Resto Ruhani Magetan

Menyajikan menu dan asupan jiwa, agar tidak kelaparan dan kehausan

General Manager sekaligus Barista

Kiprah dakwahnya diabadikan dalam web ini, sebagai kepedulian atas penyajian asupan ruhani

Majelis Kajian Tafsir

Al-Qur'an sebagai sumber utama hukum Islam, mempelajarinya menjadi sangat urgen, sebaik-baik kamu adalah yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya.

Mudarosah Kajian Fiqih

Ilmu Fiqih sebagai referensi tatacara amaliyah ibadah badaniyah, menjadi urgen untuk dipahami agar dapat ber-Islam secara sempurna

Kajian Kitab Minhajul Abidin

Amaliyah jasidah tak akan sempurna tanpa ilmu amaliyah bathiniyah, kajian ini perlu agar ibadah membuahkan karakter terpuji

Tampilkan postingan dengan label Ahad Pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahad Pagi. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 20, 2019

Intisari Ahad Pagi : Aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah



Kajian : Ahad, 23 Maret 2008

Aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah
Oleh : Drs. H. Yusron Kholid, M.Pd.I

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
Innallooha laa yughoyyiru maa biqoumin, hattaa yughoyyiruu maa bi ang-fusihim. Waidzaa aroodalloohu biqoumin suu-a [ng] falaa marodda lah[u], wamaa lahum min duunihii miw-waal [ Q.S : Ar-ro’d : 11 ]

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia ( Allah ) [Surah Ar-Ro’du : 11 ]


Pada zaman Rasulullah saw, masih hidup pada masa itu, perbedaan pendapat di antara kaum Muslimin        [ sahabat ] langsung dapat diselesaikan dengan kata akhir dari Kanjeng Nabi Muhammad. Namun setelah beliau wafat, penyelesaian demikian tidak bisa terjadi dan ditemukan. Dan timbulnya perbedaan di kalangan umat Islam waktu itu adalah dalam hal imamah       (siapakah imam/pemimpim yang berhak memimpin setelah Rasul wafat), dan bukan pada persoalan aqidah, namun dari wilayah imamah itulah kemudian merambah ke permasalahan agama, terutama seputar hukum seorang muslim yang berbuat dosa besar dan bagaimana statusnya ketika ia mati, apakah tetap mukmin apa telah kafir.

Dan pada masa berikutnya, pem-bicaraan tentang aqidah juga me-rambah meluas kepada persoalan-persoalan Tuhan dan manusia,terutama terkait perbuatan manusia dan ke-kuasaan Tuhan, hingga muncullah dua kelompok moderat yang berusaha mengkompromikan keduanya, yang kemudian disebut dengan Ahlussunnah wal-Jama’ah (ASWAJA). Yaitu Asy’ariyah yang didirikan oleh Imam Abul Hasan Al-Asy’ari ( lahir di Bashrah  260 H/ 873 M, wafat di Baghdad 324 H/ 935 M ) dan Maturidiyah yang didirikan  oleh Imam Abu Manshur Al-Maturidi ( lahir di Maturid Samarkand, wafat 333 H ).

Aqidah Asy’ariyah merupakan jalan tengah ( tawasuth ) di antara kelompok-kelompok keagamaan yang berkembang pada masa itu. Yakni kelompok Jabariyah dan Qodariyah yang kembangkan oleh Mu’tazilah. Dalam membicarakan perbuatan manusia keduanya saling berseberangan. Kelompok Jabariyah berpendapat bahwa seluruh perbuatan manusia diciptakan oleh Allah dan manusia tidak memiliki peranan apapun. Sedang kelompok Qodariyah memandang bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia  itu sendiri dan terlepas dari Allah. Dengan begitu, bagi  Jabariyah kekuasaan Allah adalah mutlak dan bagi Qodariyah kekuasaan Allah itu terbatas.

Sikap tawasuth ditunjukkan oleh Asy’ariyah dengan konsep al-kasb ( upaya ),dengan maksud bahwa manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia memiliki peranan dalam perbuatannya. Kasb memiliki makna ke-bersamaan kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan. Kasb juga bermakna keaktifan dan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya.
Dengan konsep kasb tersebut, aqidah Asy’ariyah menjadikan manusia selalu aktif berusaha secara kretaif dalam kehi-dupannya, akan tetapi tidak melupakan bahwa Tuhanlah yang menentukan semua  ( hasilnya ).

Pada zaman sekarang dan dengan gambaran yang mudah adalah kebersama-an antara ikhtiar ( usaha ) dengan tawakkal yang menyandarkan segala akibat kepada Allah.
Ikhtiar adalah usaha jasad lahiriyah untuk melakukan sesuatu perbuatan sesuai dengan fungsi anggota badan, namun tidak boleh meninggalkan rasa tawakkal dalam hati kepada Allah tentang berhasil dan tidaknya perbuatan usaha tersebut. Sebagaimana intisari dari do’a yang kita ucapkan setiap kali pergi berangkat meninggalkan rumah :

Bismillahi tawakkaltu ‘alallooh, laa haula walaa quwwata illa billah

“ Dengan nama Allah, aku tawakkal ( menyerahkan urusan ) kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah saja “

Secara fisik kita wajib fokus konsentrasi melangkahkan kaki, menggerakkan tangan dan memeras otak, tapi dalam hati kita harus tetap ingat bahwa Allah-lah yang akan menetukan hasilnya, apakah sukses ataupun gagal. Dan jika konsep ini kita lakukan secara bersama sama ( antara usaha jasad dan tawakkal hati ), maka apabila berhasil, tidak lantas membuat kita sombong dan melupakan kekuasaan Allah, dan bila gagal, maka tidak serta merta kita frustasi dan putus asa.

Sehingga dalam setiap aktifitas kehidupan ini, hendaknya selalu mengkombinasikan antara nalar yang baik dalam usaha (ihtiar) dan kejernihan hati dalam tawakkal. Tidak dengan memilah antara keduanya. Ihtiar adalah gerak jasad lahir, dan tawakkal adalah aktifitas hati ruhaniyah.


Untuk memfokuskan ihtiar usaha, maka harus memperkokoh rasa sabar; sabar ketika gagal dan sabar ketika berhasil.
Sabar ketika gagal artinya adalah tidak lantas marah-marah pada keadaan yang ada, tapi harus diterima sebagai ujian dan cobaan dari Allah, yang selalu disediakan bagi orang yang sabar itu akibat yang baik dan mulia dari Allah.
Sabar ketika sukses ( berhasil ) artinya adalah tidak membuat kita lupa diri, sombong dan takabbur. Karena atas pertolongan Allah-lah sukses itu bisa diraih.

Dan untuk memperkokoh tawakkal dalam hati sanubari ruhaniyah kita hendaknya mempermudah dan memperbanyak rasa syukur, syukur ketika ihtiar gagal dan syukur ketika berhasil dan sukses.
Syukur ketika gagal berarti berterima kasih kepada Allah karena kita telah dipilihkan oleh-Nya pada sesuatu yang lebih maslahat dan manfaat bagi kita, karena setiap keputusan dan takdir Allah bagi manusia selalu mengandung hikmah.
Syukur ketika meraih keberhasilan berarti berterima kasih kepada Allah karena telah diberi kesempatan oleh-Nya untuk menikmati secuil kenikmatan dari sekian kenikmatan agung lainnya.

Dan diantara tanda orang yang sabar adalah tidak mudah mengaduh dan mengeluh saat ditimpa ujian dan cobaan dari Allah.
Dan diantara tanda orang yang syukur adalah tidak menyembunyikan nikmat – sekecil apapun – yang diberikan oleh Allah, dengan suka menceritakan nikmat itu kepada orang lain :

Fa-ammaa bini’mati robbika fahaddits
“ adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceriterakanlah “

semoga aqidah kita dijaga dan diridloi Allah swt. Amin yaa Mujiibas-saa-iliin ¯

Sabtu, Januari 19, 2019

Intisari Ahad Pagi : Pemahaman Ahlussunnah wal-Jama’ah


Kajian : Ahad, 09 Maret 2008

Pemahaman Ahlussunnah wal-Jama’ah
Oleh : KH. Abu NA’im

Iftaroqotil yahuudu ‘alaa ihda wa sab-‘iina firqotan, wan-nashooro ‘alaa-ts-nataini wa sab-‘iina firqotan, wa satafriqu ummatii ‘alaa tsalaatsin wa sab-‘iina firqotan. An-naajiyatu min-ha waahidatun wal-baaquuna halkaa, qiila : waman an-naajiyatu ? qoola : Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Qiila : wamaa Ahlussunnah wal Jamaa’ah ? qoola : maa anaa ‘alaihi wa ash-haabii…

[ Ada 16 sahabat dan 1 tabi’in yang meriwayatkan hadist ini, yakni : Abu Hurairah, Abdullah bin Abr bin Al-‘Ash, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, ‘Auf bin Malik, Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Abu Umamah, Ibnu Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdullah bin Umar, Abu Al-Darda’, Abdullah bin Abbas,Umar bin Khattab, Jabir, Wastilah, Amru bin Auf al Muzani, Imam Qatadah ( Tabi’iy ) ]

Nabi saw.bersabda : “ Kaum Yahudi bergolong-golong menjadi 71, Kaum Nasrani menjadi 72, dan umatku ( umat Islam )menkadi 73 golongan, hanya satu yang akan masuk surga dan selebihnya masuk neraka” para sahabat bertanya : “ siapa satu yang selamat itu ? “ Rasulullah menjawab : “ mereka adalah Ahlussunnah wal-Jama’ah “. “ Apakah Ahlussunnah wal-Jama’ah itu ? “ yaitu : apa yang aku berada di atasnya bersama para sahabatku “
======================================
Dalam bahasan minggu lalu ( 02-03-’08)  seakan-akan tergambar pada potret manusia saat ini, sangat mudah terjerumus ke dalam neraka dan amat sulit menapaki jalan ke surga.
Namun kalau menilik hadits Nabi saw, di atas maka masih ada secercah harapan bagi kita untuk tetap optimis dapat meraih kebahagiaan hakiki di akherat kelak, dengan tidak membiarkan diri kita terjerumus ke dalam neraka yang sungguh amat mengerikan siksaannya. Yakni dengan senantiasa ” berpegangan pada tuntunan Nabi saw dan para sahabat Beliau “.

Pada masa ini, untuk merujuk  per-masalahan keagamaan kepada Nabi saw, tentu tidak bisa. Jangankan saat ini, ketika beliau wafat saja, para sahabat tidak lagi dapat menanyakan permasalahan keagamaan yang berkembang kepada sumber aslinya, kecuali dengan berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana yang -
Beliau wasiatkan, namun kemurnian dari ajaran Islam yang didakwahkan Rasulullah sejak zaman beliau masih hidup hingga kurun ini, telah melewati 1429 tahun lebih, dengan gambaran sekilas tentang kurun-kurun itu adalah :
-  sejak Nabi wafat s/d tahun 90 H = kurun sahabat
-  th. 90 H s/d 170 H adalah masa Tai’in
-  Th. 170 H s/d 250 H = masa Tabi’it-Tabi’in
-  Th. 250 H s/d ± th. 600 H = masa ulama Kholaf
-  s/d sekarang = ulama Mutaakh-khiriin

maka bentang masa yang begitu jauh, tentu harus ada upaya mencari pedoman yang benar dan murni serta bersumber dari beliau. Dan yang dipakai hujjah NU dalam hal ini, adalah sesuai dengan sabda Nabi saw :

“ ‘alaikum bisunnatii wasunnatil khulafaair raasyidiinal mahdiyyiin “

“ Hendaklah kalian berpegang teguh pada suunnahku dan para khalifah ( penerus ) yang mendapat petunjuk Allah “

dan hadits lain :
al- ‘ulamaa-u waratsatul an-biyaa-i “

Artinya : Ulama adalah pewaris [ ilmu dan ajaran ] para nabi

Dengan demikian, maka di saat paham keagamaan kian marak dan majemuk, yang perlu dipedomani adalah, bahwa pedoman Ahlussunnah wal-Jamaa’ah ala NU dalam ber-Islam mengambil dasar dan rujukan : Al-Qur’anul Karim, Al-Hadits, ijma’ dan qiyash.

Paham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Nahdlatul Ulama mencakup aspek aqidah, syari’ah dan akhlak. Ketiganya merupakan kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam.

Dalam aqidah mengambil manhaj ( pola pemikiran ) Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan dalam fiqh ( syari’ah ) bermanhaj pada empat imam madzhab besar ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali ), sedangkan dalam aspek akhlak ( tasawwuf ) mengambil manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Qosim al_Junaidi al-Baghdadi serta para imam lain yang sejalan dengan syari’ah Islam.

Perlu dijelaskan di sini tentang perlunya bermadzhab, karena untuk berijtihad diperlukan kelengkapan ilmu-ilmu alat secara ketat, karena harus menguasai ilmu nahwu, sharaf, ma’ani, badi’ dan lainnya, dan untuk berijtihad dalam tiga pokok syari’ah Islam di atas – pada masa kini - menurut  keyakinan NU amat sulit untuk dipenuhi. Di lain pihak ; taqlid buta            ( mengikuti tanpa tahu dasar hokum ) juga merupakan hal yang dilarang dalam Islam, maka dengan bermadzhab merupakan sikap tawassuth dan I’tidal ( tengah-tengah dan seimbang ) dari ijtihad yang tidak sempurna dan menghindari taklid buta, sebagai upaya untuk menjaga kehati-hatian dalam beragama.

Dari paparan tersebut di atas, maka diharapkan majelis taklim pengajian “ An-Nahdliyah “ setiap Ahad pagi diharapkan dapat mengungkap nilai ajaran Ahlussunnah wal- Jama’ah ala Nahdlatul Ulama yang jarang dipahami oleh para nahdliyyin dan nahdliyyat, khususnya terkait amalaiyah keagamaan yang banyak mengundak kontrofersi dalam kehidupan bermasyarakat, seperti : tahlil, qunut, tawashul, hidiyah pahala, tabaruk, ziarah dan lainnya. Dimana semua hal itu membutuhkan guru pembimbing seorang alim yang kamil mukammil, yang dapat membimbing ke jalan yang benar sesuai dengan yang diwarisi dari ulama pendahulu, tabi’it tabi’in, tabi’in, shahabah, dan Nabi saw.

Tidak sepantasnya, dalam memahami agama, kita bersikap apriori dan sombong, dengan mengatakan bahwa kita juga mampu mamahami ajaran Al-quran dan Al-hadits yang telah diturunkan oleh Allah 1429 tahun yang lalu dengan hanya mengandalkan kemampuan bahasa yang amat terbatas, lalu memberikan penilaian-penilaian sesuai dengan pemahaman itu.
Kalau tidak hati-hati, jangan-jangan justru pemahaman itu ditunggangi kesesatan hawa nafsu, yang akhirnya tidak dapat mencapai tujuan, bahkan bisa tersesat dan tersesat. Na’udzubillah min dzalik.

Dan yang lebih penting daripada itu. Harus pula seimbang antara ilmu dan amal, yakni bahwa dalam majelis pengajian sebaiknya seimbang antara hasil ilmiyah dan hasil amaliyah. Sehingga ilmu yang didapat di majelis ini akan bisa dimanfaatkan dalam amaliyah pribadi para mustami’in dan mustami’at.

Semoga Allah swt. Meridloi kita semua. Amin, yaa Robbal-‘aalamiin ¯

Intisari Ahad Pagi : Potret Manusia Hari ini



Kajian Ahad Pagi  : Ahad, 03 Maret 2008

Potret Manusia Hari ini
Oleh : Drs. H. Joefri

لَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Walaqod dzaro’naa lijahannama katsiirom-minal jinni wal insi, lahum quluubul-laa yafqohuuna bihaa, walahum a’yunul-laa yubshiruuna bihaa, walahum aadzaanul-laa yasma’uuna bihaa, ulaa-ika kal-an’aami, bal hum adhollu, ulaa-ika humul-ghoofiluun

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami ( ayat-ayat Allah ), dan mereka mempunyai mata ( tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah ), dan mereka mempunyai telinga  ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk mendengar ( ayat-ayat Allah ),mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai ( QS. Al-A’raf : 179 )
Manusia di era sekarang, kalau digam- barkan seperti rintihan pengakuan syair Abu Nawas yang sering kita lantunkan :

Ilaahii lastu lil-firdausi ahlaa
“ Ya Tuhanku, aku tidak pantas masuk ke dalam surga-Mu “

karena, begitu malasnya kita menger-jakan ibadah, dan begitu mudahnya kita berbuat maksiat, seakan amat sulit untuk bisa lolos dari godaan syetan. Maka kalau melihat polah tingkah manusia di saat-saat ini, tak pantas rasanya mengharapkan dapat memasuki pintu surga Allah yang penuh dengan segala kenikmatan ; yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan bahkan tidak pernah terbetik di hati seorangpun ; puncak kenikmatannya.

Namun di sisi lain. Berita tentang adanya neraka yang begitu dahsyat dan mengerikan. Tempat segala derita dan siksa yang amat menakutkan. Rasanya tak seorang manusia-pun yang siap memasukinya, sebagaimana dalam sair-
Berikutnya :
walaa aqwa ‘alan-naaril jahiimi
“ Namun hamba tak kuat bila harus ma-suk neraka “

mengingat dosa yang menumpuk setiap hari, bagai hamparan pasir di laut, yang tampak setiap kali “bila kita mau muha-sabah “ sejak bangun hingga akan tidur kembali. Dan hitungan umur yang selalu susut dan berkurang. Juga kesempatan untuk terjerumus ke dalam jurang dosa yang demikian mudah.
Maka sungguh kalau bukan karena “ rahmat Allah “ , sangat mustahil bila kita mengharapkan dapat masuk surga.

Kondisi yang merepotkan ini hanya dapat diatasi dengan semakin besarnya harapan kita untuk mendapatkan “ rahmat Allah “, sedang rahmat Allah tersebut hanya dapat dicapai hanya dengan ketaatan yang murni dan utuh, yakni ikhlas melaksanakan kewajiban dan ikhlas menghindari larangan Allah, yang dalam Islam dikenal dengan istilah “ taqwa “ yang menurut bahasa berarti -
Takut, namun bukan seperti rasa takut terhadap binatang buas, tapi seperti takut kehilangan seseorang yang tercinta, maka agar tidak kehilangan, seseorang akan taat dan berupaya untuk selalu mendekat.
Sehingga salah satu tanda takwa adalah ketaatan dan kualitas ketaatannya. Seperti taatnya seorang pasien kepada dokter, yang akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh dokter tersebut dengan harapan “ dapat mengalami perobahan “ dari sakit menjadi sembuh.

Dengan demikian, semakin kuat keinginan seseorang untuk berobah, maka semakin tinggi pula tingkat ketaatannya.
Dan dalam hal keinginan manusia untuk merubah perilaku “maksiat “ yang sudah jelas-jelas diancam dengan neraka, kepada perilaku “ taat “ yang dijanjikan dengan imbalan surga, maka hanya dapat tercapai dengan meninggikan tingkat ketaatannya kepada “ Pemilik surga “ agar tidak kehilangan.

Resep dokter sebagai sarana mengetahui obat mana yang manjur dan cocok bagi si pasien, adalah seperti halnya “ peringatan Allah “ yang telah disampaikan kepada kita melalui para Nabi dan Rasul Allah, yang hanya dapat dipahami dan dicerna melalui “ilmu” yang bukan sembarang ilmu, tapi “ ilmu ulama “ yang kalau tidak hati-hati, maka Allah dapat saja melenyapkan ilmu-ilmu itu, hanya dengan mencabut “ para ulama “ tersebut.

Sesungguhnya dari “ ilmu ulama “ ter-sebut dapat kita pahami, bahwa se-sungguhnya hakekat harga seorang manusia di hadapan Allah sangat ditentukan oleh kualitas ketakwaannya, dan kualitas ketakwaan hanya dapat diukur dengan standar nilai batiniyah yang tersembunyi di balik jasad lahiriyah seorang manusia tersebut, sebagaimana telah dinyatakan Allah dalam Q.S. Al-A’raf Ayat 179 :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami ( ayat-ayat Allah ), dan mereka mempunyai mata            (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah ), dan mereka mempunyai telinga   tetapi ) tidak diperguna-kannya untuk mendengar ( ayat-ayat Allah ).

Mereka ini diumpamakan bagai binatang ternak yang dungu tanpa perasaan dan keilmuan, dan apabila tidak hati-hati, maka akan lebih rendah nilai harganya dari binatang ternak tersebut.
Inilah kondisi fitrah manusia yang harus senantiasa dijaga kualitasnya agar tetap memiliki harga yang tinggi di hadapan Allah. Dan dapat selamat dari godaan dunia dan akhirnya berhak atas jaminan pahala dari Allah ( kelak ) berupa surga.

Untuk menunjang kesuksesan manusia dalam menjaga fitrah kodrati yang mulia itu, sesungguhnya Allah telah meng-anugerahkan 4 jenis yang menjadi sarana mendapatkan hidayah, di mana 2 jenisnya juga diberikan kepada binatang, yakni :
1. Hidayah ilham, yang merupakan anugerah asasi yang diberikan kepada manusia dan binatang, seperti bila sedih maka akan menangis, dsb.
2. Hidayah panca indera, yang diberikan kepada manusia, demikian juga pada binatang
3. Hidayah akal yang hanya diberikan kepada manusia
4. Hidayah syar’iyyah diniyah, yakni agama yang hanya diberikan kepada manusia
Maka potret manusia yang sempurna menurut Allah adalah : manusia yang lahir terhormat, hendaknya dapat menjalani hidup dengan terhormat, dan mati dalam kondisi terhormat pula.N

Intisari Ahad Pagi : Meniti “ Maqom [am]- Mahmuda “



Kajian : Ahad,  10  Agustus 2008

Meniti “ Maqom [am]- Mahmuda “
( dengan merubah watak dasar manusia )

Oleh : H. Yusron Kholid. M.Pd.I

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُۚ إِنَّهٗ لَيَئُوْسٌ كَفُوْرٌ
Wa- lain adzaq-nal-in [g]saana minnaa rohmatan, tsummaa naza’-naaha min- hu, innahuu laya-uusun [g]- kafuur
( Huud : 9 )

“Dan jika Kami ( Allah ) rasakan kepada manusia suatu rahmat ( nikmat ) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih
==================================================
Allah swt, sering menyebut beberapa watak dasar manusia di dalam Al-Qur’an al-Kariim. Ibarat sebuah benda yang bernilai tinggi, maka watak dasar manusia tersebut bagaokan lumpur yang membungkus, dan tidak tampak nilai apapun dari benda itu, tanpa dibersihkannya lumpur pembung-kus tersebut.

Maka agar manusia memiliki “ kelas khusus “ terkait dengan nilai kesejatian manusiawinya, maka ia harus dapat mentas dari sifat dasar kemanusiaannya, untuk menggapai  “ maqom [am] mahmuda “ / elite class, dalam pengembaraan hidup dunia dan ukhrawinya.

Dua diantara sifat dasar manusia adalah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Surah Huud : 9, yakni :

1.    Mudah putus asa. Sifat ini sering tampak pada perilakunya saat tidak dapat menggapai cita-cita dan keinginannya.
 Sifat ini di kalangan kita sering dan dikenal sebagai sifat cengeng, lembeng atau tidak mandiri. Yang bibit serta asal muasalnya adalah dari sesuatu yang sepele. Yang pada intinya adalah terlalu memanjakan nafsu sehingga mengakibatkan mentalitas yang tidak mau “ berberat-berat “ atau tidak mau berjuang secara sungguh-sungguh dalam menggapai sesuatu. Dan sifat ini selalu menghindari hal-hal yang bersifat “ perjuangan/ jihad “ padahal hal itu merupakan dasar pengabdian manusia kepada hidup dan kehidupannya.

Sifat ya-uus  atau mudah menyerah dan tidak tahan uji merupakan sifat yang kontrodiksai dengan sifat-sifat orang mukmin. Karena diantara sifat keimanan adalah kegigihan dalam memperjuangkan dan dalam meng-apresiasikan keimanannya, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa, senantiasa mengobarkan semangat dalam diri dalam berkhidmah kepada Allah maupun kepada sesame makhluk, sehingga pancaran keimanan yang tumbuh dari dirinya memberi warna-warni bagi orang lain dalam hidupnya.

Sikap mudah putus asa adalah bukti kerapuhan keyakinan dan lembeknya iman -
Betapa banyak diantara kita yang sudah takut menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya tiak seberapa berat dan sulit, namun dirinya lebih memuja sifat “ ya-us tersebut sehingga posisi “ iman”nya tidak pernah jelas

2. Mbalelo ( ngeyel )
Sifat ini masih terkait dengan sifat di atas dan seringkali juga sebagai sebab akibat yang sulit dipisah.
Seorang yang memiliki sifat “ ya-us “ juga dihinggapi sifat yang amat sensitive, sehingga dalam bersikap dan menyikapi hidup ( social, keagamaan ) acap kali terperosok pada jurang-jurang “ negative” yang menjadi musuh orang orang yang beriman.
Dengan gambaran sederhana, orang yang mudah putus asa amat sensitive, sehingga ia berusaha menutup kelema-han dirinya dengan selalu mencurigai setiap gerakan dan upaya yang tidak sesuai dengan kondisi dirinya. Dan sikap menolak ( menutup diri ) tersebut dalam istilah Islam sering debahasakan dengan “ kafuro “ sebagaimana sifat asli manusia pada bahasan ini.

Dalam alur jalan hidup manusia patilah pernah singgah pada posisi ini ; yakni baik “ ya-us” maupun “ ka-fuura”, entah pada usia berapa, ataupun pada masa kapan. Dan bagi pengembangan keiman- an dalam diri manusia akan timbul dan terasa, jikalau dirinya bisa dan mampu memperkecil gerak sifat kodrati ini, atau justru menghapus dan menghilangkan sama sekali.

Sehingga dengan terkikisnya sifat kodrati manusia sebagaimana dalam Surah Huud ayat 9 ini, maka manusia sebenarnya sedang meniti menuju “ maqomam-mah muda “ di sisi Allah, yakni sebuah derajat
Atau tempat yang memposisikan manusia pada posisi yang mulia dan terhormat, bukan saja di hadapan manusia, tapi terlebi adalah dihadapan Allah Azza wa-jalla.
Inilah maqom / posisi yang selalu dicari dan dikejar oleh para “ Pecari Tuhan” yang dangan kokoh hati dan tidak mudah menyerah senantiasa men-curahkan perhatian dan usahanya serta mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam menggapainya, sehingga ia meraih posisi “ mahmuda “ di sisi Allah.

Simpulan :   orang yang kualitas iman dan takwanya bagus dan teruji adalah mereke yang tidak mudah menyerah, tidak cengeng dan lembek dalam mempertaankan dan memperjuangkan rtasa imannya, serta mereka yang senantiasa “ sami’na wa atho’naa “ terhadap perintah Allah , melalui Rasul utusan-Nya, Muhammad saw.

Dengan bermanja-manja pada sifat “ ya-us “ dan “ ka-fuura “ seseorang akan kesulitan menggapai “ maqomam- mah muda” nya Allah.


Semoga  Allah swt. Menjadikan kita sebagai umat Muhammad yang berhak dan dapat menerima syafaat, sejak hari ini hingga kiamat. Amin yaa Mujiibas-saa-iliin ¯

Jumat, Desember 14, 2018

KH Luman Hidayat Pengajian Ahad Pagi

Minggu, Desember 09, 2018

Ahad Pagi - KH Marhaban Alhafidh

Pengajian Ahad Pagi - KH Sumarno Abdul Aziz

 

Kontak