TANJAKAN PENCACAT, TANJAKAN PUJI & SUKUR

Disini ia
dihadapkan kepada suatu tanjakan baru, namanya TANJAKAN PENCACAD,
pembuat cacad. Jadi ia terpaksa menempuhnya dengan IKHLAS dan DZKIRUL
MINNAH, ikhlas itu lawannya riya, dzikrul
minah itu lawannya ujub.
Ikhlas artinya
memurnikan ibadah, dzikkrul minah ialah ingat akan jasa Tuhan, jadi
tidak sombong dan takabur. Ia mulai menempuh tanjakan ini dengan ijin dari
Allah, dengan dengan kesungguhan hati, dengan hati-hati dan waspada, dengan
peliharaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Serta bimbingannya. Ketika ia
sudah melalui tanjakan yang baru ini, berhasilah ia beribadah sebagaimana
mestinya, sebagaimana patutnya, sehat selamat dari ganngguan wabah. Akan tetapi
ia berpikir lagi, tiba-tiba ia melihat dirinya sedang tenggelam dalam lautan
kenikmatan dan jasa dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan
kebaikan-kebaikan-Nya, dari banyaknya yang dikaruniakan Allah Subhanahu Wa
Ta’ala kepadannya, yaitu diberi taufiq dan pemeliharaan serta macam-macam
penguat dan pendukung, dihormati, dimuliakan, akirnya ia kuatir kalau ia lupa
berterimakasih, sehingga akibatnya, ia jatuh kedalam kekufuran, lupa bersyukur,
sebab kalau jatuh kejurang lupa , berarti dia jatuh dari martabat yang tinggi,
yaitu martabat khadam yang khusus untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan
hilang daripadanya nikmat-nikmat yang mulia itu. Maka disini ia dihadapkan
kepada tanjakan baru dan terakhir, namanya: TANJAKAN PUJI dan SYUKUR.
Tetapi ia sadar
unTuk menempuh tanjakan ini dengan sedapat mungkin, yaitu dengan memperbanyak
pujian dan syukur atas nikmat-nikmat daripada-Nya yang banyak itu.
Setelah ia menempuh tanjakan yang terakhir ini dan kemudian, ia turun kedataran, tiba-tiba ia bertemu dengan maksud dan keinginannya, yang berada di depannya, ia melangkah sedikit kedepan, tibalah ia kedataran karunia dan padang rindu serta halaman mahabbah. Kemudian ia masuk kedalam taman keridhoan, kebun-kebun kecintaan dan kehangatan hati, sampai dihamparan kegembiraan, dekat martabat, tempat munajat, beroleh pakaian kehormatan dan kemuliaan.
Setelah ia menempuh tanjakan yang terakhir ini dan kemudian, ia turun kedataran, tiba-tiba ia bertemu dengan maksud dan keinginannya, yang berada di depannya, ia melangkah sedikit kedepan, tibalah ia kedataran karunia dan padang rindu serta halaman mahabbah. Kemudian ia masuk kedalam taman keridhoan, kebun-kebun kecintaan dan kehangatan hati, sampai dihamparan kegembiraan, dekat martabat, tempat munajat, beroleh pakaian kehormatan dan kemuliaan.
Jadi ia merasa
nikmat dalam keadaan seperti ini, selama hidupnya dan sisa umurnya, badannya
masih didunia, tetapi hatinya sudah diakhirat. Ia menunggu dari hari ke hari
pembawa surat, sampai ia bosan terhadap mahluk, benci terhadap dunia, rindu
ingin cepat pulang. Rindunya penuh pada alamul a’la (masyarakat yang
tertinggi). Tiba-tiba datanglah utusan-utusan pembawa amanat dari Robul ‘Alamin
kepadanya datang dengan segala yang menyenangkan, dengan wewangian dan berita
yang menggembirakan, keridoan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dari Tuhan
yang ridho tidak murka, jadi mereka itu (para malaikat) memindahkan dia
dalam keadaan senang dan gembira penuh dengan kehangatan, dari negri yang fana,
yang menggoda, kehadirat keTuhanan dan tempat taman firdaus. Dirinya yang lemah
dan berfikir itu memperoleh kenikmatan yang kekal dan kerajaan yang besar.
Ia menemukan
disana nikmat karunia dari tuhannya, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Yang Maha Rahim, yang Maha Pemurah. Yaitu kelemah lembutan, kesayangan dan
sambutan, pemberian nikmat, pemberian kemuliaan, dan apa yang tak terkatakan
lagi, tidak pernah dilihat, tidak bisa digambarkan, tiap hari terus bertambah
sampai selama-lamanya. Besar nian kebahagiaan ini, tinggi nian kerajaan ini,
bahagia nian hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini, manusia yang mahmud (terpuji)
ini, baik sekali tempat kembalinya.
Kita memohon
kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Baik, yang Maha Rahim, agar
dia memberikan aku dan kamu sekalian kenikmatan yang maha besar, karunia yang
maha agung, tidak sukar bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk berbuat
seperti itu.
Kita memohon
supaya jangan termasuk golongan yang bernasib sebaliknya dan tidak seperti itu,
yang hanya mendengarkan saja dan berpengetahuan saja dan melamunkannya saja
tanpa mendapatkan manfaatnya, dan kita memohon supaya Allah Subhanahu Wa
Ta’ala jangan membuat ilmu yang kita kaji sekarang ini, hanya jadi hujjah
yang merugikan kita kelak diyaumul kiyamah, dan kita memohon Allah Subhanahu
Wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita sekalian untuk mengamalkan yang
demikian itu dan melakukannya sebagaimana mestinya, sebagaimana yang diridoi
oleh –Nya.
Sesungguhnya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala jua yang memberi rahmat dan Allah Subhanahu
Wa Ta’ala jua yang Maha Pemurah. Nah, inilah isi kitab Minhajul Abidin
yang diilhamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadaku untuk menerangkan
jalan ibadah itu dengan lengkap. Sekarang, ketahuilah dengan taufiq dari Allah Subhanahu
Wa Ta’ala bahwa jumlah semuanya ini ada 7 tanjakan :
1. Tanjakan
Ilmu dan Ma’rifat
2. Tanjakan
Taubat
3. Tanjakan
Halangan
4. Tanjakan
Rintangan
5. Tanjakan
Pendorong
6. Tanjakan
Pencacad
7. Tanjakan
Puji dan Syukur
Dan dengan
tamatnya tanjakan-tanjakan ini, maka tamatlah kitab Minhajul Abidin ini.
Sekarang akan aku jelaskan tanjakan-tanjakan ini dengan keterangan-keterangan
singkat yang mengandug makna-makna penting. Masing-masing akan diterangkan
dalam babnya tersendiri, Insya Allah.
Allah Subhanahu
Wa Ta’ala jua yang memberi taufiq dan membimbing kita dengan karuniaNya.
Wallahu ‘alam bishowab.











0 comments:
Posting Komentar