TANJAKAN TAUBAT & TANJAKAN PENGHALANG

Disini ia berhadapan dengan TANJAKAN
TAUBAT, dia susah payah juga untuk menempuhnya,… tidak bisa tidak…., ia
harus menempuh tanjakan taubat ini, agar ia sampai kepada tujuan yang
dimaksudkan, serta faham makna dan hakekat ibadahnya. Dia mulai melakukan
taubat, dan dalam melakukan taubat ini, harus menurut syarat-syaratnya, sampai
akhirnya ia dapat menempuhnya.
Setelah dia berhasil taubat secara
benar, dan selesai pada tanjakan ini, maka ia merasa rindu untuk melakukan
ibadah, untuk memulai ibadah dengan baik dan benar. Tetapi kemudian ia berfikir
lagi, merenungkan lagi, dan tiba-tiba ada halangan-halangan (penghalang-penghalang)
disekitarnya yang mengepung dirinya. Menghalangi kebersihan dan kesucian
beribadah. Ia melihat, merenungkan, dan mengklarifikasi macam-macam faktor
penghalang itu?, Akhirnya dapat disimpulkan halangan-halangan itu ada empat
macam:
1. Faktor Penghalang Dunia
2. Faktor Penghalang Mahluk
3. Faktor Penghalang Syaitan
4. Faktor Penghalang Nafsu
2. Faktor Penghalang Mahluk
3. Faktor Penghalang Syaitan
4. Faktor Penghalang Nafsu
Ia harus berusaha sekuat daya
upayanya menolak halangan-halangan itu dan menjauhkannya, menyingkirkannya,
kalau tidak demikian tidak akan tercapai tujuan ibadahnya itu. Disini ia
dihadapkan pada tanjakan baru namanya TANJAKAN PENGHALANG. Ia
harus menempuh tanjakan ini dengan empat jalan pemecahan, yaitu :
1. Tajarud ‘anid dunya (membulatkan hati, sampai tidak bisa
ditipu oleh dunia).
2. Memelihara diri supaya tidak bisa disesatkan oleh mahluk
(sebab kebanyakan mahluk suka menyesatkan).
3. Menyatakan perang
terhadap syaitan (sebab kalau tidak diperangi, syaitan akan terus saja
menghalangi).
4. Menaklukan hawa
nafsu kita sendiri.
Menaklukan nafsu inilah yang paling
susah, sebab nafsu tidak bisa dikikis sampai habis sama sekali. Sebab nafsu itu
ada gunanya, hanya saja nafsu jangan sampai bisa mengalahkan kita. Jika
seseorang tidak bisa menundukan nafsunya sama sekali, maka akan sangat
berbahaya. Dan jangan menekan nafsu itu sampai mati,…. inilah yang paling
susah…, dihilangkan atau dimatikan nafsu itu jangan…., kitapun jangan sampai
dikuasai nafsu. Dikikis sampai habis..sama sekali tidak bisa, kalau orang
mengikis habis nafsunya sama sekali, celakalah dia…., maka dia bukan manusia.
Karena nafsu yang terkendali sewajarnya membuat manusia tumbuh dan berkembang.
Kalau syaitan ternyata bisa
dikalahkan dan ditaklukan, bahkan syaitan yang menggoda Rosulullah Shallallahu
'alaihi wa Salam mutlak kalah. Kita juga harus mampu mengalahkan syaitan
itu, tetapi hawa nafsu pada diri kita tidak harus ditumpas sama sekali. Sebab,
nafsu pada diri kita adalah kendaraan kita (alat kita), namun tidak akan ada
harapan bahwa nafsu pada diri kita akan mendorong kita kearah kebaikan, kalau
dibiarkan….., nafsu akan mendorong, hanya kepada kejahatan saja.
Akan tetapi untuk menyiasati
nafsu pada diri kita sendiri adalah hal yang paling susah,…. jangan berharap
bahwa nafsu akan mufakat dengan kita, untuk beribadah dan menghadap Allah
dengan ikhlas, sebab nafsu itu memang tabiatnya tidak baik, hanya ingin berbuat
apa-apa yang melupakan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ingin
dimanjakan dan dituruti kemauannya.
Menurutkan nafsu semata akan
membuat kita lupa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kalau begitu
perlulah hamba Allah yang mengendalikan nafsunya, degan alat kendali yang
namanya TAQWA, supaya nafsu itu tetap hidup baginya, tidak mati, tapi
tunduk, yaitu dengan kendali, seperti mengendalikan kuda binal.
Jadi seseorang itu bisa
menggunakan nafsunya untuk kebaikan, kemaslahatan dan untuk kebenaran,
dikendalikan jangan sampai jatuh ketempat-tempat celaka, tempat-tempat yang
merusak.
Kalau begitu ia sekarang
mulai menempuh tanjakan ini dengan meminta tolong kepada Allah Subhanahu Wa
Ta’ala, supaya dapat menempuh tanjakan yang terjal ini. Setelah ia menempuh
tanjakan atau penghalang ini, ia kembali akan melaksanakan ibadah, tetapi
tiba-tiba kelihatan lagi ada rintangan-rintangan yang lain.
Kalau tadi ada penghalang
yang tetap. Maka sekarang ia menghadapi rintangan-rintangan yang terkadang
datang dan terkadang menghilang, hal ini akan membingungkan hatinya untuk
sepenuhnya menuju tujuannya, yaitu beribadah sebagaimana mestinya.
Ia merenungkan macam apakah
halangan-halangan itu? Setelah lama merenungkannya, maka ia tahu ada empat
rintangan ialah :
1. Rintangan berupa Rizki.
Dia akan
bertanya pada dirinya sendiri : “Bagaimana makananku?. Pakaianku?. Mana
bagian untuk anak-anakku?. Mana bagian untuk keluargaku? Mana?”.
Inilah rintangannya. Dan dirinya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut :
“Harus ada bekal bagiku!. Harus ada apa-apa yang menguatkan diriku!. Aku harus tajarud ‘aniddun’ya, sekarang aku sudah membulatkan hatiku ,sudah tidak dapat dibuai lagi oleh keserakahan dan kekhawatiran masalah-masalah dunia, dengan mengkhawatirakan rizki yang telah dijatahkan untukku dengan berikhtiar?. Aku sudah menjaga diri supaya jangan ditipu oleh mahluk-mahluk sekarang aku harus berhati-hati terhadap mahluk, kalau begitu bagaimana tenaga dan bekalku itu? Itu tagihan nafsunya (dirinya) sendiri.
Inilah rintangannya. Dan dirinya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut :
“Harus ada bekal bagiku!. Harus ada apa-apa yang menguatkan diriku!. Aku harus tajarud ‘aniddun’ya, sekarang aku sudah membulatkan hatiku ,sudah tidak dapat dibuai lagi oleh keserakahan dan kekhawatiran masalah-masalah dunia, dengan mengkhawatirakan rizki yang telah dijatahkan untukku dengan berikhtiar?. Aku sudah menjaga diri supaya jangan ditipu oleh mahluk-mahluk sekarang aku harus berhati-hati terhadap mahluk, kalau begitu bagaimana tenaga dan bekalku itu? Itu tagihan nafsunya (dirinya) sendiri.
2. Rintangan berupa macam-macam
bahaya,
Inilah rintangan yang kedua.
Macam-macam bahaya yang ia takutkan, ia takut ini dan mengharapkan itu,
takut-takut kalau tidak jadi. Ia ingin anu, anu, anu, takut kalau-kalau tidak
ada. Ia takut anu, anu,anu, takut kalau–kalau ada.
Ia tidak tahu apa yang baik baginya dalam hal ini, dan apa yang jelek baginya. Ia hanya meraba-raba saja, sebab akibat-akibat dari segala sesuatu itu samar sifatnya, begitu pula dengan akibat-akibatnya?. Hatinya bimbang, mungkin dia terjatuh pada kerusakan, kebinasaan atau jatuh pada tempat yang mencelakakan.
Ia tidak tahu apa yang baik baginya dalam hal ini, dan apa yang jelek baginya. Ia hanya meraba-raba saja, sebab akibat-akibat dari segala sesuatu itu samar sifatnya, begitu pula dengan akibat-akibatnya?. Hatinya bimbang, mungkin dia terjatuh pada kerusakan, kebinasaan atau jatuh pada tempat yang mencelakakan.
3. Rintangan berbagai macam
kesusahan dan kepayahan.
Inilah rintangan yang ketiga,
dimana musibah-musibah yang datang kepadanya bermacam-macam dari tiap segi
(tiap sudut kehidupan). Apalagi sekarang ia sudah berterkad untuk menjadi
seorang yang lain dari yang lain, tidak sama dengan mahluk yang lain, ia
bertekad untuk menjadi ahli ibadah, sedangkan orang lain tidak mau beribadah,
atau beribadah asal-asalan. Apalagi ia sudah bertekad pula untuk berperang
melawan syaitan, dan syaitan juga tidak akan tinggal diam, syaitan selalu
istiqamah dan selalu siap dan sigap untuk melawannya. Dan ia sudah bertekad
untuk melawan nafsunya, sedangkan nafsunya juga sudah siap untuk merobohkannya.
Berbagai kesusahan, kesulitan
dan kepayahan yang akan dihadapinya. Berbagai kebingungan, kecemasan, ketakutan
dan kesedihan yang melintang dijalannya, berbagai musibah akan datang
menyambutnya, ini juga harus dipikirkannya.
4. Rintangan bermacam-macam
takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Inilah rintangan keeempat atau yang terakhir. Ada yang manis, ada yang
pahit, sedangkan nafsu selalu cepat berkeluh kesah : “wah…. bagaimana ini?,
kenapa begitu?,…padahal saya sudah berusaha?......kok seperti ini..?. Demikian
cepatnya nafsu tergoda, sehingga berkata tanpa dipikir.











0 comments:
Posting Komentar