Rabu, Desember 05, 2018

Pendahuluan Minhajul Abidin ( 6 )

TANJAKAN PENCACAT, TANJAKAN PUJI & SUKUR

Gambar terkait

Disini ia dihadapkan kepada suatu tanjakan baru, namanya TANJAKAN PENCACAD, pembuat cacad. Jadi ia terpaksa menempuhnya dengan IKHLAS dan DZKIRUL MINNAH, ikhlas itu lawannya riya, dzikrul minah itu lawannya ujub.
Ikhlas artinya memurnikan ibadah, dzikkrul minah ialah ingat akan jasa Tuhan, jadi tidak sombong dan takabur. Ia mulai menempuh tanjakan ini dengan ijin dari Allah, dengan dengan kesungguhan hati, dengan hati-hati dan waspada, dengan peliharaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Serta bimbingannya. Ketika ia sudah melalui tanjakan yang baru ini, berhasilah ia beribadah sebagaimana mestinya, sebagaimana patutnya, sehat selamat dari ganngguan wabah. Akan tetapi ia berpikir lagi, tiba-tiba ia melihat dirinya sedang tenggelam dalam lautan kenikmatan dan jasa dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan kebaikan-kebaikan-Nya, dari banyaknya yang dikaruniakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadannya, yaitu diberi taufiq dan pemeliharaan serta macam-macam penguat dan pendukung, dihormati, dimuliakan, akirnya ia kuatir kalau ia lupa berterimakasih, sehingga akibatnya, ia jatuh kedalam kekufuran, lupa bersyukur, sebab kalau jatuh kejurang lupa , berarti dia jatuh dari martabat yang tinggi, yaitu martabat khadam yang khusus untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan hilang daripadanya nikmat-nikmat yang mulia itu. Maka disini ia dihadapkan kepada tanjakan baru dan terakhir, namanya: TANJAKAN PUJI dan SYUKUR.
Tetapi ia sadar unTuk menempuh tanjakan ini dengan sedapat mungkin, yaitu dengan memperbanyak pujian dan syukur atas nikmat-nikmat daripada-Nya yang banyak itu.
Setelah ia menempuh tanjakan yang terakhir ini dan kemudian, ia turun kedataran, tiba-tiba ia bertemu dengan maksud dan keinginannya, yang berada di depannya, ia melangkah sedikit kedepan, tibalah ia kedataran karunia dan padang rindu serta halaman mahabbah. Kemudian ia masuk kedalam taman keridhoan, kebun-kebun kecintaan dan kehangatan hati, sampai dihamparan kegembiraan, dekat martabat, tempat munajat, beroleh pakaian kehormatan dan kemuliaan.
Jadi ia merasa nikmat dalam keadaan seperti ini, selama hidupnya dan sisa umurnya, badannya masih didunia, tetapi hatinya sudah diakhirat. Ia menunggu dari hari ke hari pembawa surat, sampai ia bosan terhadap mahluk, benci terhadap dunia, rindu ingin cepat pulang. Rindunya penuh pada alamul a’la (masyarakat yang tertinggi). Tiba-tiba datanglah utusan-utusan pembawa amanat dari Robul ‘Alamin kepadanya datang dengan segala yang menyenangkan, dengan wewangian dan berita yang menggembirakan, keridoan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dari Tuhan yang ridho tidak murka, jadi mereka itu (para malaikat) memindahkan dia dalam keadaan senang dan gembira penuh dengan kehangatan, dari negri yang fana, yang menggoda, kehadirat keTuhanan dan tempat taman firdaus. Dirinya yang lemah dan berfikir itu memperoleh kenikmatan yang kekal dan kerajaan yang besar.
Ia menemukan disana nikmat karunia dari tuhannya, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang Maha Rahim, yang Maha Pemurah. Yaitu kelemah lembutan, kesayangan dan sambutan, pemberian nikmat, pemberian kemuliaan, dan apa yang tak terkatakan lagi, tidak pernah dilihat, tidak bisa digambarkan, tiap hari terus bertambah sampai selama-lamanya. Besar nian kebahagiaan ini, tinggi nian kerajaan ini, bahagia nian hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini, manusia yang mahmud (terpuji) ini, baik sekali tempat kembalinya.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Baik, yang Maha Rahim, agar dia memberikan aku dan kamu sekalian kenikmatan yang maha besar, karunia yang maha agung, tidak sukar bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk berbuat seperti itu.
Kita memohon supaya jangan termasuk golongan yang bernasib sebaliknya dan tidak seperti itu, yang hanya mendengarkan saja dan berpengetahuan saja dan melamunkannya saja tanpa mendapatkan manfaatnya, dan kita memohon supaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala jangan membuat ilmu yang kita kaji sekarang ini, hanya jadi hujjah yang merugikan kita kelak diyaumul kiyamah, dan kita memohon Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita sekalian untuk mengamalkan yang demikian itu dan melakukannya sebagaimana mestinya, sebagaimana yang diridoi oleh –Nya.
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala jua yang memberi rahmat dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala jua yang Maha Pemurah. Nah, inilah isi kitab Minhajul Abidin yang diilhamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadaku untuk menerangkan jalan ibadah itu dengan lengkap. Sekarang, ketahuilah dengan taufiq dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa jumlah semuanya ini ada 7 tanjakan :
1. Tanjakan Ilmu dan Ma’rifat
2. Tanjakan Taubat
3. Tanjakan Halangan
4. Tanjakan Rintangan
5. Tanjakan Pendorong
6. Tanjakan Pencacad
7. Tanjakan Puji dan Syukur
Dan dengan tamatnya tanjakan-tanjakan ini, maka tamatlah kitab Minhajul Abidin ini. Sekarang akan aku jelaskan tanjakan-tanjakan ini dengan keterangan-keterangan singkat yang mengandug makna-makna penting. Masing-masing akan diterangkan dalam babnya tersendiri, Insya Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala jua yang memberi taufiq dan membimbing kita dengan karuniaNya. Wallahu ‘alam bishowab.


0 comments:

Posting Komentar

 

Kontak