Sabtu, Januari 19, 2019

Intisari Ahad Pagi : Meniti “ Maqom [am]- Mahmuda “



Kajian : Ahad,  10  Agustus 2008

Meniti “ Maqom [am]- Mahmuda “
( dengan merubah watak dasar manusia )

Oleh : H. Yusron Kholid. M.Pd.I

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُۚ إِنَّهٗ لَيَئُوْسٌ كَفُوْرٌ
Wa- lain adzaq-nal-in [g]saana minnaa rohmatan, tsummaa naza’-naaha min- hu, innahuu laya-uusun [g]- kafuur
( Huud : 9 )

“Dan jika Kami ( Allah ) rasakan kepada manusia suatu rahmat ( nikmat ) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih
==================================================
Allah swt, sering menyebut beberapa watak dasar manusia di dalam Al-Qur’an al-Kariim. Ibarat sebuah benda yang bernilai tinggi, maka watak dasar manusia tersebut bagaokan lumpur yang membungkus, dan tidak tampak nilai apapun dari benda itu, tanpa dibersihkannya lumpur pembung-kus tersebut.

Maka agar manusia memiliki “ kelas khusus “ terkait dengan nilai kesejatian manusiawinya, maka ia harus dapat mentas dari sifat dasar kemanusiaannya, untuk menggapai  “ maqom [am] mahmuda “ / elite class, dalam pengembaraan hidup dunia dan ukhrawinya.

Dua diantara sifat dasar manusia adalah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Surah Huud : 9, yakni :

1.    Mudah putus asa. Sifat ini sering tampak pada perilakunya saat tidak dapat menggapai cita-cita dan keinginannya.
 Sifat ini di kalangan kita sering dan dikenal sebagai sifat cengeng, lembeng atau tidak mandiri. Yang bibit serta asal muasalnya adalah dari sesuatu yang sepele. Yang pada intinya adalah terlalu memanjakan nafsu sehingga mengakibatkan mentalitas yang tidak mau “ berberat-berat “ atau tidak mau berjuang secara sungguh-sungguh dalam menggapai sesuatu. Dan sifat ini selalu menghindari hal-hal yang bersifat “ perjuangan/ jihad “ padahal hal itu merupakan dasar pengabdian manusia kepada hidup dan kehidupannya.

Sifat ya-uus  atau mudah menyerah dan tidak tahan uji merupakan sifat yang kontrodiksai dengan sifat-sifat orang mukmin. Karena diantara sifat keimanan adalah kegigihan dalam memperjuangkan dan dalam meng-apresiasikan keimanannya, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa, senantiasa mengobarkan semangat dalam diri dalam berkhidmah kepada Allah maupun kepada sesame makhluk, sehingga pancaran keimanan yang tumbuh dari dirinya memberi warna-warni bagi orang lain dalam hidupnya.

Sikap mudah putus asa adalah bukti kerapuhan keyakinan dan lembeknya iman -
Betapa banyak diantara kita yang sudah takut menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya tiak seberapa berat dan sulit, namun dirinya lebih memuja sifat “ ya-us tersebut sehingga posisi “ iman”nya tidak pernah jelas

2. Mbalelo ( ngeyel )
Sifat ini masih terkait dengan sifat di atas dan seringkali juga sebagai sebab akibat yang sulit dipisah.
Seorang yang memiliki sifat “ ya-us “ juga dihinggapi sifat yang amat sensitive, sehingga dalam bersikap dan menyikapi hidup ( social, keagamaan ) acap kali terperosok pada jurang-jurang “ negative” yang menjadi musuh orang orang yang beriman.
Dengan gambaran sederhana, orang yang mudah putus asa amat sensitive, sehingga ia berusaha menutup kelema-han dirinya dengan selalu mencurigai setiap gerakan dan upaya yang tidak sesuai dengan kondisi dirinya. Dan sikap menolak ( menutup diri ) tersebut dalam istilah Islam sering debahasakan dengan “ kafuro “ sebagaimana sifat asli manusia pada bahasan ini.

Dalam alur jalan hidup manusia patilah pernah singgah pada posisi ini ; yakni baik “ ya-us” maupun “ ka-fuura”, entah pada usia berapa, ataupun pada masa kapan. Dan bagi pengembangan keiman- an dalam diri manusia akan timbul dan terasa, jikalau dirinya bisa dan mampu memperkecil gerak sifat kodrati ini, atau justru menghapus dan menghilangkan sama sekali.

Sehingga dengan terkikisnya sifat kodrati manusia sebagaimana dalam Surah Huud ayat 9 ini, maka manusia sebenarnya sedang meniti menuju “ maqomam-mah muda “ di sisi Allah, yakni sebuah derajat
Atau tempat yang memposisikan manusia pada posisi yang mulia dan terhormat, bukan saja di hadapan manusia, tapi terlebi adalah dihadapan Allah Azza wa-jalla.
Inilah maqom / posisi yang selalu dicari dan dikejar oleh para “ Pecari Tuhan” yang dangan kokoh hati dan tidak mudah menyerah senantiasa men-curahkan perhatian dan usahanya serta mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam menggapainya, sehingga ia meraih posisi “ mahmuda “ di sisi Allah.

Simpulan :   orang yang kualitas iman dan takwanya bagus dan teruji adalah mereke yang tidak mudah menyerah, tidak cengeng dan lembek dalam mempertaankan dan memperjuangkan rtasa imannya, serta mereka yang senantiasa “ sami’na wa atho’naa “ terhadap perintah Allah , melalui Rasul utusan-Nya, Muhammad saw.

Dengan bermanja-manja pada sifat “ ya-us “ dan “ ka-fuura “ seseorang akan kesulitan menggapai “ maqomam- mah muda” nya Allah.


Semoga  Allah swt. Menjadikan kita sebagai umat Muhammad yang berhak dan dapat menerima syafaat, sejak hari ini hingga kiamat. Amin yaa Mujiibas-saa-iliin ¯

0 comments:

Posting Komentar

 

Kontak