Ternyata bisa kita lihat dan kita rasakan, banyak kesulitan untuk menempuh jalan kearah ini, karena begitulah sifatnya dan keadaannya, maka kamipun (Imam Al Ghazali-pent) berpikir dan merenungkan bagai mana cara menempuhnya, alat dan perlengkapan apa yang diperlukan si penempuhnya, dengan ilmu dan amal, semoga saja ia dapat menempuhnya dengan bantuan taufik Ilahi, dan dalam keadan selamat, tidak terhenti dalam tanjakan-tanjakannya (kesulitan dan perintangnya) sehingga patah disitu dan masuk golongan yang celaka binasa, na’uzubillah.
Itulah sebabnya maka
kami (Imam Al Ghazali-pent) berusaha menyusun beberapa kitab
tentang jalan kearah itu dan cara menempuhnya, seperti antara lain kitab Ihya
‘Ulumiddin, Al Qurbah dsb, akan tetapi, kitab-kitab tersebut banyak mengandung
soal-soal yang halus, dan mendalam sekali, sukar untuk dimengerti oleh
kebanyakan orang, sehingga akhirnya mereka benci dan mencela, mengecam apa saja
yang mereka belum paham dari maksud dan makna dalam kitab-kitab tersebut.
Namun kita tidak usah
heran, karena tak ada kitab yang lebih mulia dan lebih baik dari pada Al
Qur’an, tetapi kitab suci yang diturunkan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala
tersebut masih saja dicela oleh orang-orang yang tidak mau menerima, mereka
katakan isinya hanyalah dongengan-dongengan kuno belaka.
Zainal Abidin, Ali bin
Ali bin Abu Tholib r. a pernah berkata:
“diantara ilmu-ilmuku, jauhar (intisari/esensi)
mutu manikamnya ada yang harus kusembuyikan (jika tanpa penerangan dan
pengarahan), agar tiada terlihat orang yang tidak mampu (menangkapnya dan
memahaminya), karena akhirnya ia akan tersesat (dengan penafsiran yang salah
tanpa bertanya serta berguru kepada yang memahaminya). Hal ini memang telah
dipesankan oleh Abu Hasan (Ali bin Abi Thalib) kepada Husain dan Hasan. Karena
terkadang ada jauhar ilmu, jika dibukakan/disingkapkan tabirnya pasti
ada orang yang akan menuduh aku musyrik, dan menghalalkan jiwaku untuk dibunuh,
karena mereka mengira perbuatan keji itu adalah suatu amalan yang baik.”
Keadaan seperti itu
menuntut para ulama, agar kita memandang mereka dengan rasa belas kasihan,
penuh rasa kasih sayang dan tidak berbantah-bantahan. Karena itu, aku memohon
kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, supaya diberikan oleh-Nya taufik
(sesuatu yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa
Ta’ala yang mendorong seseorang itu untuk melakukan kebaikan secara
istiqomah karena sudah menjadi sifat yang ada pada dirinya) agar dapat
menyusun sebuah kitab yang cocok bagi mereka.
Permohonanku itu
diluluskan-Nya, diilhami-Nya sehingga dapat mengarang sebuah kitab dengan suatu
susunan yang indah, belum pernah kudapat dalam karangan-karanganku sebelumnya,
kitab baru itu kunamakan kitab Minhajul A’bidin yang kusajikan
sekarang ini.
Adapun hamba Alloh itu,
apabila mulai bangun dan ingat untuk beribadah, ia bertajarrud (totalitas
memberikan ruang seluas-luasnya untuk berkiprah) dengan membulatkan
hati menempuh jalan ibadah, mula-mula karena ada suatu lintasan dihatinya yang
suci. Dan itu adalah pemberian dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan taufik
yang khusus diberikan oleh-Nya, dan inilah yang dimaksud firman Allah :
أَفَمَنْ
شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإِْسْلاَمِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ [الزمر/22]
“apakah orang yang telah dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima Islam, lalu ia dikarunia Allah dengan suatu nur / cahaya kebenaran (apakah dia itu sama dengan orang-orang yang telah membatu hatinya?) (QS Az-Zumar (39) : 22)
Dan telah diisyaratkan pula hal tadi oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa Salam.
Beliau bersabda :
Beliau bersabda :
اِنَّ
النُّورَ اِذَا دَخَلَ اْلقَـلْبَ انْفَسَحَ وَ انْشَرَحَ
“ Sesungguhnya Nur (cahaya kebenaran dan petunjuk) itu apabila sudah masuk dihati manusia, menjadi lapang dan menjadi legalah hatinya.”
Disini ada yang
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam:
يَا
رَسُولَ االلهِ , هَلْ لِذَلِكَ مَنْ عَلاَ مَةِ يُعْرَ فُ بِهَا
“ Ya Rasulullah ! , apakah hal yang seperti itu tanda-tandanya bisa kita ketahui?”
Jawab beliau:
قَالَ
: اَلتَّجَافِى عَنْ دَارَ
اْلغُرُوْرِ وَ اْلاِنَابَةِ اِلَى دَارُ الْخُـلُـوْدِ وَ اْلاِسْتِـعْـدَادُ
لِلْمَوْتِ قَبْـلَ نُزُولِ اْلمَوْتِ
“ Bisa diketahui tanda-tandanya, yaitu menjauhkan diri (tidak hanyut oleh indahnya) negri kepalsuan (dunia) dan kembali ke negri kelanggengan (memprioritaskan amalan yang abadi untuk negeri akhirat) serta bersiap untuk mati sebelum mati.”
Apabila hal ini terlintas di hati seseorang maka mula-mula ia akan berkata (kepada dirinya) :
“Oh ! aku sadar
sekarang…… ternyata diriku ini dikaruniai dengan bermacam-macam kenikmatan oleh
Allah, seperti nikmat hidup, nikmat mempunyai sifat kudrat
(kekuasan/kemampuan
untuk bisa berbuat apap-apa), bisa berfikir, bisa bicara, dan hal
yang mulia lainnya, aku telah memperoleh kenikmatan, kesenangan, selamat
dari bermacam-maccam ujian dan musibah, banyak musibah yang dihindarkanNya
dariku dan aku tahu semua ini ada pemberinya yang menuntut supaya aku bersyukur
kepada-Nya, dan berkhidmat (berbakti/mengabdi) kepadaNya, dan
apabila aku lalai, lupa, tidak bersyukur dan tidak berkhidmat, pasti Dia
akan menghilangkan nikmat-Nya dan aku diberi hukuman dan balasan”.
“Dan Dia sudah
mengutus kepadaku seorang Rosul terakhir (namanya : Muhammad Shallallahu
'alaihi wa Salam) Dia mendukung rosul itu dan menguatkannya dengan mu’jizat
yang luar biasa, diluar kemampuan manusia. Rosul itu memberitakan kepadaku
bahwa aku hanya mempunyai satu Tuhan yang Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha
Mengetahui, Maha Hidup, Maha Berkehendak, Maha Berbicara, Maha Menyuruh, Maha
Melarang dan Maha Kuasa Menghukum apabila aku durhaka kepada-Nya dan Dia akan
mamberi ganjaran apabila aku taat kepada-Nya, Dia tahu segala rahasiaku, dan
tahu apa saja yang terlintas dipikiranku, dan Dia sudah menjanjikan sesuatu,
dan Dia telah memerintahkan agar aku taat pada hukum-hukum syari’at”.
Apabila seseorang sudah
berkata begitu dihatinya, diapun sadar bahwa ini bisa saja terjadi. Ia dengar
berita-berita dari Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam (melalui
ulama-ulama yang menyampaikan kepadanya) Ia berkata dihatinya : “ini
mungkin, tidak mustahil, tidak ada kemustahilan bagi yang demikian itu dalam
akal, sepintas lalu saja sudah bisa dimengerti“. Disini dia kuatir dan
takut tentang nasib dirinya. Ini namanya lintasan hati pembawa takut yang
membuat seseorang terjaga dan mengikatkan hujjah kepadanya.
Untuk memutuskan diri
darinya, tidak ada alasan lain. apalagi untuk menunda-nunda, sehingga mendorong
orang tersebut untuk berfikir keras mencari dalil dan bukti. Bergeraklah ia
ketika itu. Tidak lagi dengan diam dan bimbang. Tetapi berusaha dan mencari
jalan keselamatan, dan supaya merasa aman dari apa yang sudah masuk menyelinap
dihatinya. Atau dari apa yang sudah didengar oleh telinganya sendiri?.
Tidak ada jalan lain
lagi dihadapannya selain dengan otaknya yang sehat, memikirkan dan mencari
bukti. Mula-mula terhadap adanya buatan yang menunjukan adanya si pembuat,
adanya alam semesta, ini juga buatan, yang menunjukan adanya si pembuat, yaitu
Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini dilakukan supaya muncul untuknya ilmu
yang meyakinkan dan tidak syak wasyangka lagi akan hal-hal yang ghaib. Benar,
Allah itu tidak dapat dilihat, tetapi bukti akan perbuatannya, yaitu alam
semesta yang indah dan unik, yang menandakan adanya Allah Subhanahu Wa
Ta’ala.











0 comments:
Posting Komentar