Jumat, Desember 28, 2018

Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 1



1. DUA HAL YANG SANGAT UTAMA

Nabi S.A.W bersabda:
"Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh yang lain, yaitu:
1. Iman kepada Allah dan
2. Memberi manfaat kepada sesama muslim."

Memberi manfaat kepada sesama muslim bisa dengan ucapan, kekuasaan, harta benda, maupun tenaga.

Dalam Hadist lain Rasulullah S.A.W bersabda:

"Barang siapa berada pada pagi hari tanpa bermaksud menzalimi seorang pun, maka dosa-dosanya diampuni. Barang siapa berada pada pagi hari dan berniat menolong orang yang teraniaya serta memenuhi keperluan orang Islam, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji mabrur."
 "Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling utama adalah menyenangkan hati orang mukmin dengan cara menghilangkan kelaparan dan kesusahan atau melunasi hutangnya. Ada dua perkara yang sangat kotor dan keji, yaitu: menyekutukan Allah dan menimbulkan kemadharatan bagi kaum muslim."
  
2. DUA PERINTAH NABI AGAR BERGAUL DENGAN ULAMA
Nabi S.A.W bersabda: 
"Hendaknya kalian duduk bersama ulama dan mendengarkan perkataan hukama' (orang bijak), karena sesungguhnya Allah ta'ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan."

Dari riwayat Thabarani dari Abu Hanifah disebutkan:
"Duduklah bersama kubara' (ulama besar) dan bertanyalah kepada para ulama serta bergaullah dengan para hukama' (orang bijak)."

Dalam riwayat lain dikatakan: 
"Duduklah bersama ulama dan bergaullah dengan para hukama' serta akrabilah kubara'."

Pada dasarnya ulama itu terbagi menjadi tiga kelompok:
1. Ulama yang sangat menguasai dan memahami hukum-hukum Allah.
Ulama seperti itu disebut dengan ash-habul fatwa, yaitu ulama yang banyak mengeluarkan fatwa.

2. Ulama yang sangat dalam kemampuan tentang ma'rifat kepada dzat Allah
Ulama seperti itu disebut dengan hukama'. Golongan ulama seperti ini senantiasa menitikberatkan pada upaya memperbaiki tingkah laku dan akhlaq, baik untuk diri sendiri maupun umatnya. Demikian itu karena hati mereka selalu tersinari dengan ma'rifatullah dan jiwa mereka selalu terseinari dengan cahaya keagungan Allah.

3. Ulama-ulama besar yang disebut dengan al-kubara'.
Ulama seperti ini senantiasa malakukan hal-hal yang terpuji untuk kepentingan mahluk Allah, terutama ahli ibadah. Lirikannya lebih memberi manfaat daripada ucapannya. Barang siapa yang lirikannya memberi manfaat kepada Anda, maka tentu bermanfaatlah ucapannya. Begitu pula sebaliknya, barang siapa yang lirikannya tidak memberi manfaat kepada Anda, maka ucapannya pun tidak akan memberi manfaat.

Disebutkan dalam suatu kisah bahwa Imam Suhrawardi pernah mengelilingi sebagian masjid Khaif di daerah Mina. Ia memandangi wajah para hadirin yang ada satu per satu. Ketika ditayakan tentang sikapnya itu ia menjawab: "Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang tertentu yang jika seseorang memandang mereka, mereka dapat memberikan kebahagiaan kepadanya, dan aku sekarang sedang mencarinya."

Rasulullah S.A.W bersabda: 
"Akan datang suatu masa kepada umatku di mana mereka lari dari para ulama dan fuqaha', maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu: 1. Allah menghilangkan berkah dan rizki mereka. 2. Allah menjadikan penguasa yang zhalim untuk mereka; dan 3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman."

















0 comments:

Posting Komentar

 

Kontak