è Misi hidup
manusia sesuai dengan perintah adalah IBADAH/menyembah Alloh
ÙˆَÙ…َا
Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِÙ†ْسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
“Dan
tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku
(saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
èTujuan ibadah pada intinya adalah untuk Mentauhidkan Alloh :
Ùˆَاعْبُدُوا اللَّÙ‡َ ÙˆَÙ„َا
تُØ´ْرِÙƒُوا بِÙ‡ِ Ø´َÙŠْئًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”
(QS. An-Nisa`: 36).
Selain
karena : cinta kepada Alloh, untuk mendekatkan diri kepadaNya, merasa hina di
hadapan Alloh dan untuk mencapai keridloan Alloh di dunia dan akherat
èNamun
pada aplikasi nyata, ibadah sulit mencapai focus karena beberapa hal,
diantaranya kurangnya ilmu hingga sang penghamba tidak atau belum mengenal yang
disembah, juga banyaknya factor penghalang dan godaan…
Untuk membantu kita mencapai kesempurnaan
ibadah, Imam al-Ghozali menulis kitab Minhajul Abidin ilaa jannati Robbil ‘aalamiin
yang menjelaskan tentang cara beribadah agar berbuah kebahagiaan dunia
akherat.
èbila
dianalisa, kajian itu menjelaskan serupa dengan system managemen SWOT, yakni metode
perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths),
kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam
suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk
akronim SWOT (strengths,
weaknesses, opportunities, dan threats).
1. Strength / Kekuatan ,
Faktor-faktor yang menjadi
kekuatan dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin, pertama
; ilmu dan makrifat dan kedua pendorong.
a. Pertama
, ilmu dan makrifat.
Sabda Rasulullah saw, “Ilmu
adalah imamnya amal dan amal adalah makmunnya, Allah memberikan ilmu kepada
orang-orang yang berbahagia, tidak kepada orang-orang celaka (H.R. Abu
Nuaim, Abu Thalib Al-Makki, Al-KHatib, dan Ibnu Qayyim). Mengapa harus berilmu?
Pertama agar berhasil dan benar dalam beribadah, kedua orang yang berilmu tidak
akan mudah tertipu. Dengan ilmu kita mengetahui mana yang benar dan mana yang
salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Sedangkan makrifat adalah ilmu
untuk mengenal 4 perkara , yaitu pertama mengenal dirinya, kedua mengenal
Tuhannya, ketiga mengenal dunia dan keempat mengenal akhirat.
b. Kedua, pendorong
meliputi 2 hal yaitu takut
(khauf) dan raja’ (harap).
Allah Ta’ala berfirman :”
tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (
QS, Ali Imran:175 ). Berarti khauf merupakan syarat iman. Seseorang tidak
dikatakan beriman jika tidak takut kepada Allah Swt. Takut kepada Allah berarti
takut kepada nerakanya Allah dan takut kepada azabnya Allah. Dengan takut
kepada Allah akan memberikan kekuatan bagi kita untuk beribadah.
Sedangkan raja’ (mengharap) ialah
bersenang hati karena mengenal Allah, lapang pikirannya karena yakin akan
lapangnya rakhmat Allah. Lawan raja’ adalah putus asa dari rakhmat Allah dan
berhenti mengingat Allah. Dengan raja’ hati menjadi hidup. Harapan akan
memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat juga akan memberikan
kekuatan dalam beribadah.
2. Weakness / Kelemahan,
Faktor-faktor yang menjadi
kelemahan kita dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin
sebagai godaan dan celaan.
Dalam beribadah seseorang harus
dapat menahan diri dari segala macam godaan yang membuatnya bimbang dan wajib
membedakan mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik, serta membuang
segala sesuatu yang sekiranya dapat merusak dan merugikan ibadah sehingga
menjadi tercela.
Ada 4 macam godaan, yaitu pertama
rezeki dan tuntutan hawa nafsu, kedua berbagai macam bahaya, ketiga takdir dan
keempat kesulitan dan musibah. Sedangkan celaan ada 2 macam, yaitu riya’ dan
ujub.
a. Pertama, rezeki dan tuntutan hawa nafsu ;
Setiap muslim seharusnya
menggantungkan diri kepada Allah dalam urusan rezeki dan tuntutan. Orang yang
tidak menggantungkan diri kepada Allah tidak akan beribadah dengan baik, karena
pikirannya selalu terpusat pada rezeki, kebutuhan, dan urusan-urusan lain. Ia
selalu sibuk memburu rezeki, ia selalu memikirkan rezeki dengan
perasaan waswas. Pada akhirnya ia tidak peduli lagi apakah rezekinya itu
diperoleh dengan cara yang halal atau tidak. Cara mengatasinya tidak lain
hanyalah dengan bertawakal.
Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki “ (QS
Adz Dzariyat : 58}“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan
Allah-lah yang memberi rezekinya “ (QS Hud :6 )
b. Kedua, berbagai macam bahaya ;
Ada 2 bahaya yang mengharuskan
kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.
Pertama , bahaya yang timbul
dari sikap ragu-ragu ketika menginginkan sesuatu. Sehingga
dalam pelaksanaannya perlu mengucapkan Insya Allah. Meskipun yang demikian
tidak termasuk tafwid, melainkan menyangkut niat dan amalan.
Kedua, bahaya merusak, yaitu
suatu perbuatan yang tidak diyakini adanya maslahat. Jadi perbuatan
tersebut harus ditinggalkan, karena kemungkinan perbuatan yang dilakukan
mengandung dosa. Untuk mengatasi kedua bahaya tersebut caranya hanyalah tidak
lain berserah diri kepada Allah.
c. Ketiga, takdir;
sebagai hamba Allah kita harus
ikhlas menerima takdir-Nya, bagaimanapun keadaannya. Seseorang yang tidak
ikhlas (rela) menerima takdir Allah, hatinya selalu diliputi kesedihan.
Sehingga ia selalu berkeluh kesah dan mengeluh. Akibatnya ia tidak
berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah Swt. Ia tidak lagi sempat berzikir
kepada Allah dan tidak ada waktu lagi memikirkan akhirat. Orang yang ragu-ragu
dan tidak ikhlas menerima takdir Allah, mengadu kesana kemari, berarti
mengadukan Tuhan Yang Maha Mulia.
d. Keempat, kesulitan dan musibah;
dunia ini tempat ujian bagi
manusia. Setiap manusia pasti mengalami berbagai cobaan dan musibah. Dalam
menghadapi semua cobaan itu kita harus bersabar dan tahan uji. Orang yang tidak
bersabar, tidak tahan uji, tidak akan sampai ke tujuan. Sebab seseorang
yang sudah berniat hendak beribadah pasti akan menghadapi berbagai ujian dan
kesukaran.
e. Kelima riya’ ;
riya artinya setiap amalan yang
kita kerjakan ingin dilihat orang lain dengan harapan mendapatkan
pujian. Riya’ termasuk syirik kecil dan dapat merusak ibadah. Setiap
amalan hendaknya dilandasi keikhlasan dan semata-mata karena Lillahi Ta’ala.
f. Keenam ujub ;
ujub artinya sombong. Sifat
sombong dapat mengarah kepada takabur. Ujub juga berarti mengagungkan diri,
atau menganggap agung amal yang telah dilakukan. Ujub menghalangi taufik dan
takyid dari Allah. Sesorang yang tidak mendapat taufik dan takyid dari Allah
akan mudah celaka. Ujub juga dapat merusak amal saleh dan menyebabkan hilangnya
manfaat ibadah.
3. Opportunity / peluang,
Faktor-faktor yang menjadi
peluang kita dalam beribadah adalah pertama mendapat maghfirah (ampunan) dari
Allah Swt dan kedua limpahan rakhmat dan karunia Allah.
a. Pertama, ampunan Allah Swt :
Untuk mendapatkan ampunan dari
Allah Swt caranya adalah dengan bertobat. Mengapa harus
bertobat ? Pertama, agar kita taat. Kedua, agar ibadah kita diterima Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda : “ Yang
baik diantara kamu adalah yang sering tergoda tetapi selalu bertobat, selalu
kembali kepada Allah dengan perasaan menyesal atas dosanya dan dengan disertai
istighfar”.
b.Kedua, limpahan rakhmat dan karunia Allah :
Untuk mendapatkan limpahan
rakhmat dan karunia Allah Swt caranya dengan selalu bersyukurkepada
Allah Swt. Mengapa harus bersyukur ? Pertama, agar kenikmatan yang
sangat besar yang diberikan Allah Swt tetap dikekalkan, sebab bila tidak
disyukuri akan hilang. Kedua agar nikmat yang telah kita dapatkan akan
bertambah.
Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi kalau
kalian kufur, ingatlah sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih “ .
(QSIbrahim :7 ). Sesungguhnya syukur itu adalah mengagungkan Allah Yang Memberi
Nikmat, yakni mengukur nikmat-Nya agar kita tidak menjauhi diri dan tidak
bersifat kufur.
4. Threat / Ancaman/ Rintangan,
Faktor-faktor yang dapat menjadi
rintangan dalam beribadah ada empat, yaitu pertama dunia, kedua mahkluk, ketiga
syaitan dan keempat nafsu.
a. Pertama, dunia dan isinya ;
Yang dimaksud dunia di sini
adalah semua yang tidak punya manfaat di akhirat. Allah Swt berfirman : “ Dan
tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya negeri akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui “ ( QS Ankabut : 64 ). Kehidupan kita di dunia hanya
sekerdipan mata dibanding kehidupan akhirat. Tetapi banyak manusia lupa. Siang
malam, seorang sibuk mencari bekal dunia, dan hatinya tergoda oleh bermacam
keinginan dan hawa nafsu. Keduanya akan merintanginya untuk beribadah. Sebab
perhatiannya hanya satu, yakni dunia. Sekarang ini dunia memang nyata dan
akhirat masih ghaib. Nanti adalah sebaliknya, akhirat yang nyata dan dunia
ghaib. Allah Swt juga berfirman : “ Dunia ini ladangnya akhirat “.
Apa saja yang kita usahakan di dunia, hasilnya akan kita petik di akhirat.
Sabda Rasulullah Saw : “ Barangsiapa mencintai dunia, urusan akhiratnya
akan tercecer. Dan barang siapa mencintai akhirat, akan berkurang dunianya. Dan
pilihlah yang kekal daripada yang cepat binasa”. ( H.R. Bukhari dan Muslim
). Salman Al- Farisi r.a berkata, ‘Sesungguhnya jika hamba Allah berzuhud terhadap
dunia, bersinarlah hatinya dengan hikmah, dan anggota badannya saling menolong
untuk beribadah’.
b. Kedua makhluk ;
Kebanyakan makhluk akan
menghalangi kita dari beribadah dengan memasukkan kebingungan-kebingungan dalam
hati kita. Bahkan terkadang menghalangi dan membawa kita kepada kejahatan
dan kebinasaan. Sebab kebanyakan dari mereka tidak mengetahui hak-hak kehambaan
dan hanya mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah. Untuk akhirat mereka
lalai dan tidak memikirkannya. Selain itu kebanyakan manusia dapat merusak
ibadah yang telah kita laksanakan. Dengan ajakannya yang menjurus kepada
perbuatan riya’ dan bermegah-megahan jika tidak ada perlindungan dari Allah.
c. Ketiga,
setan :
Setan adalah nyata-nyata musuh
yang menyesatkan. Dirinya tidak dapat diharapkan adanya kebaikan dan
perdamaian, sebab mereka akan puas jika mampu membinasakan kita. Allah Swt
berfirman :” Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah
ia musuhmu… “ ( QS Al Fatir : 6 ). Sudah menjadi tabiat setan untuk
selalu memusuhi anak cucu adam. Sedangkan kita sering lalai akan hal itu.
Guna memerangi dan mengalahkan
setan menurut pendapat ulama ada tiga cara ;
Pertama , harus mengetahui tipu
daya setan, sehingga dia tidak akan berani mengganggu kita. Kedua, anggap remeh
ajakan setan, jangan memberi perhatian dan menghiraukan ajakannya. Setan ibarat
anjing menggonggong, jika dilayani ia akan terus menggonggong. Ketiga, berzikir
dengan lisan maupun hati. Sabda nabi Saw : ‘ Sesungguhnya zikrullah itu
menyakitkan setan. Seperti menderitanya anak Adam dengan penyakit yang
bersarang di lambungnya “
d. Keempat,hawa
nafsu :
Kita harus berhati-hati terhadap
dorongan hawa nafsu yang akan menyeret kita berbuat kejahatan. Oleh karena itu
kita harus waspada karena hawa nafsu merupakan musuh dari dalam selain hawa
nafsu juga adalah musuh yang disukai. Nabi Yusuf As mengatakan : “ Dan
aku tidak akan membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu
itu selalu memerintahkan berbuat kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rakhmat
oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “
( QS Yusuf : 53 ). Kita harus mampu mengendalikan nafsu dengan niat yang kuat
dan menahan diri (wara’) dari perbuatan maksiat dan tidak berlebih-lebihan.
Caranya adalah dngan menjaga lima anggota tubuh ; yakni mata, telinga, lidah,
hati dan perut. Mata harus benar-benar dipelihara dan dikendalikan, karena
seringkali menjadi pangkal timbulnya fitnah dan penyakit sejenisnya. Allah Swt
berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah
mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka perbuat” (QS An Nur : 30 ). Telinga jangan sampai mendengar perkataan-perkataan
kotor, hina dan yang tidak bermanfaat. Mendengarkan sesuatu dapat menimbulkan
dorongan hati dan perasaan waswas. Mulut adalah anggota tubuh dan indera yang
paling usil dan paling banyak menimbulkan kerusakan. Untuk mempertahankan amal
saleh adalah dengan memelihara lisan. Sebab jika lisan tidak terkendali, ia
akan cenderung berbuat yang tidak karuan, mengumpat orang misalnya. Sebagian
ulama berpendapat :’ Barangsiapa banyak bicara, akan banyak pula lidahnya
tergelincir. Dan mengumpat ibarat halilintar yang menghapus taat’. Hati adalah
bagian tubuh manusia yang paling besar bahayanya, pengaruhnya paling kuat,
masalahnya paling pelik dan sukar. Paling halus dan sulit memperbaikinya. Hati
ibarat raja yang ditaati dan pemimpin yang disegani. Seluruh anggota badan
ibarat rakyatnya. Jika hatinya baik, baiklah seluruh anggota badan, sebagaimana
yang disabdakan Rasulullah Saw : “ Sesungguhnya dalam jasad manusia
terdapat segumpal darah yang apabila keadaannya baik, baik pula seluruh
anggotanya. Dan jika keadaanya rusak, akan rusak pula seluruh anggota badannya “.
Perut, wajib dijaga bagi orang yang hendak melaksanakan ibadah. Wajib bagi kita
untuk memelihara perut dari makanan yang diharamkan, selain menjaganya agar
tidak berlebih-lebihan.Orang yang makan makanan haram dan subhat
tidak akan diberi taufik dalam beribadah dan terhalang berbuat kebaikan.
Sedangkan memakan makanan halal berlebih-lebihan menyebabkan hati menjadi
keras, akal dan pikiran menjadi sempit dan malas beribadah.
Demikianlah SWOT untuk
menyempurnakan ibadah yang merupakan kemasan ulang Minhajul Abidin karya Imam
Al Ghazali dan mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita dan kita niat untuk
mengamalkannya.












0 comments:
Posting Komentar