Rabu, Desember 05, 2018

Pendahuluan Minhajul Abidin ( 3 )

TANJAKAN ILMU DAN MAKRIFAT

Hasil gambar untuk ILMU DAN MAKRIFAT

Orang yang ingin memperolah Nur Ilahi, dia yakin bahwa memang dia mempunyai Tuhan yang memerintah dan melarangnya. Inilah tanjakan yang pertama, pendakian yang pertama, yang dihadapinya dalam perjalanan ibadah. Yaitu TANJAKAN ILMU & MA’RIFAT.
Untuk diketahui dan diingat, ibadah tanpa ilmu dan ma’rifat tidak ada artinya. Supaya dalam urusan ini difahami dengan benar, apa yang dilakukannya, kemudian dia menempuh tanjakan ini, tidak dapat tidak, harus menempuhnya, kalau tidak, dia akan celaka, mau tidak mau harus menempuh tanjakan ini, artinya ia harus belajar (mengaji), supaya bisa beribadah, menempuh jalan ini dengan sebaik-baiknya, memikirkan buktinya, dan merenungkan sepenuhnya.
Dengan belajar (mengaji), maka dia bertanya kepada guru, bertanya kepada para ulama tentang akhirat, bertanya kepada para petunjuk jalan yang mengarah kepada keselamatan akhirat, dia selalu bergaul dengan dian-dian (lampu-lampu) pembina umat. Dia senantiasa berguru dan bertanya kepada para imam, dan mintalah faedah dan doa dari beliau-beliau itu. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufik-Nya.
Dengan minta bantuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dia akan menempuh tanjakan ini dengan taufik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah dia cukup mengaji, maka dia akan berhasil memperoleh ilmu yang menambah keyakinannya. Mengetahui tentang hal-hal yang ghoib, maka dia makin yakin dengan adanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala, adanya Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam, adanya syurga, adanya neraka, adanya hisab, adanya nusyur, adanya wuquf fil mahsyar, dll. Ia tambah yakin bahwa tiada Tuhan Selain Allah Dan tidak Boleh Ada Sekutu BagiNya, Dia yang menciptakan dirinya, dan sekarang ia bertambah tahu dengan ilmu yang diperolehnya bahwa Tuhan itu menyuruh bersyukur, menyuruh khidmat dan taat lahir batin padaNya.
Dan Tuhan pun menyuruh dia supaya berhati-hati, jangan sampai kufur, jangan melakukan bermacam-macam maksiat, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menetapkan akan adanya ganjaran yang kekal kalau ia taat kepada-Nya, dan akan ada pula hukuman yang kekal kalau ia durhaka dan berpaling dari pada-Nya.
Pada saat ini, ia terdorong oleh pengetahuan yang dimilikinya dan oleh keyakinannya akan hal yang ghaib tadi, ia pun menyingsingkan lengan baju untuk berkhidmat, dan melakukan ibadah dengan sepenuh hatinya. Yaitu memperhambakan diri kepada yang memberi nikmat ini, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang ia cari-cari selama ini, sekarang sudah ia ketemukan.
Tetapi dia belum tahu bagai mana caranya beribadah?. Kini dia telah mengenal Tuhan, kemudian bagaimanakah cara beribadah kepadanya?. Apa yang diperlukan untuk berkhidmat kepada-Nya dengan lahir dan batin itu?.
Sesudah tamat ilmu tauhid sehingga ia tahu dan ma’rifat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka ia belajar ilmu Fikih Ibadah, bagaimana berwudhu, shalat, dsb. Baik yang fardhu maupun sunah beserta dengan syarat lahir bathinnya. Sesudah ia mendapatkan ilmu tentang yang fardhu, dengan segala persyaratan dan rukunnya, maka sekarang ia bangkit untuk benar-benar mulai melaksanakan ibadah dengan baik dan benar, dan mengerjakannya penuh semangat.
Akan tetapi, kemudian ia berfikir dan melihat, dan tiba-tiba ia insyaf bahwa ia banyak dosa, banyak kesalahan dan maksiat.
“Wah ! aku ini orang yang berdosa dalam kehidupanku yang sudah lalu”.
Memang manusia itu dengan pengetahuan yang datang karena digali, membuatnya menjadi insyaf dan mau beribadah, kemudian ia terus berfikir :
“Bagaimana aku beribadah, sedangkan aku masih melakukan dosa?. Bagaimana aku beribadah sambil melakukan kedurhakaa?. Betapa berat aku ini berlumura dengan kedurhakaan. Aku harus bertaubat dulu, membersihkan diri dari kemaksiatan, dan penuh penyesalan agar diampuni dosa-dosaku oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan membebaskanku dari belenggu dosa-dosa itu , supaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala, membersihkan diriku dari kotoran-kotoran dosa, setelah itu baru aku akan melaksanakan penghambaan yang terbaik dan berusaha selalu dekat dan bersujud sepenuh jiwa dan raga untuk menggapai keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta’ala” .

0 comments:

Posting Komentar

 

Kontak