Pertemuan ke 5 ( 11
Januari 2019 / 05 Jumadal Ula 1440 H
27.
DUA KERUGIAN AKIBAT MENYIBUKKAN DIRI DENGAN DUNIAWI
Seorang penyair berkata:
Wahai orang yang sibuk dengan dunia sesungguhnya ia
telah tertipu oleh panjangnya angan-angan Atau selalu berada dalam
kelalaian hingga ajal mendekatinya
Kematian itu datang tanpa pemberitahuan
Balasan amal perbuatan menanti di alam kubur
Bersabarlah dalam menghadapi kesusahan dunia
sebab tiada kematian kecuali jika ajalnya
Rasulullah S.A.W bersabda:
"Menjauhi
kesenangan dunia lebih pahit rasanya daripada pahitnya bratawali dan lebih
menyakitkan daripada sabetan pedang di medan peperangan. Tiada seorang pun
yang menjauhinya, melainkan dianugerahi oleh Allah pahala yang sama
seperti yang diberikan-Nya kepada para syuhada. Cara menjauhi kesenangan
duniawi adalah dengan sedikit makan dan tidak terlalu kenyang serta tidak suka
dipuji orang. Barang siapa yang suka dipuji orang, berarti dia menyukai dunia
dan kesenangannya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin meraih kesenangan
yang hakiki hendaknya menjauhi keduniawian dan pujian orang lain." (HR.
Dailami).
"Barang siapa yang
menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan membuat baik semua
urusannya, menjadikan kekayaannya ada di hatinya, dan dunia akan datang
kepadanya dengan mudah. Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya,
maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran ada didepan
matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali sebatas yang telah
ditentukan."
28. DUA KIDUNG PENAWAR
KALBU (TOMBO ATI)
1. "Ya Allah, aku ingin
mengerjakan semua kebaikan, tapi apa daya tangan tak sampai.
2. Maafkanlah segala kekuranganku.
Engkau Maha tidak memerlukan dari menyiksaku.
Karena semua dosa-dosaku tidak
merugikan-Mu, begitu pula semua ketaatanku tidak menguntungkan-Mu."
Berikut ini adalah bait-bait syair
yang telah diijazahkan kepadaku oleh salah seorang ulama terkemuka untuk dibaca
tujuh kali usai Sholat Jum'at, yang artinya sebagai berikut:
اِلَهِيْ
لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً ☆ وَلاَ
أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ
فَهَبْ
لِي تَوْبَةًً ًوَاغْفِرْ ذُنُوْبِي☆ فَإِنَّكَ
غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
"Ya
Tuhanku, tak layak bagiku menghuni surga Firdaus-Mu
namun
aku tak kuat bila menempati neraka Jahim.
Maafkanlah
semua kesalahanku dan ampunilah semua dosaku
karena
hanya Engkaulah yang mengampuni dosa-dosa yang besar.
Perlakukanlah
daku dengan perlakuan yang terhormat
dan
kokohkanlah keyakinanku pada jalan yang benar."
Diceritakan bahwa pada suatu hari
Abu Bakar Asy-Syibli datang kepada Ibnu Mujahid. Tiba-tiba Ibnu Mujahid
merangkulnya, lalu mencium keningnya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang
sambutannya kepada Asy-Syibli itu, ia menjawab: "Aku telah bermimpi
melihat Rasulullah S.A.W mencium Abu Bakar Asy-Syibli, lalu aku bertanya kepada
Rasulullah S.A.W, mengapa engkau berbuat demikian kepada Asy-Syibli? Beliau
menjawab: 'Karena,
tidaklah ia mengerjakan shalat
fardhu, melainkan dia membaca dua ayat berikut ini sesudahnya:
لَـقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِكُمۡ عَزِيۡزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيۡصٌ عَلَيۡكُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِيۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِيۡمٌ
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ
تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Artinya : “ Sesunggunya
telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat
terasa olehnya penderitaan kalian: dan dia sangat menginginkan (keselamata dan
keimanan) bagi kalian dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanannya), maka
katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku; tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya
aku bertawakkal; dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung." (QS. At-Taubah (9): 128-129)
Sesudah itu membaca shalawat berikut
untukku, yaitu: 'Shollallohu 'alaika ya Muhammad.' (Semoga Allah melimpahkan
shalawat-Nya kepadamu, wahai Muhammad). Selanjutnya, aku menanyakan kepada
Asy-Syibli bacaan yang dia ucapkan sesudah shalatnya, maka ia menyebutkan hal
yang semisalnya."
Nama asli Abu Bakar Asy-Syibli
adalah Dalaf bin Jahdar Al-Baghdadi. Ia seorang tokoh ahli ma'rifat dan hidup
pada masa Syekh Junaid dan masa madzhab Maliki. Ia meninggal pada tahun 334
Hijriyah dalam usia 87 tahun dan dimakamkan di Baghdad.












0 comments:
Posting Komentar