Rabu, Desember 05, 2018

Pendahuluan Minhajul Abidin ( 5 )

TANJAKAN GODAAN & TANJAKAN PENDORONG
Hasil gambar untuk GODAAN IBADAH

Maka disini ia menghadapi tanjakan lagi TANJAKAN RINTANGAN EMPAT atau TANJAKAN GODAAN.
ia harus menempuhnya dengan empat macam alat :
1. Tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam hal rizki, harus tawakal dan menyerah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
2. Berserah diri.
Pasrah sepenuhnya kepada ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengenai apa yang dikhawatirkannya. Contohnya ditempat berbahaya, dimana kita sudah tak berdaya, serahkan sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seperti, kata seorang yang beriman yang diantar prajurit tentara kerajaan firaun :”aku serahkan urusanku kepada Allah”, yaitu sewaktu ia diancam akan dibunuh.
3. Sabar
Kesabaran adalah sebuah sikap yang telah menjadi sifat dalam menghadapi datangnya berbagai bencana dan musibah sebagai ujian yang menimpa dirinya.
4. Ridho
Dia menerima dengan penuh daya tahan dan ketenangan saat takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghampirinya. Dia akan berkata : “takdir ini saya terima dengan penuh ikhtiar dan perjuangan, atau saya terima dengan rela takdir ini”.
Jadi ia mulai juga menempuh tanjakan ini dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan dengan kebaikan bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Setelah menempuh tanjakan yang baru ini, yakni tanjakan rintangan yang keempat, kembali ia ingin beribadah dengan benar, dan ia berfikir lagi. Tiba-tiba dirinya lesu, malas, tidak giat dan tidak terdorong untuk berbuat kebaikan sebagaimana mestinya.
Nafsunya cenderung kepada kelalaian dan bersenang-senang saja, banyak istirahat, nganggur dan maunya tidak bekerja. Malah cenderung kepada kejahatan serta kepada hal-hal yang tidak ada gunanya dan kearah bencana juga kebodohan. Pada saat seperti ini, ia perlu pendamping yang membawanya kepada kebaikan, kepada ketaatan dan membuat ia giat kembali untuk berbuat kebaikan, karena ada yang menegur nafsunya supaya jangan berbuat jahat dan durhaka.
Penahanan atau penegur itu ialah HARAPAN dan TAKUT . Harapan itu ialah harapan ganjaran yang besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini adalah pengiring yang dapat membangkitkan kepada ketaatan, menggerakan dirinya untuk benar-benar giat melaksanakan kebaikan-kebaikan. Adapun takut itu ialah takut kepada hukuman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang pedih, yang diancamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ancaman itu berupa penegur, penolak dari segala maksiat, menjauhkannya dari perbuatan tersebut, mencegahnya dari berbuat maksiat, inilah TANJAKAN PENDORONG yang menyambut dia disini. Jadi ia perlu menempuh dengan dua alat HARAPAN dan TAKUT maka ia mulai menempuh tajakan in dengan taufik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akhirnya ia dapat menempuhnya dengan selamat.
Setelah ia menempuh tanjakan pendorong ini ia kembali kepada ibadah. Disini ia sudah tidak melihat lagi penghalang dan perintang, bahkan menemukan pendorong dan pengajak, karena itu giatlah ia beribadah, dilakukan secara sebenar-benarnya, dengan penuh rindu dan gemar melakukannya. Dan ia terus-menerus beribadah.
Tetapi kemudia ia melihat, berfikir, dan tiba-tiba terlihat olehnya bahwa ibadah yang susah payah ia lakukan, ada dua hama. Sewaktu-waktu ia berpura-pura dengan ketaatanya agar dilihat oleh manusia, berarti riya, dan kadang-kadang ia tidak berbuat demikian, bahkan mencerca dirinya sendiri supaya jangan riya, tetapi kemudia ia terkena penyakit sombong (ujub), kesombongannya itu merusak ibadahnya, merugikan dia, dan menghancurkannya.

0 comments:

Posting Komentar

 

Kontak