Kajian : Ahad, 10 Agustus 2008
Meniti
“ Maqom [am]- Mahmuda “
( dengan
merubah watak dasar manusia )
Oleh : H. Yusron
Kholid. M.Pd.I
وَلَئِنْ أَذَقْنَا
الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُۚ إِنَّهٗ لَيَئُوْسٌ كَفُوْرٌ
Wa- lain adzaq-nal-in
[g]saana minnaa rohmatan, tsummaa naza’-naaha min- hu, innahuu laya-uusun [g]-
kafuur
( Huud : 9 )
“Dan jika Kami (
Allah ) rasakan kepada manusia suatu rahmat ( nikmat ) dari Kami, kemudian
rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak
berterima kasih
==================================================
Allah swt, sering
menyebut beberapa watak dasar manusia di dalam Al-Qur’an al-Kariim. Ibarat
sebuah benda yang bernilai tinggi, maka watak dasar manusia tersebut bagaokan
lumpur yang membungkus, dan tidak tampak nilai apapun dari benda itu, tanpa
dibersihkannya lumpur pembung-kus tersebut.
Maka agar manusia
memiliki “ kelas khusus “ terkait dengan nilai kesejatian manusiawinya, maka ia
harus dapat mentas dari sifat dasar kemanusiaannya, untuk menggapai “ maqom [am] mahmuda “ / elite class, dalam
pengembaraan hidup dunia dan ukhrawinya.
Dua diantara sifat dasar manusia
adalah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Surah Huud : 9, yakni :
1.
Mudah
putus asa. Sifat ini sering tampak pada
perilakunya saat tidak dapat menggapai cita-cita dan keinginannya.
Sifat ini di kalangan kita sering dan dikenal
sebagai sifat cengeng, lembeng atau tidak mandiri. Yang bibit serta asal
muasalnya adalah dari sesuatu yang sepele. Yang pada intinya adalah terlalu
memanjakan nafsu sehingga mengakibatkan mentalitas yang tidak mau “
berberat-berat “ atau tidak mau berjuang secara sungguh-sungguh dalam menggapai
sesuatu. Dan sifat ini selalu menghindari hal-hal yang bersifat “ perjuangan/
jihad “ padahal hal itu merupakan dasar pengabdian manusia kepada hidup dan
kehidupannya.
Sifat ya-uus
atau mudah menyerah dan tidak
tahan uji merupakan sifat yang kontrodiksai dengan sifat-sifat orang mukmin.
Karena diantara sifat keimanan adalah kegigihan dalam memperjuangkan dan dalam
meng-apresiasikan keimanannya, pantang menyerah dan tidak mudah putus asa,
senantiasa mengobarkan semangat dalam diri dalam berkhidmah kepada Allah maupun
kepada sesame makhluk, sehingga pancaran keimanan yang tumbuh dari dirinya
memberi warna-warni bagi orang lain dalam hidupnya.
Sikap
mudah putus asa adalah bukti kerapuhan keyakinan dan lembeknya iman -
Betapa
banyak diantara kita yang sudah takut menghadapi kenyataan hidup yang
sebenarnya tiak seberapa berat dan sulit, namun dirinya lebih memuja sifat “
ya-us tersebut sehingga posisi “ iman”nya tidak pernah jelas
2. Mbalelo
( ngeyel )
Sifat
ini masih terkait dengan sifat di atas dan seringkali juga sebagai sebab akibat
yang sulit dipisah.
Seorang
yang memiliki sifat “ ya-us “ juga dihinggapi sifat yang amat sensitive,
sehingga dalam bersikap dan menyikapi hidup ( social, keagamaan ) acap kali
terperosok pada jurang-jurang “ negative” yang menjadi musuh orang orang yang
beriman.
Dengan
gambaran sederhana, orang yang mudah putus asa amat sensitive, sehingga ia
berusaha menutup kelema-han dirinya dengan selalu mencurigai setiap gerakan dan
upaya yang tidak sesuai dengan kondisi dirinya. Dan sikap menolak ( menutup
diri ) tersebut dalam istilah Islam sering debahasakan dengan “ kafuro “
sebagaimana sifat asli manusia pada bahasan ini.
Dalam
alur jalan hidup manusia patilah pernah singgah pada posisi ini ; yakni baik “
ya-us” maupun “ ka-fuura”, entah pada usia berapa, ataupun pada masa kapan. Dan
bagi pengembangan keiman- an dalam diri manusia akan timbul dan terasa, jikalau
dirinya bisa dan mampu memperkecil gerak sifat kodrati ini, atau justru
menghapus dan menghilangkan sama sekali.
Sehingga
dengan terkikisnya sifat kodrati manusia sebagaimana dalam Surah Huud ayat 9
ini, maka manusia sebenarnya sedang meniti menuju “ maqomam-mah muda “ di sisi
Allah, yakni sebuah derajat
Atau tempat yang memposisikan manusia
pada posisi yang mulia dan terhormat, bukan saja di hadapan manusia, tapi
terlebi adalah dihadapan Allah Azza wa-jalla.
Inilah maqom / posisi yang selalu
dicari dan dikejar oleh para “ Pecari Tuhan” yang dangan kokoh hati dan tidak
mudah menyerah senantiasa men-curahkan perhatian dan usahanya serta mengikuti
petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam menggapainya, sehingga ia meraih posisi “
mahmuda “ di sisi Allah.
Simpulan : orang yang kualitas iman dan takwanya bagus
dan teruji adalah mereke yang tidak mudah menyerah, tidak cengeng dan lembek
dalam mempertaankan dan memperjuangkan rtasa imannya, serta mereka yang
senantiasa “ sami’na wa atho’naa “ terhadap perintah Allah , melalui Rasul
utusan-Nya, Muhammad saw.
Dengan bermanja-manja pada sifat “
ya-us “ dan “ ka-fuura “ seseorang akan kesulitan menggapai “ maqomam- mah
muda” nya Allah.
Semoga Allah swt. Menjadikan kita sebagai umat
Muhammad yang berhak dan dapat menerima syafaat, sejak hari ini hingga kiamat.
Amin yaa Mujiibas-saa-iliin ¯












0 comments:
Posting Komentar