinggahi dari sekian banyak stasiun kehidupan, mulai : alam arwah, alam rahim, alam dunia, lalu menuju : alam kubur, qiyamah, mahsyar ( padang tempat berkumpulnya manusia setelah qiyamah ), hisab ( penghitungan amal ), mizan ( timbangan amal ), shirath ( titian akherat ), surga ( Tempat puncak segala kenikmatan )/ neraka ( Tempat puncak segala siksaan ).
2. Bersungguh-sungguh dan semangat dalam menyiapkan bekal untuk perjalanan melintasi kehidupan di alam berikut, setelah alam dunia. Dengan beribadah hanya kepada Allah ( ikhlash )
3. Berhati-hati dalam menjalani dan menuntaskan amanah kehidupan

Bahasan 2 : Mendirikan shalat

Shalat bukan hanya dilaksanakan dan dikerjakan, tapi harus ditegakkan dan didirikan, dan makna mendirikan shalat adalah : Menyempurnakan wudlu ( pra shalat ), menepati waktu yang telah ditetapkan, menyempurnakan gerakan shalat ( tumakninah ) dan melaksanakan shalat secara ikhlas ( khusu' )
Sehingga mendirikan shalat pada dasarnya adalah : melaksanakan shalat tepat pada waktunya, di dahului dengan wudlu yang sempurna, dan dilaksanakan secara khusu' dan tumakninah. Khusu' artinya jiwa dan hati yang hudlur menghadap Allah tanpa berpaling kepada yang lain saat melaksanakan shalat, sehingga secara ruhaniyah terjadi penghadapan kepada Allah dengan sempurna. Dan Tumakninah adalah tertib dan sempurnanya gerakan fisik, yakni berdiri secara tegak, tidak berdiri sebelum ruku' secara sempurna, demikian juga saat sujud dilakukan hingga 9 anggota badan ( dahi, hidung, bibir, dua telapak tangan, dua lutut dan dua jemari kaki ) menyentuh lantai. Yang pada intinya adalah secara fisik dilaksanakan secara sempurna dan paripurna, tanpa ada kesan tergesa, setengah hati atau ogah-ogahan.
Yang masih menyisakan permasalahan dari shalat ini adalah sulitnya untuk khusu'. Maka untuk melaksanakan shalat secara khusu', dirangkum dari beberapa hadits dan pendapat para ulama adalah sebagai berikut :
1. Persiapkan diri dalam waktu secukupnya, yakni umpama waktu shalat maghrib adalah pukul 17.45, maka hendaklah sudah melakukan persiapan minimal pukul 17.00, hal ini dimaksudakan agar hati dan jiwa telah terkondisi untuk melaksanakan shalat. Dan sambil menunggu datangnya waktu shalatpun hendaknya diisi dengan hal-hal yang bersifat ukhrawi ( tazkiyah nafs/ pensucian jiwa ) dengan dzikir, baca Al-Qur'an atau pencerahan melalui pendalam ilmu agama.
2. Sebaiknya dilakukan di Masjid, atau tempat khusus untuk shalat, agar terhindar dari godaan pandangan, pendengaran dan penciuman selain nuansa shalat.sebab yang paling cepat membuat tidak khusu' shalat adalah pandangan, pendengaran dan penciuman duniawi yang mudah menangkap kilatan rasa manusia untuk berpaling dari hakekat shalat.
3. Lakukanlah secara berjama'ah, karena dapat menyelamatkan nilai shalat yang dilaksanakan, yakni apabila imam khusu' dan makmum tidak, maka dinilai sebagai khusu' karena fadhilah berjama'ah dan demikian pula sebaliknya, dan bila keduanya-pun tidak dapat khusu' maka masih mendapatkan fadhilah berjama'ah.
4. Kembalikan jiwa dan hati yang lepas ( saat shalat ) kepada shalat setiap kali berpaling, dan jangan ditunda-tunda, yakni manakala jiwa hendak berkelana karena ketertarikan atau karena teringat sesuatu selain shalat, maka hendaknya segera dikembalikan dan disadarkan kepada shalat kembali, demikian secara berulang-ulang.

Bahasan 3 : Berinfaq

Yang dimaksudkan dalam kaitan dengan ini adalah " pengelolaan harta benda " sebagai rizki pemebrian Allah dengan jalan yang benar menurut syara'. Dan dirangkum dari pendapat para ulama, yang dimaksudkan dengan " berinfak " dalam ayat ini adalah :
1. Zakat : sebagai kewajiban bagi mereka yang memiliki harta yang telah mencapai nishab ( batas minimal wajib mengeluarkan zakat ), maupun haul ( bertahan selama setahun ) untuk mengeluarkan sebesar 2.5% nya untuk membersihkan nilai harta yang dimiliki, dan untuk mensucikan jiwa pemiliknya dari sifat-sifat tercela seperti kikir, bakhil dan lainnya, dalam hal zakat maal ( niaga, uang, emas maupun profesi dll ).
2. Infaq : yakni amalan sunnah mu'akkadah ( sunnah yang harus diupayakan ) dalam mewujudkan kepedulian terhadap dakwah dalam meninggikan kalimah Allah, dengan mengeluarkan sebagian harta baik berupa uang, material maupun tenaga dan fikiran dalam mewujudkan kemaslahatan umat dan pemenuhan serta penyediaan sarana prasarana untuk itu, seperti pembangunan masjid, perbaikan/renovasi madrasah, rumah sakit, maupun panti yatim dan jompo dan lain-lain yang menyangkut fasilitas umum dan sarana bersama.
3. Shadaqah : berasal kata shadaqa berarti membenarkan, yakni amalan sunnah sebagai pembuktian dan pembenaran dari rasa syukur atas karunia Allah dengan mengeluarkan sebagian harta benda yang " menjadi barang lebih " dalam arti melakukan aktifitas berbagi/sharing dengan orang lain dalam bentuk " memberikan sebgian harta benda " yang tidak mungkin dihabiskan sendiri atau kelebihan dari apa-apa yang dimiliki menurut standar kewajaran. Yakni: andai kebutuhan sekali makan itu standar-nya satu atau dua piring, maka apabila memiliki 3 atau lebih piring (menurut sunnahnya ) adalah diberikan/dibagikan kepada orang lain sebagai bentuk shadaqah. Mengapa pula harus menurut standart kewajaran? Karena kalau memperturutkan hawa nafsu, tiga gunung emas-pun belum mencukupi keinginan manusia, karena merasa belum cukup adalah bisikan hawa nafsu untuk membuat seseorang itu tamak, serakah dan tidak qona'ah. Apalagi Allah telah mengingatkan : bahwa di dalam rizki yang telah dianugerahkan kepada manusia itu, dititipkan pula bersamanya " hak para fakir miskin dan dhu'afa' yang membutuhkan uluran tangan "

MaKaTa 5 : Surah : Al-Baqarah : 1-2



MaKaTa Edisi N0: 5 -Januari 2010 M/ Muharram 1431 H

 Surah : Al-Baqarah : 1-2
الــم {1} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ {2}
Terjemahannya : (1)alif laam miim (2)Kitab ( Al-Qur'an ) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa .
Mukaddimah :

Beberapa surah dalam al-Qur'an dibuka dengan huruf abjad, seperti : Alif Laam Miim, Alif Laam Raa, dan lain sebagainya. Makna huruf-huruf itu hanya Allah lah yang tahu( ini pendapat Qurthuby dari Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ibnu Mas'ud ). Ada juga yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama-nama surah ( menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam ) dan ada pula yang berpendapat bahwa gunanya untuk menarik perhatian, atau untuk mengisyaratkan bahwa al-Qur'an itu diturunkan dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad tersebut. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu merupakan sumpah Allah ( Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu 'Abbas.
Surah al-Baqarah terdiri dari 25.500 huruf, 6.120 kata dan 286 ayat. Dan diantara fadhilah surah al-Baqarah sebagimana dijelaskan dalan Tafsir Ibnu Katsir Juz 1, hal : 147, adalah:
1. Dalam Hadits Ahmad, Rasul saw, bersabda : " bahwa surah al-baqarah adalah mahkota al-Qur'an dan aksesorisnya, diwahyukan dengan dikawal 80 malaikat pada setiap ayatnya "
2.Dalam Sunan at-Tirmidzi hadits ke 3121, Sunan an-Nasa'i (10913) dan Sunan Ibnu Majah(1448)yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasul saw bersabda :" setiap sesuatu itu memiliki mahkota, dan mahkota al-Qur'an adalah al-Baqarah, di dalamnya ada satu ayat termulia di dalam al-Qur'an, yakni ayat kursiy "
3. Dalam Musnad Ahmad, shohih Muslim, Tirmidzi dan Nasa'i, Rasulullah saw bersabda : ' Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surah al-Baqarah tidak akan dimasuki syetan " HR. Tirmidzi.
Dan masih banyak lagi fadhilah lain, diantaranya ada sahabat Hudloir saat membaca surah al-Baqarah pada malam hari saat kuda tunggangannya gelisah dan bergerak-gerak liar, maka secara tiba-tiba diam dan jinak.
Bahasan ayat 2 :
Kitab ( Kitabullah ) pada ayat 2 ini adalah nama lain dari al-Qur'an. Selain itu ada nama lain, seperti : al-Furqaan ( yang membdakan antara yang haq dan yang bathil ) , Adz-Dzikr ( sarana mengingat Allah ). Dan Imam as-Suyuthi menyebutkan dalam kitab " Itqan " nama lain dari al-Qur'an adalah : al-Mubiin, Al-Kariim, al-Kalaam, dan an-Nuur.
Bahwa kandungan al-Qur'an yang memuat tatacara kehidupan yang ditunjukkan oleh Allah adalah sebuah nilai yang tidak perlu diragukan, karena memang tidak ada setitikpun sisi-sisi nilainya yang bisa diragukan, karena al-Qur'an diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad saw, sebagai satu-satunya mukjizat beliau yang dapat dilihat, dirasa dan diambil manfaatnya oleh umat Islam, umat beliau hingga akhir zaman.
Sifat ragu merupakan kebalikan dari rasa yakin, yakni apabila dipahami secara " mafhum mukholafah " akan menghasilkan : " bahwa di dalam al-qur'an itu terdapat nilai-nilai yang harus diyakini kebenaran dan kevalid-annya " untuk menghantar menjadi sifat orang Muttaqin, yaitu orang yang bertakwa dalam arti : melaksanakan seluruh perintah Allah dengan rasa ikhlas dan tawadlu', serta menjauhi larangan-Nya dengan penuh rasa sabar dan tawakkal.
Hal ini dapat dimaknai bahwa : saat awal kelahiran manusia, selalu dalam keadaan suci dan fitrah " Kullu mauluudin yuuladu 'alal fith-rah " ( al-Hadits )
Namun jiwa suci yang bayi tersebut, setelah bersentuhan dengan kepentingan-kepentingan fisik jasmaniyah ( makanan, pakaian dll. ) mulailah terkontaminasi dengan sebu-debu dosa, yang lambat laun kian menebal. Maka Allah menyediakan baginya agama ( Islam ) agar dapat mensucikan debu-debu dosa yang mengotori jiwa ruhaniyah manusia.
Dan dalam perjalan hidup manusia, tentu kepentingan jasmani seringkali menutupi kebutuhan ruhani, sehingga tidak sedikit dari manusia yang alpa dan tersesat jalannya dari jalan yang sebenarnya.
Berkaitan dengan jalan hidup manusia, sesungguhnya kalau diilustrasikan skemanya adalah sebagai berikut :
Nabi Adam as. Diciptakan pertama kali di " surga ". dan sunnatullah, Adam berbuat salah yang membuatnya harus " diturunkan " oleh Allah ke bumi dalam rangka membersihkan dirinya dari dosa, dan itu telah dilakukan oleh nabi Adam sebagai asal muasal manusia, dan taubatnyapun telah diterima Allah swt, sehingga Adam bisa kembali ke " rumah asalnya " yakni surga.
Kalhiran manusia = suci, menjalani hidup di dunia dengan penuh keindahan hidup yang melenakan dan penuh tipu daya, maka yang bisa kembali memperthankan kesucian dapat pulang ke " rumah asal " di surga, adapun yang tidak sempat membersihkan dirinya dari dosa dengan istighfar dan dosa serta menutupi kesalahan dengan amal sholeh segera, maka akan "mampir" ke neraka ( sebagai sarana pensucian dan pembersihan )
Dan di dalam al-Qur'an-lah segala petunjuk-petunjuk Allah agar manusia dapat selamat dari godaan-godaan hidup duniawi, dan dapat mensucikan diri dari dosa dari kesalahan dan kehilafan, karena memang manusia adalah " al- ingsaanu mahallul khoto' wan-nis-yaan " tempatnya salah dan lupa.
Dan tidak satupun manusia yang tidak bersalah/ berdosa, kecuali nabi Muhammad yang memang ma'shum ( terjaga ) dari segala salah dan khilaf. Namun diantara sifat salah dan dosa manusia tersebut, orang taubatlah yang terbaik di antara mereka. Dan dari manakan manusia mengetahui tatacara bertaubat yang benar dan bagaimana pula ia menjaga agar tidah terjatuh kembali pada dosa dan kesalah itu?. Di dalam al-Qur'an-lah ia akan menemukan nila-nilai tatacara hidup yang benar, karena al-Qur'an bersumber Langsung dari Allah swt, sehingga amat mustahil jika ada yang tidah tepat, atau sesuatu yang diragukan, atau sesuatu yang menggoyahkan keyakinan seseorang apabila memakai nila-nilai al-Qur'an tersebut dalam menghantarkannya menggapai kebahagiaan duniawi dan ukhrowi.
Dari paparan diatas, dapatlah disimpulkan bahwa orang yang dapat kembali ke " rumah asal " di surga adalah orang-orang yang bertakwa, yakni melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yang dapat diketahui dan dipahami dari al-Qur'anul Kariim. Sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur'an dapat dijadikan " way of laife " cara hidup dan gaya hidupnya dalam mengarungi dunia fana ini, sehingga menjadi jiwa dan perilaku insan muttaqin sebagai akhlak mulia yang menghiasi dirinya setiap waktu dan sepanjang masa.
Sebagaimana jawaban yang disampaikan oleh Aisyah ra ( istri nabi saw ) saat ditanya oleh seorang sahabat tentang pola akhlak nabi saw, sehingga diberi gelar oleh Allah sebagai " pribadi yang berakhlak mulia dan paripurna ", maka jawaba Aisyah adalah " Inna khuluqohul Qur-aana " ( Sungguh akhlak beliau adalah al-Qur'an ) yakni bahwa perilaku nabi saw selalu merujuk pada al-Qur'anul Karim dalam bersikap, bertutur kata dan berperilaku.
Maka dalam mengawali mengkaji al-Qur'an haruslah dimulai dengan keyakinan hati yang mantap, bahwa seluruh kandungan nilai dalam al-qur'an adalah memiliki kebenaran yang mutlak untuk membentuk pribadi yang " Muttaqin ".

Kamis, Desember 06, 2018

MaKaTa - al Baqarah 254




Untuk audio, silahkan klik di tanda play

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim."
Tafsir Jalalayn :
(Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah sebagian dan rezeki yang telah Kami berikan padamu), yakni zakatnya, (sebelum datang suatu hari tidak ada lagi jual beli) atau tebusan (padanya, dan tidak pula persahabatan) yang akrab dan memberi manfaat, (dan tidak pula syafaat) tanpa izin dari-Nya, yaitu di hari kiamat. Menurut satu qiraat dengan baris di depannya ketiga kata, bai`u, khullatu dan syafaa`atu. (Dan orang-orang yang kafir) kepada Allah atau terhadap apa yang diwajibkan-Nya, (merekalah orang-orang yang aniaya) karena menempatkan perintah Allah bukan pada tempatnya.

MaKaTa - al Baqarah 248




Untuk audio, silahkan klik di tanda play

Gambar mungkin berisi: 1 orang, dekat
Gambar mungkin berisi: 1 orang, dekat
Gambar mungkin berisi: 1 orang, dekat
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya : 
" Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman "
Tafsir Jalalayn :
(Kata nabi mereka kepada mereka), yakni tatkala mereka meminta kepadanya tanda pengangkatannya sebagai raja. (Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah datangnya tabut kepadamu), yakni sebuah peti tempat menyimpan serunai nabi-nabi yang diturunkan Allah kepada nabi Adam dan terus-menerus berada pada mereka sampai mereka dikalahkan oleh orang-orang Amaliqah yang berhasil merebut serunai itu. Selama ini mereka mengambilnya sebagai lambang kemenangan mereka terhadap musuh dan mereka tonjolkan dalam peperangan serta mendapatkan ketenangan hati, sebagaimana firman Allah swt., ("Di dalamnya terdapat ketenangan) ketenteraman bagi hatimu (dari Tuhanmu dan sisa-sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun), yakni yang ditinggalkan kedua nabi itu, sepasang terompah Musa dan tongkatnya serta serban nabi Harun dan tulang-tulang burung manna yang pernah turun kepada mereka serta kepingan-kepingan luh (yang dibawa oleh malaikat) menjadi 'hal' dari pelaku 'ya'tiikum.' (Sesungguhnya pada demikian itu menjadi tanda bagi kamu) atas diangkatnya sebagai raja (jika kamu benar-benar beriman). Tabut itu lalu dibawa oleh malaikat, terapung-apung antara bumi dan langit serta disaksikan oleh mereka dan akhirnya ditaruh oleh malaikat dekat Thalut. Mereka pun mengakuinya sebagai raja dan berlomba-lomba untuk berjihad di sampingnya. Maka dipilihnyalah 70 ribu orang di antara pemuda-pemuda mereka.

MaKaTa - al-Baqarah 246



Untuk audio, silahkan klik di tanda play

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Artinya : 
Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.

Tafsir Jalalayn :
(Tidakkah kamu perhatikan segolongan Bani Israel setelah) wafat (Musa), maksudnya kisah dan berita mereka, (yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka) namanya Samuel, ("Angkatlah untuk kami seorang raja, supaya kami berperang) dengannya (di jalan Allah) hingga ia dapat memimpin dan menyusun barisan kami! (Jawab nabi mereka, "Tidak mungkinkah) dengan memakai baris di atas dan baris di bawah (jika kamu diwajibkan berperang, kamu tidak mau berperang?") Khabar dari `asa, sedangkan pertanyaan menunjukkan lebih besar kemungkinan terjadinya. (Jawab mereka, "Kenapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami sudah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami"), artinya sebagian dari mereka ada yang ditawan dan sebagian yang lain ada yang dibunuh. Hal ini telah dilakukan terhadap mereka oleh kaum Jalut. Jadi maksudnya adalah tidak ada halangan bagi kami untuk berperang, yakni selama alasannya masih ada. Firman Allah swt., (Maka tatkala berperang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling) daripadanya dan merasa kecut, (kecuali sebagian kecil dari mereka), yakni yang menyeberangi sungai bersama Thalut sebagaimana yang akan diterangkan nanti. (Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang aniaya), maksudnya akan membalas segala yang diperbuat oleh mereka. Dan nabi mereka pun memohon kepada Tuhannya agar mengirimkan seorang raja, tetapi yang dikabulkan-Nya ialah Thalut.

MaKaTa - Al-Baqarah 236



Untuk audio, silahkan klik di tanda play

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ
Artinya :
236. Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.

Tafsir Jalalayn :
(Tidak ada dosa bagi kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu menyentuh mereka) menurut satu qiraat, 'tumaassuuhunna' artinya mencampuri mereka (atau) sebelum (kamu menentukan maharnya), maksudnya maskawinnya. 'Ma' mashdariyah zharfiyah, maksudnya tak ada risiko atau tanggung jawabmu dalam perceraian sebelum campur dan sebelum ditentukannya berapa mahar, maka ceraikanlah mereka itu. (Dan hendaklah kamu beri mereka itu 'mutah') atau pemberian yang akan menyenangkan hati mereka; (bagi yang mampu) maksudnya yang kaya di antaramu (sesuai dengan kemampuannya, sedangkan bagi yang melarat) atau miskin (sesuai dengan kemampuannya pula). Ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tentang derajat atau kedudukan istri (yaitu pemberian) atau hiburan (menurut yang patut) menurut syariat dan menjadi sifat bagi mata`an. Demikian itu (merupakan kewajiban) 'haqqan' menjadi sifat yang kedua atau mashdar yang memperkuat (bagi orang-orang yang berbuat kebaikan) atau orang-orang yang taat.

Rabu, Desember 05, 2018

MaKaTa - Al-Baqarah 253




 تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ 
اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ


Artinya : Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Jalalayn
(Para rasul itu) menjadi mubtada, sedangkan khabarnya adalah (Kami lebihkan sebagian atas lainnya), yaitu dengan memberi mereka keistimewaan yang tidak diberikan kepada lainnya. (Di antara mereka ada yang diajak berbicara oleh Allah), misalnya Musa (dan sebagian ditinggikan-Nya - kedudukannya -), yakni nabi Muhammad saw. (beberapa tingkat) dari yang lainnya, misalnya dengan dakwahnya yang umum, mukjizat yang berlimpah dan keistimewaan yang tidak terhitung banyaknya. (Dan Kami berikan kepada Isa bin Maryam beberapa mukjizat dan Kami kuatkan ia dengan Roh Kudus), yakni Jibril yang mengiringkannya ke mana pergi. (Sekiranya Allah menghendaki) tentulah akan ditunjuki-Nya semua manusia dan (tidaklah mereka akan berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah mereka), yakni sesudah para rasul itu, maksudnya ialah umat-umat mereka (sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan) disebabkan pertikaian dan saling menyesatkan di antara mereka. (Tetapi mereka bertikai) disebabkan kehendak Allah tadi, (maka di antara mereka ada yang beriman) artinya kuat dan tetap keimanannya (dan di antara mereka ada pula yang kafir) seperti orang-orang Kristen setelah Almasih. (Sekiranya Allah menghendaki tidaklah mereka akan berbunuh-bunuhan) sebagai pengukuhan (tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) yaitu menunjuki siapa yang disukai-Nya dan menjatuhkan orang yang dikehendaki-Nya.

 

Kontak