Rabu, Desember 05, 2018

Pendahuluan Minhajul Abidin ( 4 )

TANJAKAN TAUBAT & TANJAKAN PENGHALANG
Gambar terkait


Disini ia berhadapan dengan TANJAKAN TAUBAT, dia susah payah juga untuk menempuhnya,… tidak bisa tidak…., ia harus menempuh tanjakan taubat ini, agar ia sampai kepada tujuan yang dimaksudkan, serta faham makna dan hakekat ibadahnya. Dia mulai melakukan taubat, dan dalam melakukan taubat ini, harus menurut syarat-syaratnya, sampai akhirnya ia dapat menempuhnya.
Setelah dia berhasil taubat secara benar, dan selesai pada tanjakan ini, maka ia merasa rindu untuk melakukan ibadah, untuk memulai ibadah dengan baik dan benar. Tetapi kemudian ia berfikir lagi, merenungkan lagi, dan tiba-tiba ada halangan-halangan (penghalang-penghalang) disekitarnya yang mengepung dirinya. Menghalangi kebersihan dan kesucian beribadah. Ia melihat, merenungkan, dan mengklarifikasi macam-macam faktor penghalang itu?, Akhirnya dapat disimpulkan halangan-halangan itu ada empat macam:
1. Faktor Penghalang Dunia
2. Faktor Penghalang Mahluk
3. Faktor Penghalang Syaitan
4. Faktor Penghalang Nafsu
Ia harus berusaha sekuat daya upayanya menolak halangan-halangan itu dan menjauhkannya, menyingkirkannya, kalau tidak demikian tidak akan tercapai tujuan ibadahnya itu. Disini ia dihadapkan pada tanjakan baru namanya TANJAKAN PENGHALANG. Ia harus menempuh tanjakan ini dengan empat jalan pemecahan, yaitu :
1. Tajarud ‘anid dunya (membulatkan hati, sampai tidak bisa ditipu oleh dunia).
2. Memelihara diri supaya tidak bisa disesatkan oleh mahluk (sebab kebanyakan mahluk suka menyesatkan).
3.   Menyatakan perang terhadap syaitan (sebab kalau tidak diperangi, syaitan akan terus saja menghalangi).
4.   Menaklukan hawa nafsu kita sendiri.
Menaklukan nafsu inilah yang paling susah, sebab nafsu tidak bisa dikikis sampai habis sama sekali. Sebab nafsu itu ada gunanya, hanya saja nafsu jangan sampai bisa mengalahkan kita. Jika seseorang tidak bisa menundukan nafsunya sama sekali, maka akan sangat berbahaya. Dan jangan menekan nafsu itu sampai mati,…. inilah yang paling susah…, dihilangkan atau dimatikan nafsu itu jangan…., kitapun jangan sampai dikuasai nafsu. Dikikis sampai habis..sama sekali tidak bisa, kalau orang mengikis habis nafsunya sama sekali, celakalah dia…., maka dia bukan manusia. Karena nafsu yang terkendali sewajarnya membuat manusia tumbuh dan berkembang.
Kalau syaitan ternyata bisa dikalahkan dan ditaklukan, bahkan syaitan yang menggoda Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam mutlak kalah. Kita juga harus mampu mengalahkan syaitan itu, tetapi hawa nafsu pada diri kita tidak harus ditumpas sama sekali. Sebab, nafsu pada diri kita adalah kendaraan kita (alat kita), namun tidak akan ada harapan bahwa nafsu pada diri kita akan mendorong kita kearah kebaikan, kalau dibiarkan….., nafsu akan mendorong, hanya kepada kejahatan saja.
Akan tetapi untuk menyiasati nafsu pada diri kita sendiri adalah hal yang paling susah,…. jangan berharap bahwa nafsu akan mufakat dengan kita, untuk beribadah dan menghadap Allah dengan ikhlas, sebab nafsu itu memang tabiatnya tidak baik, hanya ingin berbuat apa-apa yang melupakan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ingin dimanjakan dan dituruti kemauannya.
Menurutkan nafsu semata akan membuat kita lupa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kalau begitu perlulah hamba Allah yang mengendalikan nafsunya, degan alat kendali yang namanya TAQWA, supaya nafsu itu tetap hidup baginya, tidak mati, tapi tunduk, yaitu dengan kendali, seperti mengendalikan kuda binal.
Jadi seseorang itu bisa menggunakan nafsunya untuk kebaikan, kemaslahatan dan untuk kebenaran, dikendalikan jangan sampai jatuh ketempat-tempat celaka, tempat-tempat yang merusak.
Kalau begitu ia sekarang mulai menempuh tanjakan ini dengan meminta tolong kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, supaya dapat menempuh tanjakan yang terjal ini. Setelah ia menempuh tanjakan atau penghalang ini, ia kembali akan melaksanakan ibadah, tetapi tiba-tiba kelihatan lagi ada rintangan-rintangan yang lain.
Kalau tadi ada penghalang yang tetap. Maka sekarang ia menghadapi rintangan-rintangan yang terkadang datang dan terkadang menghilang, hal ini akan membingungkan hatinya untuk sepenuhnya menuju tujuannya, yaitu beribadah sebagaimana mestinya.
Ia merenungkan macam apakah halangan-halangan itu? Setelah lama merenungkannya, maka ia tahu ada empat rintangan ialah :
1. Rintangan berupa Rizki.
Dia akan bertanya pada dirinya sendiri : “Bagaimana makananku?. Pakaianku?. Mana bagian untuk anak-anakku?. Mana bagian untuk keluargaku? Mana?”.
Inilah rintangannya. Dan dirinya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut :
“Harus ada bekal bagiku!. Harus ada apa-apa yang menguatkan diriku!. Aku harus tajarud ‘aniddun’ya, sekarang aku sudah membulatkan hatiku ,sudah tidak dapat dibuai lagi oleh keserakahan dan kekhawatiran masalah-masalah dunia, dengan mengkhawatirakan rizki yang telah dijatahkan untukku dengan berikhtiar?. Aku sudah menjaga diri supaya jangan ditipu oleh mahluk-mahluk sekarang aku harus berhati-hati terhadap mahluk, kalau begitu bagaimana tenaga dan bekalku itu? Itu tagihan nafsunya (dirinya) sendiri.
2. Rintangan berupa macam-macam bahaya,
Inilah rintangan yang kedua. Macam-macam bahaya yang ia takutkan, ia takut ini dan mengharapkan itu, takut-takut kalau tidak jadi. Ia ingin anu, anu, anu, takut kalau-kalau tidak ada. Ia takut anu, anu,anu, takut kalau–kalau ada.
Ia tidak tahu apa yang baik baginya dalam hal ini, dan apa yang jelek baginya. Ia hanya meraba-raba saja, sebab akibat-akibat dari segala sesuatu itu samar sifatnya, begitu pula dengan akibat-akibatnya?. Hatinya bimbang, mungkin dia terjatuh pada kerusakan, kebinasaan atau jatuh pada tempat yang mencelakakan.
3. Rintangan berbagai macam kesusahan dan kepayahan.
Inilah rintangan yang ketiga, dimana musibah-musibah yang datang kepadanya bermacam-macam dari tiap segi (tiap sudut kehidupan). Apalagi sekarang ia sudah berterkad untuk menjadi seorang yang lain dari yang lain, tidak sama dengan mahluk yang lain, ia bertekad untuk menjadi ahli ibadah, sedangkan orang lain tidak mau beribadah, atau beribadah asal-asalan. Apalagi ia sudah bertekad pula untuk berperang melawan syaitan, dan syaitan juga tidak akan tinggal diam, syaitan selalu istiqamah dan selalu siap dan sigap untuk melawannya. Dan ia sudah bertekad untuk melawan nafsunya, sedangkan nafsunya juga sudah siap untuk merobohkannya.
Berbagai kesusahan, kesulitan dan kepayahan yang akan dihadapinya. Berbagai kebingungan, kecemasan, ketakutan dan kesedihan yang melintang dijalannya, berbagai musibah akan datang menyambutnya, ini juga harus dipikirkannya.
4. Rintangan bermacam-macam takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Inilah rintangan keeempat atau yang terakhir. Ada yang manis, ada yang pahit, sedangkan nafsu selalu cepat berkeluh kesah : “wah…. bagaimana ini?, kenapa begitu?,…padahal saya sudah berusaha?......kok seperti ini..?. Demikian cepatnya nafsu tergoda, sehingga berkata tanpa dipikir.

0 comments:

Posting Komentar

 

Kontak