
Edisi N0: (18 ) 19
Desember 2016 M/ 19 Rabi’ul Awwal -1436 H
Amalan
sunnah di dalam sholat
Yaitu ucapan dan gerakan, yang
apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak berdosa, dan
bila lupa tidak wajib sujd sahwi, serta bagi yang meninggalkannya secara
sengaja, tidak sampai merusak sholatnya
Dalam hal ini menurut Imam
Syafi’i, sunnah dibagi menjadi 2 :
1.
Sunnah Ab-‘adl = yang apabila
ditinggalkan, maka wajib sujud sahwi
2.
Sunnah Hai-aat = yang apabila
ditinggalkan, maka tidak wajib sujud sahwi
Sunnah
ab’adl seperti : Tahiyyat awal, duduk saat tahiyyat, membaca
sholawat, menambah shalawat lengkap pada tahiyyat akhir, qunut dalam sholat
Subuh, witir pada pertengahan akhir Ramadhan, berdiri saat membaca qunut,
membaca sholawat lengkap pada qunut.
Sunnah Hai-aat seperti membaca tasbih 3 kali dan lainnya sejumlah 40 jenis.
èPenjelasan sunnah sholat
1.
Mengangkat tangan saat takbiratul ihram = menurut Imam Syafi’i mengangkat sebatas pundak
حديث
ابن عمر رضي الله عنهما: أنه (ص) كان يرفع
يديه حذو منكبيه إذا افتتح الصلاة (متفق عليه )
Mengangkat tangan
saat mengucap takbir, dan berakhir ketika takbir selesai. Dan posisi jemarinya
terpencar atau tidak dempet.serta telapak tangan menghadap kiblat.
منها
الحديث المتفق عليه عن ابن عمر قال: كان
النبي (ص) إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى يكونا بحذو منكبيه، ثم يكبّر، فإذا
أدرا أن يركع، رفعهما مثل ذلك، وإذا رفع رأسه من الركوع، رفعهما كذلك أيضاً، وقال:
سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد
(3) Ketika
berdiri setelah tahiyyat awal
2. Mengikuti takbir imam
3.
Meletakkan telapak tangan
kanan di atas pergelangan tangan kiri, letaknya adalah di bawah dada dan di atas pusar, agak condong ke kiri
tepat pada posisi hati.
4.
Memandang lurus ke tempat sujud, dan memandang ke jari
telunjuk saat tasyahhud / tahiyyat.
5.
Membaca do’a iftitah yang dibaca setelah takbirotul ihrom pada rakaat
pertama.
الله
أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله وبحمده بكرة وأصيلا
إنّى
وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفاً مسلماً، وما أنا من المشركين، إن صلاتي
ونسكي، ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لا شريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين
Ini adalah ayat qur’an dengan perubahan pada akhir kalimat,
dimana di dalam Qur’an disebutkan wa ana awwalul muslimin, namun diganti
dengan : wa ana minal muslimin, sebagaimana disebutkan dalan hadits
Ahmad, Muslim dan Tirmidzi, ditash-hih oleh Ali bin Abu Tholib ( Fiqih Islamy :
876 )
Bacaan iftitah ini dilakukan dalam
: shalat fardlu atau sunnah, sendiri atau jama’ah, dengan syarat 5 perkara :
(1) Tidak dalam sholat jenazah, (2) tidak kehilangan rakaat dengan membacanya,
(3) Tidak kehilangan bacaan Fatihah (4) bagi makmum masbuq, bukan saat imam
selain berdiri, dan kalau ketemu pada saat imam tahiyyat, maka sunnah
membacanya pada rakaat berikut (5) tidak ketinggalan ta’awudz atau bacaan
6.
Membaca ta’awudz sebelum bacaan dalam shalat, dalam
setiap rakaat sebelum membaca Fatihah, lalu diikuti dengan basmalah secara jahar (
dikeraskan )
(8) Membaca “
amiin “ , setelah
selesai bacaan Fatihah pada shalat jahar.
(9)
Merenggangkan kaki, antara kedua kaki sekitar sejengkal, dan makruh menyatukan
kedua kaki karena mengurangi kekhusu’an ( menurut Imam Syafi’i)
(10 ) Membaca
surah setelah Fatihah, tidak membaca surah bagi makmum dalam shalat jahar,
sedangkan dalam shalat sirri tetap membaca.
(11) Takbir
dengan mengangkat tangan saat akan ruku’, i’tidal ( akan sujud) dan saat
berdiri setelah tahiyyat awal.
(12) Membaca
tasmi’ saat i’tidal :
سمع الله لمن حمده، ربنا لك الحمد
ملء السموات والأرض، وملء ما شئت من شيء
بعد
(13) Meletakkan lutut, lalu
kedua telapak tangan dan wajah dalam proses sujud, dan saat berdiri sperti itu
sebaliknya ( mengankat wajah, tangan lalu lutut )
(14) Bersujud dengan benar , bagi pria merenggangkan
lutut dan siku tangan dengan jemari menghadap kiblat, sedangkan wanita
merapatkannya ( lutut dan siku ke badan ), membaca :
سبحان ربي الأعلىوبحمده
Boleh ditambah dengan :
سبوح قدوس رب الملائكة والروح، اللهم لك
سجدت، وبك آمنت، ولك أسلمت، سجد وجهي للذي خلقه وصوره، وشق سمعه وبصره، تبارك الله
أحسن الخالقين
(15) Duduk
diantara dua sujud, bertumpu pada telapak kaki kiri, sedangkan kaki kanan
ditegakkan dengan jemari menghadap kiblat, meletakkan kedua tangan di atas
kedua paha denga arah jemari tangan sejajar dengan paha , sunnah
bertumpu pada kedua telapak tangan
ketika bangun dari sujud akan berdiri atau akan duduk.
(16) Doa saat duduk diantara dua sujud
رب اغفر لي وارحمني، واجبرني، وارفعني، وارزقني،
واهدني، وعافني
(17) Duduk iftirosy saat tahiyyat
awal, dan twarruk saat tahiyyat akhir, tidak ikut tawarruk bagi makmum
masbuq dan ketika ada yang lupa ( dan dilanjutkan dengan sujud sahwi )
(18) Meletakkan kedua telapak
tanga diatas paha ( saat tahiyyat ),dan mengangkat jari telunjuk ketika ”
tsyahhud ” atau membaca syahadat., dengan mata memandang ke jari telunjuk
tersebut, tanpa menggerakkan (
tahrik )
(19) Membaca surah Fatihah pada
rakaat ketiga dan keempat dalam shalat fardlu
(20 ) Membaca sholawat dan para
kerabat pada tahiyyat akhir, Menurut Imam Syafi’i, membaca sholawat atas Nabi saw, hukumnya wajib,
sedangkan kepada keluarga/.kerabat hukumnya sunnah ( sampai Hamiidum-majiid
), demikian juga bersholawat kepada nabi Ibrahim( sholawat Ibrohimiyyah
), dan lengkapnya bacaan :
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا
محمد، كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد
وعلى آل محمد، كما باركت على سيدنا إبراهيم، وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين،
إنك حميد مجيد
(21) Berdoa setelah shalawat,
اللَّهُمَّ
إِنيِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ
اْلمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
(22)Menoleh ke kanan dan ke
kiri ketika salam, tetap
menghadap kiblat saat membaca ” assalamu’alaikum” dan menoleh saat melanjutkan
kalimat salam, salam ke kanan hukumnya wajib, dan yag kedua sunnah.
(23) Disunnahkan untuk khusyu’ dan tadabbur ayat dan dzikir ( bacaan dalam sholat ), dan konsentrasi kepada sholat serta mengosongkan hati dari kesibukan hal-hal yang bersifat duniawi, karena dapat memudahkan untuk khudlu’ dan khusyu’. Oleh sebab itu imam Syafi’i menjabarkannya dalam “ Adab Sholat “
(23) Disunnahkan untuk khusyu’ dan tadabbur ayat dan dzikir ( bacaan dalam sholat ), dan konsentrasi kepada sholat serta mengosongkan hati dari kesibukan hal-hal yang bersifat duniawi, karena dapat memudahkan untuk khudlu’ dan khusyu’. Oleh sebab itu imam Syafi’i menjabarkannya dalam “ Adab Sholat “
Demikian semoga menjadi ilmu yang maslahat dunia dan akherat. Amiiin
Wallohu a'lam bish-showab.











0 comments:
Posting Komentar