TANJAKAN GODAAN & TANJAKAN PENDORONG
Maka disini ia
menghadapi tanjakan lagi TANJAKAN RINTANGAN EMPAT atau TANJAKAN
GODAAN.
ia harus
menempuhnya dengan empat macam alat :
1. Tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam hal rizki,
harus tawakal dan menyerah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
2. Berserah diri.
Pasrah sepenuhnya
kepada ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengenai apa yang
dikhawatirkannya. Contohnya ditempat berbahaya, dimana kita sudah tak berdaya,
serahkan sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seperti, kata
seorang yang beriman yang diantar prajurit tentara kerajaan firaun :”aku
serahkan urusanku kepada Allah”, yaitu sewaktu ia diancam akan dibunuh.
3. Sabar
Kesabaran adalah
sebuah sikap yang telah menjadi sifat dalam menghadapi datangnya berbagai
bencana dan musibah sebagai ujian yang menimpa dirinya.
4. Ridho
Dia menerima dengan
penuh daya tahan dan ketenangan saat takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala
menghampirinya. Dia akan berkata : “takdir ini saya terima dengan penuh
ikhtiar dan perjuangan, atau saya terima dengan rela takdir ini”.
Jadi ia mulai juga
menempuh tanjakan ini dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan dengan
kebaikan bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Setelah menempuh
tanjakan yang baru ini, yakni tanjakan rintangan yang keempat, kembali ia ingin
beribadah dengan benar, dan ia berfikir lagi. Tiba-tiba dirinya lesu, malas,
tidak giat dan tidak terdorong untuk berbuat kebaikan sebagaimana mestinya.
Nafsunya
cenderung kepada kelalaian dan bersenang-senang saja, banyak istirahat,
nganggur dan maunya tidak bekerja. Malah cenderung kepada kejahatan serta
kepada hal-hal yang tidak ada gunanya dan kearah bencana juga kebodohan. Pada
saat seperti ini, ia perlu pendamping yang membawanya kepada kebaikan, kepada
ketaatan dan membuat ia giat kembali untuk berbuat kebaikan, karena ada yang
menegur nafsunya supaya jangan berbuat jahat dan durhaka.
Penahanan atau
penegur itu ialah HARAPAN dan TAKUT . Harapan itu ialah harapan ganjaran
yang besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini adalah pengiring yang
dapat membangkitkan kepada ketaatan, menggerakan dirinya untuk benar-benar giat
melaksanakan kebaikan-kebaikan. Adapun takut itu ialah takut kepada hukuman
Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang pedih, yang diancamkan oleh Allah Subhanahu
Wa Ta’ala.
Ancaman itu
berupa penegur, penolak dari segala maksiat, menjauhkannya dari perbuatan
tersebut, mencegahnya dari berbuat maksiat, inilah TANJAKAN PENDORONG
yang menyambut dia disini. Jadi ia perlu menempuh dengan dua alat HARAPAN dan
TAKUT maka ia mulai menempuh tajakan in dengan taufik dari Allah Subhanahu
Wa Ta’ala. Akhirnya ia dapat menempuhnya dengan selamat.
Setelah ia
menempuh tanjakan pendorong ini ia kembali kepada ibadah. Disini ia sudah tidak
melihat lagi penghalang dan perintang, bahkan menemukan pendorong dan pengajak,
karena itu giatlah ia beribadah, dilakukan secara sebenar-benarnya, dengan
penuh rindu dan gemar melakukannya. Dan ia terus-menerus beribadah.
Tetapi kemudia
ia melihat, berfikir, dan tiba-tiba terlihat olehnya bahwa ibadah yang susah
payah ia lakukan, ada dua hama. Sewaktu-waktu ia berpura-pura dengan ketaatanya
agar dilihat oleh manusia, berarti riya, dan kadang-kadang ia
tidak berbuat demikian, bahkan mencerca dirinya sendiri supaya jangan riya,
tetapi kemudia ia terkena penyakit sombong (ujub), kesombongannya
itu merusak ibadahnya, merugikan dia, dan menghancurkannya.











0 comments:
Posting Komentar