Jumat, Januari 11, 2019

Nasehat para hamba ( Nashoihul Ibad ) - 4


Pertemuan ke 4 ( 14 Desember  2018 / 06  Rabiuts Tsani 1440 H


16. DUA NASEHAT TENTANG NAFSU DAN SABAR
Dikatakan bahwa:
1. "Nafsu dapat menyebabkan penguasa menjadi budak;
2. Sabar bisa menyebabkan budak menjadi raja

Tidakkah engkau mengetahui tentang cerita Nabi yusuf dan Zulaikha?"
Nabi Yusuf adalah putra Nabi Ya'qub yang sangat sabar. Nabi Ya'qub adalah putra Nabi Ishaq yang sangat ramah, sedangkan Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim, kekasih Allah.


`17. DUA PENGENDALIAN AKAL
Ada yang mengatakan:
1. "Berbahagialah orang yang dapat menjadikan akalnya sebagai raja, sedangkan nafsunya dijadikan tawanan.
2. Celakalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai raja, sedangkan akalnya dijadikan tawanan".

Berbahagialah seseorang yang akal sehatnya dapat mengendalikan dorongan nafsunya. Celakalah orang yang akalnya terbelenggu dan dikendalikan oleh nafsunya.


18. DUA KEUNTUNGAN MENJAUHI KEHARAMAN 
Dikatakan:
1. "Barang siapa menginggalkan dosa, maka hatinya menjadi lembut.
2. Barang siapa meninggalkan perkara yang haram serta memakan hanya yang halal, maka akal pikirannya menjadi jernih."


19. DUA WAHYU ALLAH KEPADA NABINYA
Sebagian para Nabi telah diberi wahlu kepada Allah:
1. "Taatlah engkau kepada-Ku dalam segala hal yang Aku perintahkan kepadamu.
2. Janganlah engkau mendurhakai Aku dalam semua hal yang telah Aku perintahkan kepadamu.


20. DUA KESEMPURNAAN AKAL
Bukti kesempurnaan akal adalah:
1. "Mengikuti keridhaan Allah ta'ala; dan
2. Menjauhi segala yang dimurkai Allah."


21. DUA PERBEDAAN YANG BERILMU DAN YANG BODOH
Dikatakan:
1. "Orang yang berpengetahuan tidak akan merasa asing dimana pun ia berada.
2. Orang yang tidak berpengetahuan akan merasa terasing dimana pun ia berada."

Orang yang berilmu dan beramal shalih akan selalu dihormati dan dimuliakan orang dimana saja ia berada. Sebaliknya, keberadaan orang bodoh dimana saja tetap tidak dihiraukan orang dan selalu akan mengalami kesulitan.


22. DUA CIRI ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH
Dikatatan: "Barang siapa yang taat kepada Allah,
1. Akan dekat kepada Allah; dan
2. Asing diantara manusia."

Maksudnya, barang siapa yang telah merasakan nikmat dengan menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah, maka ia akan merasa asing dari pergaulan manusia pada umumnya. 


23. DUA AKTIVITAS INTI
Dikatakan:
1. "Aktivitas ketaatan adalah bukti nyata mengenal Allah
2. Aktivitas gerakan tubuh adalah pertanda kehidupan."


24. DUA SUMBER DOSA DAN FITNAH
Rasulullah S.A.W pernah bersabda:
1. "Sumber segala dosa adalah cinta dunia; dan 
2. Sumber segala fitnah adalah tidak mau membayar 1/10 harta (zakat pertanian) dan tidak akan membayar zakat (pada umumnya)."


25. DUA PENGAKUAN KELEMAHAN DIRI
Dikatakan:
1. "Orang yang selalu mengakui kelemahan dirinya dalam ketaatan adalah terpuji; dan
2. Mengakui kelemahan diri (dalam beramal) adalah tanda diterimanya amal."

Selalu mengakui bahwa dirinya kurang dalam beramal shalih merupakan suatu tanda bahwa dirinya terhindar dari penyakit ujub dan takabbur.


26. DUA PERBUATAN TERCELA
Dikatakan:
1. "Kufur nikmat adalah perbuatan tercela;
2. Menemani orang yang tolol adalah perbuatan sia-sia belaka."

Rasulullah S.A.W perah bersabda:
"Putuskanlah persahabatan dengan orang yang tolol." (HR. Thabarani dari Basyir)

Maksudnya, janganlah berteman dengan orang tolol, karena dikhawatirkan akan menularkan ketololannya kepada Anda.

Rasulullah S.A.W juga bersabda:
"Ada dua perkara, barang siapa memiliki keduanya, maka Allah akan mencatat dia sebagai orang yang bersyukur dan penyabar; dan barang siapa yang tidak memiliki kedua perkara tersebut, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan tidak pula sebagai penyabar, yaitu:

1. Orang yang dalam urusan agamanya melihat kepada orang yang lebih tinggi daripadanya, lalu dia mengikutinya; sedangkan dalam urusan dunianya dia melihat kepada orang yang lebih rendah daripadanya, lalu dia memuji Allah atas karunia yang telah diberikan kepadanya, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan penyabar.

2. Orang yang dalam urusan agamanya melihat kepada orang yang lebih rendah, sedangkan dalam urusan dunianya melihat kepada orang yang lebih tinggi, lalu ia menyesali apa yang tidak dia capai, maka Allah tidak mencatat dirinya sebagai orang yang bersyukur dan penyabar." (HR. Tirmidzi dari Ibnu 'Amr)


0 comments:

Posting Komentar

 

Kontak